Life is a bitch … so why so serious ?


single and very happy

Bingung mo nulis topik apa di blog saya tercinta ini. Padahal ratingnya udah mulai naik lho, sejak saya tampilkan dimana saja yang menjadi siggy pribadi saya dan sejak seorang promotor yang baik hati memperkenalkannya di sebuah millis. Thanks a lot, I really mean it. Mo nulis soal pelecehan seksual. Kok ntar blog saya malah isinya pelecehan. Mau cerita soal pria gagah yang dengan suksesnya senyum cengengesan di busway sementara seorang wanita dengan bawaan super berat menahan beban berdiri dan bergelantungan di busway, kesannya cliché banget. Alias udah basi. Setiap hari ada sekitar 938.743 kasus serupa terjadi di Jakarta. Sebenarnya gak segitu sih, saya cuma pengen bilang udah sering banget.

Walaupun saya tidak dalam status single, tapi lama kelamaan dipikir ternyata hidup single itu tidak selamanya buruk lho, malah terkadang saya pikir ada enaknya juga. Menjadi seorang wanita single di kota metropolitan ini banyak keuntungannya. Tidak percaya, mari perhatikan ”advantages of being single in this rocking town”.

  • Anda bisa dengan bebas memberikan nomor telepon anda kepada pria single mana pun. Itu artinya bisa ngecengin sebanyak mungkin pria tanpa perlu merasa takut akan ketangkap basah oleh siapa pun. Single gitu lho … so what ?
  • Bisa pergi dengan pria single mana pun. Mau sekedar nongkrong gak jelas di café atau restoran cepat saji 24 jam juga tidak akan ada yang keberatan. Tidak perlu jaim dan tidak perlu merasa ada yang kurang.
  • Lebih bisa menjadi diri sendiri. Inget lho life too short for being somebody else. Be yourself ajah, even if you’re nobody.  Sebenarnya ini sih bukan hal umum, tapi berdasarkan kacamata pengamatan seorang saya pribadi. Bukan sekali atau dua kali saja saya menemui teman wanita saya menjadi gatot kaca alias berubah setelah mereka berpacaran. Jika berubah kearah positif sih, saya gak masalahin. Yang ada malah kadang dia mendadak seperti penasehat, menjadi pendiam di depan saya seperti lidahnya digigit kucing dan bahkan sangat susah sekali diajak jalan. Menanggapi beginian sih saya hanya berdoa semoga hubungannya dengan pacarnya langgeng. Kalo balik lagi ke hidup single, saya tidak yakin dia akan memiliki teman masa-single-dulu kembali.
  • Lebih banyak waktu untuk melakukan hobi sendiri.Cerita soal hobi yang mendadak berubah setelah pacaran itu bukan isapan jempol belaka. Saya pernah memiliki seorang teman yang mendadak jadi  tahu soal motor gede setelah pacaran dengan seorang pencinta motor gede. Padahal setau saya sih dulu, dia lebih senang menonton dan baca. Tetapi sekarang, kalau ada saja waktu luang. Sudah bisa dipastikan dia ada di bengkel bersama sang kekasihnya. Jadi selama single, lakukan hobi sepanjang yang dimau. Gak jarang lho hobi malah jadi hoki alias mendatangkan uang.
  • Fashion ? why not …Dengan hidup single, maka kita bisa memakai baju yang disuka. Walo ini gak umum sifatnya, tapi bukan juga berarti gak pernah. Sebut saja nama temen saya ini Anita. Dulu dia itu berpakaian sih casual dan yang menurut dia nyaman. Belakangan sejak pacaran dengan Bayu, dia mendadak saya liat menjadi seperti tante-tante dandanannya. Usut punya usut, tepatnya setelah saya tanya dia. Dia bilang bahwa Bayu akan sangat menyayangi dia jika berpenampilan barongsay seperti itu. Bahkan saya pernah lihat dengan mata kepala saya sendiri kalau ternyata Bayu bahkan mendikte Anita bagaimana berpakaian yang baik. Padahal setau saya Bayu itu bukan fashion editor atau stylist. Oh Tuhan ! Bayu mau pacaran ama Anita atau ama bajunya ?. Tanya aja deh ke dia … hahahah …
  • Nah point ini mengingatkan saya pada percakapan antara seorang project manager dengan seorang consultant lain di kantor saya. Karena kebetulan perusahaan tempat saya bekerja sekarang lagi baik banget perkembangannya, udah pasti donk ekspansi ke daerah-daerah lain. Guess what, salah satunya adalah Bali. Dari cara PM itu cerita, sepertinya bekerja di bali dengan gaji Jakarta belum lagi tunjangan kerja-luar-kota plus tiket pesawat PP dua kali dalam setahun itu jadi menarik. Sayangnya, bukan saya yang ditawari. Kembali ke masalah negosiasi, temen saya ini sebut saja namanya Bobby sepertinya rada berat untuk menerima tawaran itu. Bukan karena Bali itu tidak menarik bagi dia, tapi  dia dan pacarnya tidak bisa tinggal berjauhan. Hahaha … alasan romansa, alasan klasik tapi masih tetap punya pengaruh kuat.

