RSS

Author Archives: miss hennie

About miss hennie

I'm a simple ordinary girl,kinda nice girl who loves meeting new people and wanna be other's friends.Love family and chocolate much. Can't live without 'em. For me Internet is important so I can see the entire world through it, knowing others people in other places, other continents and see how GOD creates an amazing earth. I'm working as a web developer and on the other side I work as an undergraduate students in information system course. My philosophy in facing this life is "You are what you think" which means once you think that you're capable in something, you know you can't make it ... once you think you can't then you won't ever make it. Just be you and believe in yourself. Being a single girl doesn't mean I can't make my life colorful. I just wait, see and hope someday GOD sends me a real man angel to share something with.

curhat : odontectomy (operasi geraham bungsu)

Apa itu? well, kalau dari hasil googling. Odontectomy adalah

Removal of teeth by the bending back of a mucoperiosteal flap and excision of bone from around the root before the application of force to remove the tooth (source)

Kalo bagi saya pribadi: sakit tak terkatakan dan diet super cepet !

Nah, ceritanya ini berawal dari beberapa minggu lalu dimana saya merasakan sakit yang teramat sangat di geraham kanan bawah dan efeknya sampai ke telinga dan leher. Bahkan untuk menelan saja terkadang susah. Karena saya tipe yang malas berurusan dengan dokter, maka saya hanya mengkonsumsi painkiller saja (saya memilih cataflam 50). Tapi, namanya painkiller, ya efeknya cuma temporary doang. Saat dikonsumsi dan setelah beberapa jam, sakitnya hilang. Kemudian, balik lagi nyut-nyutan.

Akhirnya saya menyerah juga dan memilih mengunjungi dokter gigi. Waktu itu, saya coba konsultasi ke drg.Indah di RS. Mitra Kemayoran. Setelah dicek sekilas, dia merekomendasikan saya untuk melakukan foto panoramik. Di RS. Mitra Kemayoran sendiri, foto panoramik ini sendiri dikenai biaya Rp.140.000. Karena saya datangnya cukup pagi, proses ini sendiri hanya memakan waktu 20 menit, dari registrasi – menerima hasil foto.

Dari sana, saya kembali lagi ke poli gigi. Dokternya lihat hasil fotonya dan akhirnya rekomendasi pengobatan yang dia berikan di luar dugaan saya : “Ehm, bener ini giginya. Kamu harus dioperasi nih. Kalau enggak bakalan sakit terus”. Kalau mau dijelaskan dengan gambar yang nyata, maka kira-kira beginilah keadaan gigi saya sebelum operasi (gigi geraham bungsu mendorong gusi dari dalam, pada akhirnya menyebabkan gusi meradang).

bagian gigi yang terkena impaksi (courtesy: klikdokter.com)

sedangkan gambar berikut adalah hasil foto panoramik dari lab:

bagian gigi yang terkena impaksi (bawah: operasi, atas: cabut)

Kemudian dia menuliskan surat pengantar operasi dan meminta saya untuk melakukan appointment sendiri. Saya sempat konsultasi dengan doi tentang kondisi gigi saya tersebut. Kesimpulannya, penyebab gigi saya sakit adalah akibat tumbuhnya geraham bungsu di bawah gusi yang mengakibatkan gusi meradang. Berhubung ini geraham bungsu, tidak seperti gigi susu, belum tentu gigi tersebut akan tumbuh menembus gusi. Jadi, kemungkinan dia tetap di bawah gusi dan menimbulkan rasa sakit itu sangatlah mungkin. Kalau istilah kerennya di dunia kedokteran, gigi saya mengalami impaksi bony vertical impaction (impaksi karena desain rahang dan syaraf sehingga ada gigi yang separuh atau bahkan seluruhnya tertahan dalam gusi). Kira-kira begini gambarannya:

bony vertical impaction (courtesy: animated-teeth.com)

Di luar impaksi, gigi geraham bungsu bisa tumbuh normal apa adanya walaupun ternyata tidak berguna juga (selain hanya menambah jumlah gigi doang) karena informasi dari dokter gigi yang saya dapatkan, makanan yang kita kunyah itu tidak selalu melibatkan geraham bungsu. Efek yang ada, hanya menambah kotoran di gigi doang, sedangkan kebanyakan sikat gigi yang beredar akan sulit mencapai titik tersebut (belum lagi kalau orangnya tipikal manusia yang tidak menikmati saat-saat menggosok gigi).

