RSS

Monthly Archives: April 2011

love & release

Saya bersumpah untuk tidak cepat jatuh cinta kepada lawan jenis. Hubungan bertahun-tahun yang saya bina dengan seseorang dan saya gadang-gadang akan menuju pelaminan ternyata harus kandas juga. Mungkin kelihatan terlalu sinetron, tetapi hati saya hancur berkeping-keping. Saya mengingat semua waktu, tenaga dan pengorbanan untuk hubungan ini ternyata bukan jaminan menjaga hati seseorang selalu tertuju kepada kita. Setidaknya saya merasakannya saat ini. Beberapa teman memberikan penghiburan dengan mengatakan mantan saya itu adalah bajingan sejati, heart killer, manusia tidak tau diri dan segala caci maki yang mereka bisa pikirkan saat itu dengan satu tujuan pasti, yaitu “menghibur saya”.

love hurts !

Saya berterima kasih untuk semua cacian itu walaupun sebenernya pihak yang tersakiti hanyalah saya sendiri dan bukan mereka. Tetapi seperti yang pernah saya dengar dari seorang teman, salah satu cara ampuh untuk melupakan sang mantan adalah dengan memikirkan kejelekan dan keburukan mereka serta mengingat hal positif yang kita punya serta menilai betapa bodohnya mereka bisa meninggalkan seseorang yang baik seperti saya. Saya tidak ingin membohongi diri saya, saya terluka, saya benar-benar merasa terjatuh dan dikhianati. Pada akhirnya saya mendapati diri saya bahwa saya butuh menangis, berteriak atau hanya berkata kepada diri saya sendiri di sebuah cermin untuk meluapkan emosi saya yang menurut saya harus segera dikeluarkan sebelum saya mendapati diri saya meledak dan berpencar ke segala arah.

Selain saya kelihatan semakin payah, setidaknya begitulah teman-teman memberikan penilaian terhadap penampilan fisik saya. Saya juga harus mengikhlaskan beberapa kg bobot tubuh saya menyusut. Untuk hal ini saya boleh senang sedikit, setidaknya saya bisa menghemat beberapa koin dari penghasilan saya untuk membayar iuran fitness (Memang dasar oportunis, bisa-bisanya saya melihat keuntungan dari sakit hati yang masih mencoba untuk sembuh).

Saat saya memandang diri saya ke cermin di kamar saya, akhirnya saya menyetujui pendapat rekan kantor, teman nongkrong dan manusia lain yang mengenal saya bahwa saya dalam keadaan payah yang mungkin dalam beberapa minggu lagi jika dibiarkan berkepanjangan maka saya akan menjelma menjadi manusia payah bin konyol. Setelah berubah menjadi manusia payah, maka teman-teman saya mulai akan meninggalkan saya karena saya memilih terpuruk dengan kisah cinta konyol saya. Manusia cenderung tidak ingin berteman dengan manusia payah, karena friends for benefit itu selalu ada walau dalam bentuk kecil sekalipun.

Akhirnya saya menyadari, saya tidak ingin berakhir payah seperti ini. Apalagi setelah saya melihat sang mantan kelihatan baik-baik saja dengan kekasih barunya, menikmati hari-hari bersama mereka seakan saya menjadi sebatang rumput di pinggir jalan yang nasibnya selalu diabaikan. Dia tidak merasa berdosa atau terganggu dengan perubahan saya menjadi manusia payah. Saya selalu mengatakan setiap manusia bertanggung jawab terhadap perasaannya dan takdirnya kelak. Tapi kenapa saya sekarang malah mengingkarinya ? do i turn to be a hypocrite?

Saya memutuskan saya harus bangkit lagi. Saya tidak bisa mengelak kalau saya patah hati, hancur dan nyaris menjadi manusia payah. Segala cerita kegagalan cinta saya itu harus segera dibuang dan saya menyadari bahwa sebenarnya saya punya sumber untuk keluar dari situasi ini. Saya tidak ingin dengan berakhirnya hubungan saya dengan dia, saya semakin menyimpan cinta itu jauh masuk ke dalam hati dan hidup saya sehingga membentuk monumen batu di dalamnya. Saya harus mulai belajar melepaskan karena itulah satu-satunya cara untuk menghilangkan sakit hati saya. Walau saya yakin ini akan menjadi berat, tapi saya tidak akan pernah tahu apakah saya sanggup atau tidak sebelum mencobanya. Melepaskan dan membuat ruang kosong di hati saya untuk diisi kembali. Semua orang punya cerita sedih dan tragedi. Tapi setelah saya pikir-pikir, ternyata putus cinta itu bukan tragedi yang harus dikenang sepanjang sejarah saya menjadi manusia dan anak cucu saya kelak akan mengingat saya sebagai “korban patah hati berkepanjangan”.