Tulisan ini bukan berarti saya menjunjung tinggi nilai kemandirian dan betapa inginnya saya menjadi seorang single terus. Bukan donk. Siapa orang yang mau sendirian sampai akhir hayat ? hahaha … pepatah yang ada itu everyone, sometimes, needs to be alone but no one wants to be lonely. Syukurnya pacar saya sekarang bukan tipe yang terlalu banyak mendikte dan atur sana-sini. Dia memberikan saya kebebasan melakukan apa saja selama masih dalam lingkaran yang acceptable. Dia benar-benar seorang sahabat yang baik.


ceritaku di “busway”

Transjakarta …

Kalo ngaku orang jakarta, udah pasti tau dengan mass-”rapid”- transportation. Saya kadang suka gak ngeh dimana letaknya rapidnya. Dari kamus yang English – Indonesia yang saya dapatkan

rapid : kb. rapids riam, aliran deras, penderasan (in a river). -ks. cepat, laju. rapid-fire, rapid-firing ks. secara cepat. -rapidly kk. dengan cepat.

Intinya secara etimologi (cieee .. jarang2 gue bisa serius begini) berarti bisa disimpulkan donk klo transjakarta busway itu adalah transportasi publik yang cepet. Walo faktanya, dia cepet kalo emang lalu lintas gak macet doang. Belum lagi antriannya yang panjang mengalahkan saat Syekh Puji bagi-bagi angpao pas lebaran.

Oh gosh !. sebenarnya yang pengen saya bahas sih bukan busway secara umum, Cuma bagi kita kaum hawa kadang perlu sedikit berhati-hati saat menggunakan transportasi ini. Kalo copet sih saya yakin tidak akan berkutik, gak usah nunggu sampe sehari. Ketemu halte berikutnya juga udah pasti copetnya ketemu. Masalah yg paling sering itu adalah public abuse yang menyerempet kea rah seksual.

Salah satu fakta mengejutkan tentang diri saya adalah bahwa beberapa kali saya berantem dengan orang di halte busway ataupun di dalam busnya itu sendiri. Dan tentu saja secara umum lawan saya adalah pria hidung belang tak bermodal yang melampiaskan setengah napsu bejatnya di depan umum, yang kedua adalah manusia maruk yaitu saat penumpang lain ingin turun maka golongan ini akan dengan teramat sangat gagah di pintu depan bergelantung dan tentu saja menghalangi orang yang mau turun atau naik, dan ketiga adalah manusia yang suka dorong mendorong padahal saya yang di depan saja belum masuk ke dalam bus, mau gimana lagi dengan dia yang jelas-jelas ada di belakang saya posisinya. Susah menerapkan prinsip antri dan tenang di negeri ini. Syukurnya belum ada record manusia mati keinjek di halte busway.

Yang pengen saya curhat itu adalah tipe manusia pertama. Awalnya sih saya gak ngeh kalo itu adalah public abuse sampai saya melihat seorang pria sedikit merem melek di halte busway saat “anu”-nya nyantol di belakang seorang wanita. Kasihan sekali wanita itu tidak menyadari, yang saya yakin bukan karena dia keenakan, tapi suasana sempit gitu bikin dia mengalihkan pikiran ke arah kapan bus akan dating daripada “si pemerkosa” yang ada di belakangnya. Sejak melihat itu, saya jadi sedikit parno kalo ada cowok-cowok yang berdiri rada nempel ke badan saya.

Pernah suatu kali saya sedang mengantri di halte Dukuh Atas, Thanks GOD waktu itu saya lagi tenteng dua tas. Satu tas adalah ladies bag yang berisi sesajen resmi ke kantor saya, ada dompet, hape, buku, bolpoin dan macem-macem. Tas lainnya adalah tas laptop yang isinya pasti laptop donk … emang korsi ? *hahahaha ~ …. Karena jumlahnya yang sangat banyak, maka petugas busway membatasi jumlah penumpang yang masuk. Termasuklah saya dari manusia tidak beruntung itu. Ntah kenapa disituasi yang tidak menguntungkan itu, saya merasa ada “tonjolan aneh” di pinggang saya. Sudah gak dapet bus, dapet paket sial lagi di belakang.

Dengan amarah yang sedikit di tahan saya lihat manusia itu ke belakang dan ngomong ke dia

“mas … tolong kasih jarak donk. Busnya juga belum dateng “ …

Dia jawab “iya mbak… “ tanpa mengurangi jarak itu.

Sialan, saya pikir dalam hati

“mas … tadi saya minta tolong gak ngerti jg ya ? tolong geser ke belakang, jangan nempel ‘itu’nya di punggung saya. Mau cari kesempatan ya ?”

Saya mengucapkannya dengan suara naek ½ oktaf dengan satu tujuan pasti, biar semua orang di busway tau ternyata ada manusia murahan yang mo mesum dengan mengeluarkan duit 3500 perak.Buru-buru tas laptop tenteng itu saya bikin di belakang saya, menutupi daerah bokong dan sekitarnya

Yang dimarah-marahin malah cengengesan dan jaga jarak. Oh Tuhan ! kenapa ada manusia begini yang saya temui di saat bayangan kasur yang empuk dan istirahat yang tenang malah muncul.