Pada akhirnya, saya mengalah dan mengikuti pesan dokter untuk melakukan odontectomy.
Operasi sendiri saya lakukan di RS.St.Carolus. Pertimbangannya adalah biaya. Di sana lebih murah dibandingkan dengan RS. Mitra Kemayoran. Untuk biaya odontectomy ini sendiri, kisarannya beragam. Dari 3 juta lebih, tergantung rumah sakit dan tingkat keparahan gigi (karena pasti ngaruh juga ke effort sang dokter bedah). Untuk biaya operasi yang saya lakukan ini, total biaya yang saya keluarkan adalah 4.3 juta. Termasuk operasi gigi geraham bungsu kanan bawah, cabut gigi atas (dengan komplikasi berat), biaya anestesi dan obat.

Drg yang melakukan operasinya adalah Drg. Thomas SpBM. Saya membawa hasil foto panoramik gigi saya dan surat pengantar dari drg. Indah. Saya melakukan appointment di sabtu pagi & dapat jadwal operasi senin pagi. Senin pagi, sesampainya disana … basa-basi sedikit dan akhirnya saya disuruh mangap. Dicek sebentar dan dibandingin dengan hasilfoto panoramiknya dan ternyata … gigi yang dicabut harus sepasang (geraham bungsu kanan atas dan bawah).

Kenapa ?
Karena ternyata kalau cuma gigi bawah yang dioperasi tanpa disertai gigi atas, maka gigi tersebut akan melukai dan tidak menutup kemungkinan menyebabkan gigi di seberangnya menjadi infeksi dan hal itu kelihatan nyata di gigi saya. Gusi geraham kanan bawah sudah meradang. Makanya tidak heran kalau efeknya terasa banget di saraf leher dan telinga.

Sejujurnya saya takut dan gak santai, bahkan saking takutnya saya baru bisa tidur jam 2 subuh (operasinya sendiri adalah jam 9 pagi di hari yang sama).
Saya disuruh rileks di kursi dokter gigi, disuruh rileks dan doa kemudian mulailah hal-hal mengerikan berdatangan. Berhubungan saya penakut, saya minta wajah saya ditutup kain saja, saya gak mau melihat benda-benda apa saja yang akan dimasukkan ke dalam mulut saya atau berapa jumlah darah yang sudah terbuang. Operasi odontectomy ini adalah operasi lokal (bagian mulut dan gigi doang), maka biusnya pun dilakukan secara lokal. Tapi tetep aja ya cin, bagian mulut dan gigi itu sensitif jadi masih dibius saja udah cukup membuat saya ketar-ketir.Ada beberapa lokasi yang dibius, tapi yang paling menyakitkan adalah bius di langit-langit mulut. Waktu saya operasi kemarin, ada 4 kali suntikan bius. Setelah kira-kira 10 menit saya dibius, mulailah saya merasakan pisau bedah, pingset gigi, sampai bor menari-nari di dalam gigi saya. Operasi diakhiri dengan menjahit bekas gusi yang dibedah, saya cuma sempat ngintip sedikit bagian ini doang, abis itu merem lagi. Kan gigi saya ada di bawah gusinya, jadi gusinya harus dirobek sedikit dulu untuk bisa mengeluarkan giginya. sakit ? gak donk … kan udah dibius (jangan ngebayangin dalam keadaan gak bisa dibius, bisa ngilu seluruh tubuh).