Lagi pula, tampang saya juga gak jelek-jelek banget serta karir saya juga masih panjang. Saya yakin bahwa di luar sana, akan ada cinta lain yang sejati buat saya. Yang perlu saya lakukan adalah stay charming dan membuka pintu hati saya selebar-lebarnya untuk semua kemungkinan. Seperti salah satu teman saya pernah katakan kepada saya :
“Hidup di dunia ini sangat singkat dan masing-masing dari kita memiliki hak dan kewajiban. Mencari kebahagiaan adalah salah satu tugas kita di kehidupan yang singkat ini. Kita harus menemukannya walau dalam bentuk paling kecil sekalipun”

finding the one !

 
7 Comments

Posted by on April 18, 2011 in Life

 

movie : the company men

courtesy of IMDB

Taglines: In America, We Give Our Lives To Our Jobs. It’s Time To Take Them Back !

The story centers on a year in the life of three men trying to survive a round of corporate downsizing at a major company – and how that affects them, their families, and their communities.

Released Year : 2010
Director: John Wells
Writer: John Wells
Stars: Ben Affleck, Chris Cooper and Tommy Lee Jones

Cerita ini dimulai dengan gambaran betapa bahagianya hidup menjadi seorang Bob Walker. Bekerja dengan posisi Kepala Divisi Sales & Marketing dengan umur yang cukup muda (37 tahun). Memiliki sebuah rumah dengan semua perlengkapan untuk layak disebut sebagai rumah nyaman dan bahkan relatif mewah. Memiliki 2 orang anak yang cantik dan tampan serta seorang istri yang cantik, FTM (full time mother) dan super pengertian.Mengendarai sebuah motor sport mewah (Porsche) dan tentu saja keanggotaan eksklusif di klub golf. What a perfect man ! I bet that everyone wants to kill for that amazing life.

Tragedi dimulai ketika dilakukan PHK besar2an karena perekonomian seluruh US yang benar-benar tidak OK banget, dan apesnya Bob Walker adalah salah satu dari korban PHK tersebut. Akhirnya dengan sisa harga diri yang dia punya, dia mulai bangkit lagi dan mencari pekerjaan yang layak (layak bagi dia tentunya, bukan bagi orang secara umum). Tapi dengan pengalaman kerja serta dengan penghasilan besar yang dia terima selama bekerja di GTX, tentu saja tidak mudah bagi perusahaan untuk mempekerjakan manusia seperti dia. Hal ini ditambah kenyataan, ribuan MBA diluluskan oleh berbagai perguruan tinggi. Relatif masih muda, keinginan yang menggebu, otak yang masih cepet buat diajak kompromi ditambah lagi kenyataan bahwa mereka bisa dibayar murah dengan alasan fresh graduate (this is the reason why a company have a tendency to hire fresh graduate).

Tak ada perusahaan yang mau mempekerjakan dia, membuatnya menyerah dan menerima pekerjaan dari iparnya sebagai pekerja bangunan (agak lebay sih, dari seorang ekspatriat banting setir menjadi pekerja bangunan. Apalagi memiliki wajah tampan ala ben affleck). Bob menjual rumahnya, menjual porsche kesayangannya, berhenti dari keanggotan golf dan akhirnya istrinya memilih untuk mulai bekerja lagi.

Di lain sisi, keadaan GTX tidak menjadi lebih baik. CEO perusahaan adalah manusia yang menurut saya tipikal kejam dan berhati dingin. Dia lebih memilih masuk dalam 50 CEO dengan penghasilan tertinggi versi majalah forbes dan memecat executive BOD serta ribuan karyawan lain serta upgrade gedung kantor daripada mempergunakan dana tersebut untuk hal-hal lain yang memiliki prioritas lebih penting (seperti dewan rakyat yang duduk di Senayan saja. Tapi dia masih mempergunakan uang sendiri sedangkan yang di Senayan menggunakan duit …. *gak usah dibahas, malah bikin tambah keki …. #menatap nanar ke slip gaji yang dipenuhi segala detail potongan pajak negara).

Akhir ceritanya gimana?
Seperti biasa karena ini film ini menurut saya tujuannya adalah motivasi dan memberikan pesan kepada semua pekerja secara global, maka tentu saja akhirnya happy ending. Pada akhirnya, Gene McClary (mantan BOD GTX yang mengalami perihnya pemecatan) mengajak korban-korban PHK lainnya membangun usaha yang sama ditambah layanan konsultasi strategi, memperbaiki dan menggunakan kembali pabrik GTX lama yang terabaikan, dan berkeyakinan bahwa dengan keberanian dan entusiasme yang tinggi, mereka akan bisa membangun usaha tersebut.

Di dunia lain, Lauren berakhir menjadi seorang janda setelah suaminya, mantan BOD GTX (Phill Woodward) yang mengalami pemecatan memilih untuk bunuh diri karena merasa harga dirinya hancur semenjak resmi menjadi penggangguran.

Moral cerita dari film ini yang saya dapatkan adalah (this is my personal opinion)
- love your job, but not your company because you don’t know when they stop loving you (and finally dump you)
- being fired is not the end of the world as long as you are capable, have faith, courage and enthusiasm.
- a company can stop your path career there but they can’t stop your brain to think and create another brilliant idea (canggih ya bahasa gue …? hahaha ….)

finally, happy watching anyone !

 
2 Comments

Posted by on April 18, 2011 in Movie, Opinion

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.