Dalam kenyataannya, saya bukan seorang gadis yang cantik, menarik, seksi dan bahenol yang memancing reaksi pria seperti itu. Seperti yang saya bilang di kolom About Me, saya bukan tipe wanita yang membuat pria tanpa tekanan akan memandang takjub dua kali pada saya jika kebetulan berpapasan dengan saya di perempatan jalan. Banyak wanita yang mungkin pernah mengalami kasus seperti saya. Saya hanya mohon anda semua, berhati-hatilah. Seperti pesan bang napi :

“Kejahatan itu bukan hanya karena ada niat pelaku, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah !”


take me out ~

Percaya atau enggak acara tv berbasis reality show itu udah pasti menjadi acara wajib yang ditawarkan oleh sebuah stasiun tv swasta di indonesia biar bisa tetep eksis. Gak percaya ? Lihat aja kenyataan yang ada. Mulai dari termehek-mehek, jika aku menjadi, bedah rumah, masihkah kau mencintaiku, playboy kabel, cinta lama bersemi kembali, mak comblang dan taaa daaa … yang terakhir Take Me Out.

take-me-out-indonesia

Walaupun ide acara ini jiplakan, alias bukan orisinil mereka yang punya ide dan bikin (FYI : yg punya lisence nya adalah fremantle media), tapi toh acara ini sanggup menyedot banyak penonton. Gak heran lho, klo acara ini sering jadi topik di kalangan orang-orang mulai dari anak sekolah, orang kantoran sampe ibu2 juga. Saya inget pengalaman saya ketika ngantri mie tarik laiker di Grand Indonesia kira2 2 bulan yang lalu. Sedikit intermezzo, bagi saya jumat adalah lunch day out artinya saya dan beberapa temen kantor maupun eks kantor lama memutuskan tidak membawa bekal makan siang kami dan memilih makan siang di foodcourt salah satu pusat perbelanjaan di jakarta. Biasanya sih GI menjadi tujuan utama karena alasan jarak yang dekat dengan kantor saya.

Kembali ke laiker dan take him out

“eh .. ternyata ya wijaya itu udah putus lho ama si Jessie. Aslinya mereka baru 2 minggu pacaran, ya  pokoknya sejak waktu dari take me out gitu deh”

*red : wijaya itu pasangan kembar yang pernah mengikuti acara take him out dan pulang dengan masing-masing pasangan sejenis yaitu single parent*

Temennya yang lain dengan nada cukup heran bertanya

“lho … kenapa ? kayaknya mereka keliatan mesra deh, malah setau gue itu cewe ngebet banget pengen pacaran ama wijaya”

“ya gitu de, itu cewe ternyata player. alias cowoknya banyak”

Dalam hati saya mengeluh “GUBRAK”. Saya kebetulan menyaksikan episode ini dan tanpa bisa ditahan nanya ke orang tersebut.

“Lho mbak kenal ama wijaya itu ya?”

dia ngejawab dengan lagak seperti orang awam mengenal Nicholas Saputra

“oiya mbak … dia temen sekantor saya. Dia malah yang ngaku kalau mereka sudah putus”.

Saya pribadi, di awal kemunculan acara ini cukup terhibur dibandingkan acara sinetron yang menggambarkan cinta, penindasan, orang baik yang bodoh dan membiarkan dirinya teraniaya dan peran antagonis yang digambarkan dengan wanita berwajah bengis, make up tebal dan tak ketinggalan mata melotot yang cukup memaksa balita menangis sejadi-jadinya saat melihatnya.

Tapi lama-kelamaan saya merasa acara ini sama aja dengan yang lain. Terkadang intrik yang terlalu dibuat-buat. I know a reality show won’t be succeed until there’s a conflict. yang kadang menurut saya itu terlalu scripted. Lain lagi dengan peserta acara yang menurut saya kadang terlalu lebay dan aneh. Seriously, kalo mungkin kita perhatikan di akhir acara kan dijelaskan kalo yang pengen jadi peserta itu wanita single dan tidak terlibat pernikahan berumur 20-40. single dan tidak terlibat pernikahan itu bisa jadi wanita single yang sama sekali tidak pernah menikah atau mereka yang sudah menjadi janda. Baik janda tanpa paket atau dengan paket (single parent). Sebenarnya sih saya gak bahas soal status pure-single atau janda. hahahaha ~~~

Yang lama-lama bikin saya sedikit gedek itu, gak jarang para wanita itu terlalu menyudutkan kaum pria jika merasa kurang cocok dengan alasan yang sumpah saya yakin sejuta persen terlalu dibuat-buat. Saya lebih menghargai mereka yang mengaku mengatakan kurang cocok dengan cowo itu karena emang dari pertama ngeliat udah merasa kurang sreg dan kesan pertamanya kurang nendang. daripada mengatakan kalo cowo itu terlalu pendeklah, terlalu lebaylah, terlalu culun or other unreasonable reasons. Toh mereka kan bukan dipaksa untuk menerima cowok tersebut. Sistemnya ya take it or leave it to ?

Scene berikut ini juga bikin saya suka keki sendiri dan tanpa babibu akan mengganti saluran tv secepat mungkin. Misalnya nih …

Studio udah nunjukkin klo tinggal ada 2 cewe yang tersisa dan cowo harus memilih salah satu dan ternyata salah satu cewe itu adalah model

Cowo :

“ok ladies, sebelum saya memilih salah satu dari kalian. saya punya pertanyaan. Saya kan orangnya suka makan.Kalian bisa masak apa saja buat saya”

Jawaban dari salah satu peserta

“saya kan MODEL, harus jaga tubuh dan tidak boleh banyak makan. Duh, kayanya saya gak suka masak deh apalagi masakin buat kamu. Mikir dulu kali ya … atau kalo emang terpaksa paling2 masak telur dadar atau mie instant”