Setelah gigi bawah dioperasi, giliran yang bagian atas, Karena gigi tersebut sudah numbuh maka tidak perlu dilakukan operasi, hanya cabut gigi biasa saja. Kira-kira 40-60 menit operasinya selesai dan saya diberikan casa gigi untuk ditempelkan di daerah bekas operasi dan cabut gigi. Saya senang operasi ini berjalan sukses, semoga saya gak menderita sakit gigi yang mengenai syaraf lagi. Pesan saya bagi yang ingin melakukan odontectomy adalah:

  • Percayalah kepada dokter gigi dan bedah mulut. Mereka pasti merekomendasikan yang terbaik buat kita.
  • Kalau boleh dapatkan appointment di antrian pertama. Jadi gak perlu denger-denger jeritan mengerikan di antrian sebelumnya (ini bisa makin bikin takut lagi).
  • Setelah selesai operasi, jangan lupa mengkonsumsi obat antibiotik dan painkiller yang biasa sudah diresepkan dokter setelah selesai operasi (jadi jangan terlena di operasinya, sampai lupa untuk menukar resep dokter).
  • Istirahat yang cukup
  • Kurangi aktifitas yang melibatkan mulut dan gigi (beberapa hari setelah operasi, saya mengkonsumsi makanan cair)
  • Jangan kumur-kumur dan meludah (seenggaknya sampai minggu pertama dan bekas jahitan dibuka)
  • Di beberapa kasus (termasuk saya), mungkin di hari pertama setelah operasi darah masih mengucur (tenang aja, sedikit kok) dari daerah bekas pembedahan. Untuk menguranginya, kita bisa minta cadangan casa gigi atau mengompres daerah pipi (atau daerah lain di sekitarnya) dengan es batu. Lakukan maksimal 10 menit. Hal ini cukup membantu proses pembekuan darah.
  • Akhir kata, emang operasi ini sakit. bikin pipi bengkak berhari-hari, susah mangap (apalagi makan), bagi saya sendiri sampai susah nelan. Tapi bukan jadi akhir segalanya..

PS: post ini semata-mata saya tulis dari pengalaman seorang awam yang melakukan odontectomy. Sekedar berbagi buat siapa saja yang berniat melakukan odontectomy. Jadi, jangan lakukan konsultasi gigi dengan saya. Finally, thanks for reading..

 
1 Comment

Posted by on February 10, 2012 in 'bout me, Experience, Tips

 

skincare review : kose junkisui

Still hard to think after changing some of my make stuff and spend much money on it (my version), i don’t get the result as I expected. A few months ago, after giving up on one of skincare product (i already gave you the review). I started to use a KOSE – junkisui series. I was confused in the beginning to choose between biotherm or kose, but as one of my friends told me that biotherm will make my face skin peeled off then I choose the KOSE. Consider that it is made in Japan (located in Asia continent, the same continent as Indonesia. It makes me think that “okay, i think we do have some climate and weather and the Japanese skin structure is similar with Indonesian people”. Don’t ask me from where I can get the theory. it is pure my personal assumption.)

junkisui series (courtesy: tensukemarket.com)

So, here the story goes …

I went to a make up store, consulted with the expertise there to choose the best product for me and then the conclusion comes to “kose-junkisui”. another “famous” series from kose is “sekisei”. But sekies series is dedicated for them who wanna get skin englightment. I pick all the product series. There are four of them and all of them cost more than USD 100. I just love the face lotion one and the others are rubbish. There’s no significant difference I got thru that products. Let me make the review of this product

1. Kose Junkisui – Facial Wash

I think, this is good (since you don’t know the price). it cost US$ 23. the products promise you to make your face shiny with the oil controlling power. After one month usage, i found my face is still in oily condition. Unfortunately, eventhough some said that this product is good but it doesn’t work for me.

2. Kose Junkisui – Mosturizer

I think this is the best from this series. Compared to my previous skincare, this product can reduce the oil in your face but still does not give you any guarantee to vanish them all. It cost US$35 for 120 ml.

3. Kose Junkisui – Refreshing Toner

First impression of this product is it smeels good, it is so herbal. It cost US$ 35. You apply this unto your face after washing it first. Put a little of this toner into your cotton face and apply it on your face smoothly. Some said this is good product, but still i found my self feel dissapointed that this product does not work for me.Actually it will clean your face (as every toner does), but does not give you any result to reduce the oil on your face.