Mendengar jawaban ini sih saya cuma ketawa ngakak doang. Hahaha … setau saya sih model itu kan tipe wanita class A dari segi fisik dalam artian cowo-cowo pasti akan berbondong-bondong meminta dirinya untuk menjadi pacarnya. Mereka tidak perlu mengemis kepada cowo untuk menjadikan mereka pacar atau mengikuti acara seperti ini untuk mendapatkan seorang pacar. Sejujurnya sih saya tidak mengetahui mereka itu sejenis model apa. Apa bener-bener model yang melenggak di atas catwalk dengan membawakan baju perancang model tertentu, model katalog untuk suatu produk MLM, model kalender yang biasa dihadiahkan cat genteng setiap awal tahun atau *maap* hanya menjadi model tabloid harian esek-esek ibu kota. Atau mereka mengikuti acara ini cuma buat numpang setor tampang di TV dengan harapan salah satu production house akan mengajak mereka gabung di sinetron striping kejar tayang berikutnya. Trying so hard to be popular and be a social climber. Tidak tahu juga. Karena saya punya kenalan yang nyaris menghalalkan segala cara untuk menjadi seorang bintang dan muncul di televisi. A desire to be popular can kill you sometimes.

Tulisan saya ini bukan mo nyudutin mereka yang ikutan jadi acara ini. Bukan sama sekali. Ada banyak cara orang untuk menemukan pasangan hidupnya dan mungkin mengikuti acara ini adalah salah satu alternatifnya. Saya hanya kurang sreg kepada mereka yang menjadi peserta dan bertingkah arogan dan sok laris di sana *aslinya belum laku, makanya ikutan*. Menolak pria dengan alasan yang paling menyakitkan dan kadang menjatuhkan, apalagi diiringi gelak tawa penonton di studio.


friend + enemy ?

Bila kebetulan disini ada yang jadi penggemar serial Sex and The City maka dalam salah satu episodenya adalah Frenemies. Nah lho … istilah apa lagi itu?. Frenemies itu berasal dari dua kata, Friend dan Enemies. Artinya kadang di depan kita dia berlagak seperti sahabat, tapi di luar itu kita belum tentu tau hatinya kepada kita. Dalam situasi yang sangat ekstrem, kadangkala ketika kita membutuhkan sahabat buat berbagi hepi, eh malah dia gak seneng dan kadang malah jadi nyela.

Contoh kasus nih, mungkin cerita saya bisa menjelaskan sedikit.
Awal saya pindah kerja ke perusahaan sekarang, bisa dibilang sedikit mimpi ya. Kalo ditanya jujur sih, saya gak berani ngarep macem-macemlah. Yang ada di pikiran saya waktu itu. Tiap wawancara kerja ya sudah didatengin saja, gimana imej perusahaan kan ntar ketauan juga pas saya wawancara dengan mereka. Kadang awal kita gak sreg di suatu perusahaan, giliran interview kerja eh malah jadi berubah pikiran. Nah kembali ke pekerjaan saya. Thanks God, ternyata mereka menerima saya.

Dengan kebahagiaan menurut cara saya sendiri, saya cerita kepada teman saya soal ini. Emang sih awalnya dia bilang selamat akhirnya saya keterima bekerja di sana, tapi …. *tetep ada tapinya nih ...*
dia ngomong begini ke saya

“eh … tapi setau gue yah di perusahaan itu gak ada namanya software developer lho. Temen saya pernah cerita kalo itu perusahaan selalu outsource kalau kebetulan butuh programmer gitu. Jadi, tanpa mengurangi kebahagiaan elu, mending tanya dulu deh apa elu karyawan di sana bener2 apa cuma jadi pegawai outsource atau bahkan cuma magang beberapa bulan doang. Kan gak seru juga jadinya. Masa sih elu cuma jadi pegawai magang ?”

lain lagi dengan cerita teman saya *yang tentu saja saya tidak akan sebutkan namanya di sini*. Kebetulan dia sudah menikah dan saya bisa bilang mereka pasangan yang berbahagia. Di hari jadi yang kesekian beberapa bulan lalu, hubby nya kasih dia kado sebuah liontin emas berhiaskan berlian kecil-kecil di pinggirannya. Maka sebagai teman, di suatu kesempatan saat kita mengadakan “lady’s day out”. Dia bercerita dengan senangnya soal kado yang diterima dari suaminya. Teman yang lain malah nyeletuk

“Bagus sih kalungnya, tapi apa elu rasa ini kalung kagak kemahalan ? jaman sekarang lagi resesi begini, ditambah lagi elu juga meritnya baru. masa sih elu tega minta kalung beginian ama suami ? sayang duitnya. mending buat dipake nyicil rumah aja”.

Saya kurang mengerti maksudnya bagaimana, murni mo kasih petuah kepada teman-saya-yang-berbahagia-dengan-liontinnya atau mau nyela temen saya karena dianggap memorotin harta suami tanpa aware dengan kondisi finansial orang sekarang yang emang kadang gak jelas gara-gara resesi.  Toh setau saya, teman saya ini bukan tipe orang yang manja dan harus selalu diturutin keinginannya atau bahkan memelas dengan sedikit tampang memaksa kepada suaminya untuk membelikan kado yang mahal.

Emang benar, punya sahabat itu anugerah atau beberapa orang menyebutkan punya seribu teman tak akan cukup tapi punya satu musuh sudah terlalu banyak atau pepatah lain mengatakan bahwa sahabat tidak akan menyembunyikan apapun dan selalu berkata jujur kepada kita. Tapi, dengan apa yang pernah saya alami, saya jadi memikirkan bahwa tidak semua sahabat itu adalah baik dan konon katanya mendukung dan menerima kita apa adanya. Sahabat yang baik itu akan memberikan kita nasehat tanpa terkesan menghakimi. Dia akan selalu ada di sana memberikan dukungan saat kita sedang mengalami hari yang tidak menyenangkan. Dia selalu ada saat kita senang dan sedih, karena dia sadar sepenuhnya kalo hidup itu gak seperti lagu india, bernyanyi riang di taman ditemani kupu-kupu dan bunga aneka warna dan diiringi ratusan penari alias hepi trus …


you belong to me

Dengan setengah keberanian yang kuciptakan sejak seminggu lalu, akhirnya tibalah hari ini. Saat aku merasa logikaku jauh menggungguli perasaanku. Kekuatan yang terbesar dalam diriku. Dengan suara yang pelan dan nyaris ditelan angin aku berkata

“Saya sudah lelah, Don. Kita sampai di sini saja”

Pria di ujung sana, dengan format yang sama setiap kedapetan selingkuh selalu memandangku dengan tatapan iba dan bersalah. Inilah alasan kenapa aku tidak ingin menangis malam ini. Aku sudah lelah memanfaatkan airmataku untuk tetap mendekapnya untuk tidak beranjak. Aku sudah muak dicintai oleh karena rasa iba. Aku sudah capek untuk tetap berpura-pura bahwa ini cuma mimpi semata. Aku sudah jijik dengan segala bentuk kemunafikan ini. Saatnya aku berpikir dengan logika, bukan cuma hati dan perasaan. Lagi-lagi kuingatkan diriku.

“Ehm, kita tidak boleh begini sayang. Lima tahun kita sudah jalani. Aku tahu kamu masih sayang amaku, dan jujur aku juga masih sayang ama kamu.”

Jika dulu aku masih bergetar dengan kata sayang itu, sekarang kata itu terdengar seperti sampah yang saatnya untuk dibuang dan dilebur sampai benar-benar hancur. Dia seperti kehilangan makna. Sebelumnya aku melihat kata itu begitu indah dan sakral, tetapi sekarang ingin sekali aku menyuruh manusia – yang dulunya aku sayang, sampai sekarang juga perasaan itu tidak berubah – untuk berhenti berkata-kata dan menerima kenyataan bahwa inilah yang terindah yang dapat kami lakukan.

“OK, aku akuin. Aku itu kemaren salah. Aku jalan dengan dia dan sampai berapa kali sms dan teleponan. Tapi udah … Cuma itu doang. Gak lebih kok sayang”

Sekali lagi pembelaan itu keluar dari bibirnya. Bahkan kata sayang terakhir di kalimat itu seakan mengambang di awan, tidak mampu membuka pintu hatiku seperti yang terjadi selama ini. Gantian aku yang menatap pedih ke arahnya. Sedetik saja aku melupakan pengkhianatan itu, bisa dipastikan aku akan mendatangi dia dan menyentuh rambutnya, mengatakan

“Happy April Mop, sayang. Ini Cuma bercanda”

Tapi kami tahu, ini adalah September, bukan April. Semilir angin yang semakin dingin menandakan akan berakhirnya keganasan musim panas dan digantikan dengan musim hujan. Mungkin akan menjadi musim hujan pertamaku yang akan kulewatkan sendiri dalam lima tahun terakhir.  Tidak akan ada film lucu yang akan kami tonton bersama dengan segelas penuh susu coklat panas dan kaki saling selonjoran dan bertaut untuk coba saling menghangatkan. Tidak akan ada dia, yang akan memperbaiki letak syalku saat kucoba kutautkan seadanya di leherku dan tentu saja tidak akan ada Natal dan pertukaran kado yang menjadi agenda rutin. Dadaku tercekat membayangkan kenyataan yang akan terjadi.

“Ngomong donk sayang. Kita baikan lagi ya”

Kembali dia memohon, mencoba mencairkan kebekuan yang terjadi di antara kami. Kembali aku menatap dia lurus setelah sebelumnya aku membuang pandanganku kemana-mana. Di tengah temaramnya lampu kafe, aku coba melihat sosok dia mungkin untuk terakhir kalinya dengan kadar intim – walau pun menyakitkan seperti ini. Diam-diam aku mengakui ketampanan, postur tubuh dan suaranya. Yah … dia memang selalu tampan dan mempesona.

“Keputusanku sudah bulat. Aku bukan mau menghukummu dengan ini. Aku hanya melepaskanmu sesuai dengan yang kamu mau. Setelah ini, kamu bisa mendekati cewe mana pun tanpa merasa takut akan tertangkap basah olehku”

Kata-kata itu mengalir, mencoba mencairkan kebekuan dalam beberapa menit terakhir. Aku harus meyakinkan hatiku sendiri sehingga kata-kata yang keluar juga akan sama meyakinkannya. Aku ingin terlihat tegas dan tanpa air mata. Aku merasakan kemenangan dalam jiwaku sendiri. Akhirnya kata-kata terakhir itu mengalir lancar dari tenggorokanku dan bersama dorongan udara sampai juga kepada pria di seberang meja.

Dengan sisa-sisa nyali yang masih aku punyai, aku berjalan menghampirinya. Memeluknya untuk terakhir kali dan merasakan kehangatan serta detak jantungnya. Setelah menit ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi.

“Aku pulang dulu. Jangan coba antar aku, hari ini aku ingin pulang naik taxy saja. Jaga dirimu baik-baik”.

Dia hanya terpaku di sana, tidak bergeming atau bahkan berusaha memelukku balik. Mungkin itu lebih baik, untuk tetap menjaga malam ini tetap begini dan tidak kehilangan makna.