4. Kose Junkisui – Refreshing Spots Serum

It costs US$30 and it doesn’t even dry your acne. Still, I feel dissapointed with this product. I never recommend this product to anyone anytime. Better use your money for something useful, but big no for this products.

From 5 scale, this product only gets 2.5 (middle)

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2011 in Experience, Opinion

 

sotoy

Karena menikah, bukanlah sebuah prestasi keren …. ~ Tiga Venus by Clara Ng

Well, walau saya tidak menyukai ini tapi terkadang saya menyerah dan menyetujui bahwa terkadang beberapa wanita adalah mahkluk paling lebay di dunia ini. Bukan tidak beralasan juga saya mengungkapkannya. Cerita ini diawali, beberapa hari lalu seorang teman (teman lho, bukan sahabat … artinya teman = hanya kenal seperlunya dan tidak mengetahui detail kehidupan saya. singkat kata, hanya kenal saya sedikit tapi memiliki level sotoy yang luar biasa).

Ok, saya sekarang menyandang status single dan so far, i enjoy my life. It means, kalau saya merasa nyaman dengan hidup saya, saya tidak menuntut terlalu banyak dari orang lain selain hargai saya saja. Nah, kembali ke si teman ini … akhirnya mulailah dia dengan maksud “perjodohan” antara saya dengan seorang kenalan dia (sotoy nomor 1. karena saya tidak pernah meminta dia untuk mengenalkan saya ke seorang pria). Awalnya saya menanggapi dengan baik dan sopan serta tidak menjanjikan apapun kepada dirinya. Bagi saya jika berkenalan dengan orang baru, saya selalu bersikap terbuka dan positif. Jika memang pada akhirnya cocok, maka persahabatan atau masa pacaran terjalin tetapi jika juga pada akhirnya menemui jalan buntu, berteman juga bukanlah pilihan yang buruk.

Entah setan apa yang merasuki teman saya ini, pada akhirnya saya mendapati diri saya terlalu direcoki terlalu dalam karena dia seakan keberatan dengan ide saya tersebut. Inti di otaknya itu cuma satu “kami harus jadian”, tentu saja saya tidak menyukai ide ini. Saya mikir “siapa lo bisa nge-push gue?”. Mulailah dia mengeluarkan jurus sotoy nomor 3 dengan menyebut saya orangnya susah diajak berteman, terlalu tertutup, terlalu mandiri dan merasa bahwa hidup sendiri itu adalah hal terbaik yang bisa saya dapatkan.

Dengan emosi tertahan saya mengatakan kepada dia untuk tidak terlalu mencampuri urusan saya dan mengeluarkan jurus sotoy berikutnya. Jika dia merasa saya begitu dan susah untuk berkenalan dengan orang lain, harusnya masalahnya simple donk? tinggalkan saja saya dan cari wanita lain yang mungkin mulai memasuki tahap “kebelet nikah”. Kenapa dia harus membuang waktu, tenaga (dan juga pulsa) untuk membujuk saya yang konon katanya “berkepala batu dan berhati baja” ?.

Dia mulai bercerita bagaimana dia merasa terbantu setelah memiliki pacar (red: cowok membacanya: dimanfaatkan). Saat dia sedang lembur, maka cowoknya akan menjemputnya, saat dia ingin jalan-jalan, tentu saja sang pria akan datang untuk mengantar dan menjemputnya. Belum lagi, betapa bahagianya saat cowoknya kadang mentraktirnya atau membelikan sepasang sepatu, dan yang terakhir sepertinya cowoknya benar-benar serius dengannya karena beberapa bulan yang lalu pria tersebut mulai mencicil sebuah apartemen di daerah pinggiran kota.

Setelah merasa cukup lelah dengan caranya, dia mulai mengeluarkan jurus sotoy berikutnya yang mengatakan bahwa “semua temannya (bukan teman gue) yang menikah dan memiliki anak adalah manusia paling bahagia di muka bumi ini”. Sehingga, setiap kali dia menerima undangan pernikahan dia selalu membayangkan alangkah bahagia tak terbatas jika dia segera dilamar, menikah, memiliki anak dan tinggal di sebuah rumah yang asri serta dikelilingi tetangga yang menyenangkan dan ramah luar biasa. Kalau diteruskan mungkin cerita itu akan menjadi begini “kami memiliki villa di puncak dan setiap minggu anak-anak kami akan berlari di taman beserta anjing pudel kesayangan keluarga. dari arah belakang rumah akan tercium bau kambing guling yang menggugah selera serta bla-bla…bla .. !”

Saya tidak ingin memuntahkan teori dan angan-angan dia. Bagi saya hidup adalah apa yang kita rasakan, kita hadapi dan bagaimana respon kita terhadap rangkaian kejadian dalam hidup kita. Menjadi seorang lajang di tengah ibukota jakarta ini bukan menjadi nilai mati bahwa saya tidak pernah bahagia dan menikmati hidup saya. Sebaliknya menjadi seorang istri/suami/ayah/ibu juga bukanlah menjadi nilai mati bahwa mereka selalu bahagia dan tersenyum seakan semesta ini tercipta buat mereka saja. Kita hidup di dunia dengan segala macam permasalahan, rejeki dan komponen-komponen kehidupan lain dalam rentang waktu 1×24 jam, serta siklus 365 hari dan seterusnya. Hal yang baik yang bisa kita lakukan adalah bagaimana setiap hari itu, dengan berbagai cerita dan kemelut di dalamnya, membuat kita menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi dari hari kemarin dan mengajarkan kepada kita hal-hal baik, tanpa memandang apa status sosial dan jenis peran yang kita jalani dalam suatu komunitas.

Terkadang saya tidak habis pikir beberapa orang yang mengaminkan formula seperti ini, SINGLE = VIRUS = MEMATIKAN. Seakan-akan hidup menjadi lajang itu harus segera diakhiri sebelum mulai berkembang dan mewabah. Selama single itu masih mengikuti norma yang berlaku di masyarakat/agama, tidak mengganggu pasangan orang lain maka harusnya dipandang sebagai mana seharusnya dia dipandang.

Bukan berarti tulisan ini saya mengatakan bahwa saya begitu memuja dan mengagungkan hidup melajang, i don’t mean that. Saya masih percaya bahwa suatu hari nanti, dengan caranya sendiri saya akan menemukan seseorang yang disebut “jodoh”. Saya hanya tetap perlu tetap mencari dan membuka hati saya. Dan satu lagi, masalah jodoh seseorang adalah termasuk masalah pribadi seseorang, antara pribadi dia dan pasangannya. Bukan menjadi konsumsi publik. Terkadang ada saatnya juga kita bisa menghargai keputusan seseorang yang enggan membagi cerita romansanya. Terlihat sendiri juga bukan berarti tidak ada pasangan bukan ?

Kembali saya comot kata-kata favorit saya (see my last two posts)
“Setiap kita pribadi hidup di bumi memiliki hak dan kewajiban, sudah menjadi tugas kita untuk mencari kebahagiaan di kehidupan yang singkat ini walau dalam bentuk sekecil apapun”

 
5 Comments

Posted by on June 28, 2011 in iseng2, Life

 

love & release

Saya bersumpah untuk tidak cepat jatuh cinta kepada lawan jenis. Hubungan bertahun-tahun yang saya bina dengan seseorang dan saya gadang-gadang akan menuju pelaminan ternyata harus kandas juga. Mungkin kelihatan terlalu sinetron, tetapi hati saya hancur berkeping-keping. Saya mengingat semua waktu, tenaga dan pengorbanan untuk hubungan ini ternyata bukan jaminan menjaga hati seseorang selalu tertuju kepada kita. Setidaknya saya merasakannya saat ini. Beberapa teman memberikan penghiburan dengan mengatakan mantan saya itu adalah bajingan sejati, heart killer, manusia tidak tau diri dan segala caci maki yang mereka bisa pikirkan saat itu dengan satu tujuan pasti, yaitu “menghibur saya”.

love hurts !