“See the pyramids along the nile
Watch the sunrise on a tropic isle
Just remember, darling, all the while
You belong to me”

Aku tersenyum dan ikut menyanyi dalam hati. Entah itu disengaja atau kebetulan, para penyanyi kafe mendendangkan lagu tersebut. Mungkin itu akan menjadi terakhir kalinya aku mendengarnya, lagu yang dengan semena-mena aku dan Donni klaim sebagai lagu kebangsaan cinta kami.

“Lebih baik memiliki cinta dan kehilangan …”,

pepatah itu melintas cepat melewati pelupukku. Aku tidak pernah menyesali pertemuan dan kenangan yang ada di antaranya. Pun aku tidak menyesali perpisahan ini juga, mungkin ada saatnya aku melepasmu untuk membuktikan bahwa sebenarnya aku sangat mencintaimu.


gombal

“Ehmm … wah setelah melihat foto dan keadaan kamu sekarang, saya menyesal pernah memutuskan kamu”.

“Bolehkan saya masuk dalam kehidupan pribadi kamu? karena saya merasa kita memiliki kecocokan and we’re meant to be”

“Saya rasa kita memiliki kecocokan untuk menjadi sepasang kekasih, karena kamu cantik dan saya tampan. Kamu smart dan saya jenius. Hidup itu indah, sepertinya kita ditakdirkan bersama”

“Kamu mau makan apa? saya traktir deh yang penting kamu duduk di samping saya dan menemani saya makan”

“Kamu cantik memakai baju itu seakan-akan baju itu diciptakan untuk kamu”

“Kamu cantik dan lucu, apalagi kalau sedang marah”

“Saya antar kamu pulang deh, biar lutut kamu gak lecet di jalan”

“Wajahmu mengalihkan duniaku” *tag iklan yang saya comot tanpa izin*

Ketahuilah para pria, sebenarnya kami para wanita senang dipuji dan digombal.Maka dari itu some of us would pay much for those feminist crap. Kami juga senang ditraktir, bukan semata karena kami bisa menambah pundi-pundi belanja kami yang akan dengan serta-merta-tanpa-rasa-sayang dihabiskan saat musim great sale tiba. Tetapi itu lebih merupakan pengakuan kalau ternyata kami berharga di mata kaum adam. Satu permintaan kami sebagai seorang wanita, hendaklah gombal dan pujian itu tidak dilontarkan dengan berlebihan karena pada akhirnya akan menjadi basi dan memuakkan.

*huah … PMS season kadang membuat saya menjadi super lebay*


tentang Boobs …

Judulnya dahsyat banget bukan? Like I told you before, saya lagi seneng-senengnya nulis dan inspirasi yang saya dapatkan itu dari kaum saya, kaum hawa.

Taukan boobs itu apa? *dalam bahasa Indonesia disebut dengan Payudara atau Buah Dada*(jika anda masih kurang umur, pasti ekpresi anda seperti merasa tercekat, kemudian terkikik sambil menutup mulut anda dengan kedua tangan), jika anda seorang pria (saya yakin anda akan memantapkan diri anda untuk membaca postingan ini sampai selesai).

Salah satu bagian tubuh yang saya sukai adalah dada. Kenapa? selain bentuknya indah, proporsional, hanya kami kaum wanita yang memilikinya.Saya yakin sekali, lebih dari 1/2 populasi dunia dengan jenis kelamin wanita akan setuju dengan saya, pasalnya itu adalah salah satu aset indah yang dimiliki dan harus dijaga.

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah ribut dengan salah seorang  teman kantor saya gara2 masalah public abuse yang melibatkan “dada” … kira2 gini ceritanya :

Hari ini saya ke kantor dengan memakai kemeja coklat dengan motif bunga di bordir tepat di dada sebelah kiri. Jadi jika seseorang ingin mengetahui detail bordiran tersebut dengan memegangnya, maka dengan sangat dipastikan dia juga memegang dada saya. Kembali ke kenangan akan baju ini, saya teringat kisah memalukan yang saya dapatkan dari baju ini. Sore itu jam menunjukkan pukul 16.30 – waktu dimana hampir seluruh populasi karyawan di jakarta dan daerah lain mulai bersuka cita. Itu artinya, dalam 1/2 jam ke depan untuk sementara waktu kita bisa ucapkan selamat tinggal kepada rutinitas kantor dan segala tetek bengeknya. Entah setan bandot apa yang merasuki jiwa salah seorang teman saya, dengan maksud serius atau bercanda (FYI:dia berjenis kelamin laki-laki), tiba-tiba ingin mengambil bunga bordir saya dari baju. Kalo saya tidak mundur selangkah saja, pasti dengan sukses dia akan memegang dada saya dan bisa juga dipastikan dalam waktu paling lama 1/2 jam kemudian tangan atau kaki saya akan mendarat dengan sempurna di pipi dia. Jelas sudah dia memancing kemarahan saya di waktu yang tidak tepat, membuyarkan kesenangan saya untuk mengakhiri jam kerja di kantor. Akhirnya saya bener-bener naik pitam dan memaki-maki dia saat itu juga di ruangan kantor. saya bisa merasakan aura kantor yang tiba-tiba menjadikan saya sebagai objek mereka. saat itu sih saya tidak perduli, saya hanya punya satu niat untuk mempermalukan kambing bandot itu di depan orang banyak agar dia lebih berhati-hati, jadi dia bisa mikir sekali lagi untuk mulai bermasalah dengan saya apalagi menyangkut pelecehan seksual di kantor. Saya heran sekali, padahal bisa dikatakan hari itu saya memakai baju yang sangat sopan sekali. Tidak ada kemeja berpotongan rendah yang menunjukkan belanda (belahan dada *red), dan tidak ada juga bahan transparan yang menerawang dan membiarkan fantasi pria berpikir liar untuk memancingnya.

how do they look?

how do they look?

Lain cerita, saya pernah berjalan dengan seorang teman pria. Waktu itu saya menggunakan baju kaus biasa. Entah mungkin otaknya sedikit pervert atau memang saya yang berpenampilan menggoda, maka dia mengatakan penampakan cleavage yang cukup misterius bisa mengundang pria untuk meliriknya *diucapkan tepat saya sedang hang out dengan temen2 saya yang lain – selain dia tentunya*. Well, saya sangat menghargain perhatian dia kepada saya, tetapi saya yakin ia mengatakan itu karena matanya sudah lama terpaku disitu dan terlebih-lebih tidak ada cleavage yang tersingkap disitu.

*just be honest dude …!pria kadang gampang sekali ditebak…*.

Sebagai wanita, mungkin beberapa dari anda pernah mengalami hal beginian *beda dengan mereka yang menggantungkan karir sebagai PSK ataupun porn-star, then they put the boobs as a commercial thing*, rasanya bisa kesal sampe ke ubun-ubun apalagi kalo dilakukan dengan unsur kesengajaan. Nah, sekarang udah kebayang gimana rasanya dapet public abuse kan?


F4 : Boys Before Flowers

saya lupa kapan tepatnya menonton pelem serial di televisi nasional semenjak berbagai sinetron tidak jelas mulai wara-wiri dimana-mana (bahkan sampai ada season ke sejuta, OK sejuta itu terlalu ekstrim … maksud saya itu semakin ngalor-ngidul gak jelas). Entah karena tangan saya ini kelewat hyperaktif karena dalam satu menit saya bisa ganti sampe 5 channel. Akhirnya tiba di satu stasiun TV yang nayangin wajah tampan di balik layar kaca. Ya udah mending jujur aja sekarang kalo saya lagi in love with BBF. Tepatnya sih bukan semuanya, tapi kepada sosok jihoo (wahai wanita lain berbahagialah kalian karena saya tidak memilih gun jun pyo yang bengis itu dan memiliki emak yang gak kalah bengis juga, dengan potongan muka sinis persegi).

Dalam hati sih sedikit senang, akhirnya pelem naga kertas melayang-layang di gunung kidul dengan jangkring yang diperbesar sampai 1000x khasnya Indosiar udah mulai menurun kekuasaannya *sumpah, ini pelem bikin gw keki … doh aneh banget dech, mending gw liat fitri tropika yang ngomong dan ekspresinya berlebihan daripada siluman gak jelas dan berlebihan*.

Sebenarnya ini cerita standart banget dan kalo sekilas diliat mirip banget dengan pendahulunya “Meteor Garden”. Cerita seorang gadis sederhana, tomboy dan sedikit barbar (tipikal gw banget).Dengan segala perjuangannya, akhirnya dia diterima di SMA mahal yang tentu saja mahasiswanya juga adalah anak-anak tajir. Di tengah cerita, sang bintang pangeran sekolah jatuh cinta kepadanya lebih kepada karakternya daripada kepada penampilannya. (Bagian ini sih gw yakin boong banget, soalnya pemeran ceweknya juga cakep kok …). sang ibu, dari anak orang kaya tersebut, tidak menyetujui hubungan mereka dan berjuang keras untuk menjauhkan anaknya dari gadis gembel itu. Selanjutnya … ya gak jauh-jauh bedalah dari inti cerita di awal, perjuangan tiada mati dan tiada henti dari dua insan yang sedang dimabuk asmara. Pelajaran moral yang saya dapetkan dari cerita ini : jangan lebay seperti Jandi (tokoh wanita) yang selalu fokus kepada Gun Jun Pyo – tipikal cowo moody, di satu saat keliatan cinta banget ama jandi, di sisi lain cuekin Jandi, padahal di pojokan sana ada Jihoo yang sebenarnya siap memberikan hatinya buat Jandi.

Kalo cerita itu sedemikian standartnya, trus kenapa gw bisa begitu suka dan bela-belain melotot sampe lewat tengah malam? Magnet di cerita itu bagi saya cuma satu. Jihoo is the one and only. Saya lebih memilih cowok yang tidak ngomong banyak tapi diwujudkan dalam perbuatannya, memiliki wajah baik dan lembut, serta bisa mencintai seorang wanita tanpa syarat. I think Jihoo has all of ‘em (plus ganteng tentunya ~~~). Hari ini, setelah selesai bikin tulisan ini, saya masih dalam keadaan setengah teler (baca: ngantuk). Senin dan selasa adalah jam tidur lewat tengah malam demi Jihoo …

jihoo and jandi

jihoo and jandi

Finally, they get married ...

Finally, they get married ...