Saya berterima kasih untuk semua cacian itu walaupun sebenernya pihak yang tersakiti hanyalah saya sendiri dan bukan mereka. Tetapi seperti yang pernah saya dengar dari seorang teman, salah satu cara ampuh untuk melupakan sang mantan adalah dengan memikirkan kejelekan dan keburukan mereka serta mengingat hal positif yang kita punya serta menilai betapa bodohnya mereka bisa meninggalkan seseorang yang baik seperti saya. Saya tidak ingin membohongi diri saya, saya terluka, saya benar-benar merasa terjatuh dan dikhianati. Pada akhirnya saya mendapati diri saya bahwa saya butuh menangis, berteriak atau hanya berkata kepada diri saya sendiri di sebuah cermin untuk meluapkan emosi saya yang menurut saya harus segera dikeluarkan sebelum saya mendapati diri saya meledak dan berpencar ke segala arah.

Selain saya kelihatan semakin payah, setidaknya begitulah teman-teman memberikan penilaian terhadap penampilan fisik saya. Saya juga harus mengikhlaskan beberapa kg bobot tubuh saya menyusut. Untuk hal ini saya boleh senang sedikit, setidaknya saya bisa menghemat beberapa koin dari penghasilan saya untuk membayar iuran fitness (Memang dasar oportunis, bisa-bisanya saya melihat keuntungan dari sakit hati yang masih mencoba untuk sembuh).

Saat saya memandang diri saya ke cermin di kamar saya, akhirnya saya menyetujui pendapat rekan kantor, teman nongkrong dan manusia lain yang mengenal saya bahwa saya dalam keadaan payah yang mungkin dalam beberapa minggu lagi jika dibiarkan berkepanjangan maka saya akan menjelma menjadi manusia payah bin konyol. Setelah berubah menjadi manusia payah, maka teman-teman saya mulai akan meninggalkan saya karena saya memilih terpuruk dengan kisah cinta konyol saya. Manusia cenderung tidak ingin berteman dengan manusia payah, karena friends for benefit itu selalu ada walau dalam bentuk kecil sekalipun.

Akhirnya saya menyadari, saya tidak ingin berakhir payah seperti ini. Apalagi setelah saya melihat sang mantan kelihatan baik-baik saja dengan kekasih barunya, menikmati hari-hari bersama mereka seakan saya menjadi sebatang rumput di pinggir jalan yang nasibnya selalu diabaikan. Dia tidak merasa berdosa atau terganggu dengan perubahan saya menjadi manusia payah. Saya selalu mengatakan setiap manusia bertanggung jawab terhadap perasaannya dan takdirnya kelak. Tapi kenapa saya sekarang malah mengingkarinya ? do i turn to be a hypocrite?

Saya memutuskan saya harus bangkit lagi. Saya tidak bisa mengelak kalau saya patah hati, hancur dan nyaris menjadi manusia payah. Segala cerita kegagalan cinta saya itu harus segera dibuang dan saya menyadari bahwa sebenarnya saya punya sumber untuk keluar dari situasi ini. Saya tidak ingin dengan berakhirnya hubungan saya dengan dia, saya semakin menyimpan cinta itu jauh masuk ke dalam hati dan hidup saya sehingga membentuk monumen batu di dalamnya. Saya harus mulai belajar melepaskan karena itulah satu-satunya cara untuk menghilangkan sakit hati saya. Walau saya yakin ini akan menjadi berat, tapi saya tidak akan pernah tahu apakah saya sanggup atau tidak sebelum mencobanya. Melepaskan dan membuat ruang kosong di hati saya untuk diisi kembali. Semua orang punya cerita sedih dan tragedi. Tapi setelah saya pikir-pikir, ternyata putus cinta itu bukan tragedi yang harus dikenang sepanjang sejarah saya menjadi manusia dan anak cucu saya kelak akan mengingat saya sebagai “korban patah hati berkepanjangan”.

Lagi pula, tampang saya juga gak jelek-jelek banget serta karir saya juga masih panjang. Saya yakin bahwa di luar sana, akan ada cinta lain yang sejati buat saya. Yang perlu saya lakukan adalah stay charming dan membuka pintu hati saya selebar-lebarnya untuk semua kemungkinan. Seperti salah satu teman saya pernah katakan kepada saya :
“Hidup di dunia ini sangat singkat dan masing-masing dari kita memiliki hak dan kewajiban. Mencari kebahagiaan adalah salah satu tugas kita di kehidupan yang singkat ini. Kita harus menemukannya walau dalam bentuk paling kecil sekalipun”

finding the one !