*Disclaimer: bagi yang pengen muntah melihat saya begitu mengidolakan Jihoo, dipersilahkan dengan segenap hati. Tapi jangan muntah di blog saya, silahkan cari tempat lain saja. Oiya sebelum mengakhiri tulisan ini, ntah kenapa saya merasa bahwa Jihoo lah yang sebenarnya menjadi soulmatenya Jandi … soalnya Ji hoo selalu ada untuk jan di klo jandi lagi sedih ..*so sweet*


Dating a married man

Lately, women and all their world are in my mind. Can’t enough think that most of us, sometimes and in a very frequent condition, make our life become more complicated. Life is always simple but it’s a human habits to make it complicated. I have a girlfriend who totally in love with a guy. Nothing wrong with that untill I know that she’s been dating a married man. Obviously, I don’t think that she’s brave enough to confess it in front of me. She’s trying hard to hide it. Hope by reading this blog, she’s gonna know what I want from her and she realizes that she’s gone wrong so far.

A girl, like me, like you (perhaps, who are reading this post), finds that normal thing to date a guy and flirt with them unless they are rude,impolite, do not respect you or a married man. The last one, is a thing that I don’t wanna get involved. It’s such a forbidden relationship. Sure, okay, sometimes people fall out of love, marry the wrong person, are overcome with passion, or make bad choices, all of which can result in an affair. But the fact is quite clear. He’s not in love with you. It’s totally just a temporary happiness. See, if he thinks that you’ll be the only one for him then he finds a way to leave his wife and marry you afterward, not by promising any beatiful bullshit and tell you hundreds time that he loves you. Get a life girl. There’s a plenty good guys out there and you can have one for your own. You can handle this situation for sure: Stop seeing each other, you don’t even have to reply his sms or get his phone call, let him figure out his life. If he ends up staying with his wife, then you would have been the girl who was having an affair with the guy who was never planning on leaving his wife. If he does leave his wife, then you can start a life with him with not based in shame.

Hope you will understand dear :)


every girl should deserve better !

Ladies … how many of you would be very pleased when a man say ‘I love you and wanna get close to you’ … would you like to raise your hand up?.  Tapi tunggu dulu sebelum anda bener-bener membaca kisah saya berikut ini.

Beberapa minggu yang lalu, lupa kapan tepatnya … salah seorang dari masa lalu tiba-tiba datang ke hidup saya yang nyaman. Inti dari percakapan singkat kami adalah bahwa walau pun kami tidak lagi ditakdirkan menjadi sepasang kekasih, tetapi dia merasa kami masih bisa dekat dalam ikatan persaudaraan atau kemungkinan paling minim yang bisa kami tempuh ke depannya adalah berteman. Dalam hati sih sebenarnya saya pengen ketawa, it sounds ridiculous because lately, i can’t even say that we’re friends.We lost our communication.

Intinya dari perkataan dia jika ditelusuri dengan jiwa dan akal sehat adalah … “aku tidak menyukaimu, tetapi aku tidak mungkin mengatakan kepadamu secara gamblang, maka ku merasa bahwa ini adalah cara terbaik untuk mengungkapkannya kepadamu”. Ladies … mungkin di dalam kehidupan nyata kita pernah mendengar versi lain dari kalimat ini seperti :
“sebenarnya kamu cantik, seksi dan menarik … tapi aku merasa aku bukanlah yang terbaik untukmu” atau
“biarlah kita berteman saja dan bisa tetap dekat”
Artinya adalah that man is not into you. Bagi saya pribadi … cinta itu adalah ibarat binary yang cuma mengenal angka ‘1′ dan ‘0′ atau ‘ya’ dan ‘tidak’, ditengahnya tidak ada lagi. Jadi pesan saya, jika anda mendapatkan diri anda terperangkap dalam situasi ini, jangan bertingkah bodoh dan berlaku seakan semuanya baik-baik saja, leave all the bad things behind and see another bright future, you deserve better. Saya rasa anda tidak akan tinggal bersama dan menggantungkan harapan dengan seseorang yang secara implisit tidak mengharapkan anda, lagipula tinggal lebih lama akan menyebabkan ngarep kronis yang berkepanjangan and I hope it won’t take you suicide.

Thanks for Greg and Liz, mungkin di awal kalo saya belum membaca buku itu maka saya akan seperti setengah wanita di dunia yang menganggap tawaran itu menarik, “better than nothing”. Menerima tawaran itu lalu mendapatkan sebuah kepastian dan mencle-mencle karena pengen nanyain ke pia bersangkutan tentang kelanjutan hubungan tersebut tapi takut menyinggung perasaannya karena di awal dia sudah menjelaskan kepada saya bahwa hubungan kami sebatas TTM tanpa sebuah status. Mungkin bagi sebagian orang, status itu tidak penting. Tapi, get a life ajah dech klo kita sebenarnya lama-lama akan jengah juga menjalani hal seperti itu.

Bagi saya pribadi,sama seperti penjelasan di atas. That freaky (i must admit that it was a beatiful) relationship was over a few years ago dan saya rasa gak penting juga bagi saya untuk mencoba bersilahturahmi dengan sang mantan.*selain saya memiliki seorang mantan yang orangnya sedikit ke-GR-an, dalam artian dikasih perhatian sedikit saja sudah merasa bahwa saya pengen balik dengan dia karena menurut dia perasaan dan tubuh saya masih sepenuhnya menginginkannya*, saya juga ingin menata kehidupan saya sendiri tanpa gangguan orang-orang yang menurut saya masuk dalam kategori kurang penting. Ayolah ladies, hidup terlalu percuma untuk dihabiskan dengan orang yang percuma juga. Satu-satunya tugas kita sebagai seorang wanita adalah menjadi sebahagia mungkin, bersikap positif tentang diri sendiri dan tentu saja merasakan berbagai pengalaman luar biasa lainnya.

Disini saya share sebuah link buat download buku yang menurut saya every girl should have … Please take a look at this link