 
7 Comments

Posted by on April 18, 2011 in Life

 

movie : the company men

courtesy of IMDB

Taglines: In America, We Give Our Lives To Our Jobs. It’s Time To Take Them Back !

The story centers on a year in the life of three men trying to survive a round of corporate downsizing at a major company – and how that affects them, their families, and their communities.

Released Year : 2010
Director: John Wells
Writer: John Wells
Stars: Ben Affleck, Chris Cooper and Tommy Lee Jones

Cerita ini dimulai dengan gambaran betapa bahagianya hidup menjadi seorang Bob Walker. Bekerja dengan posisi Kepala Divisi Sales & Marketing dengan umur yang cukup muda (37 tahun). Memiliki sebuah rumah dengan semua perlengkapan untuk layak disebut sebagai rumah nyaman dan bahkan relatif mewah. Memiliki 2 orang anak yang cantik dan tampan serta seorang istri yang cantik, FTM (full time mother) dan super pengertian.Mengendarai sebuah motor sport mewah (Porsche) dan tentu saja keanggotaan eksklusif di klub golf. What a perfect man ! I bet that everyone wants to kill for that amazing life.

Tragedi dimulai ketika dilakukan PHK besar2an karena perekonomian seluruh US yang benar-benar tidak OK banget, dan apesnya Bob Walker adalah salah satu dari korban PHK tersebut. Akhirnya dengan sisa harga diri yang dia punya, dia mulai bangkit lagi dan mencari pekerjaan yang layak (layak bagi dia tentunya, bukan bagi orang secara umum). Tapi dengan pengalaman kerja serta dengan penghasilan besar yang dia terima selama bekerja di GTX, tentu saja tidak mudah bagi perusahaan untuk mempekerjakan manusia seperti dia. Hal ini ditambah kenyataan, ribuan MBA diluluskan oleh berbagai perguruan tinggi. Relatif masih muda, keinginan yang menggebu, otak yang masih cepet buat diajak kompromi ditambah lagi kenyataan bahwa mereka bisa dibayar murah dengan alasan fresh graduate (this is the reason why a company have a tendency to hire fresh graduate).

Tak ada perusahaan yang mau mempekerjakan dia, membuatnya menyerah dan menerima pekerjaan dari iparnya sebagai pekerja bangunan (agak lebay sih, dari seorang ekspatriat banting setir menjadi pekerja bangunan. Apalagi memiliki wajah tampan ala ben affleck). Bob menjual rumahnya, menjual porsche kesayangannya, berhenti dari keanggotan golf dan akhirnya istrinya memilih untuk mulai bekerja lagi.

Di lain sisi, keadaan GTX tidak menjadi lebih baik. CEO perusahaan adalah manusia yang menurut saya tipikal kejam dan berhati dingin. Dia lebih memilih masuk dalam 50 CEO dengan penghasilan tertinggi versi majalah forbes dan memecat executive BOD serta ribuan karyawan lain serta upgrade gedung kantor daripada mempergunakan dana tersebut untuk hal-hal lain yang memiliki prioritas lebih penting (seperti dewan rakyat yang duduk di Senayan saja. Tapi dia masih mempergunakan uang sendiri sedangkan yang di Senayan menggunakan duit …. *gak usah dibahas, malah bikin tambah keki …. #menatap nanar ke slip gaji yang dipenuhi segala detail potongan pajak negara).

Akhir ceritanya gimana?
Seperti biasa karena ini film ini menurut saya tujuannya adalah motivasi dan memberikan pesan kepada semua pekerja secara global, maka tentu saja akhirnya happy ending. Pada akhirnya, Gene McClary (mantan BOD GTX yang mengalami perihnya pemecatan) mengajak korban-korban PHK lainnya membangun usaha yang sama ditambah layanan konsultasi strategi, memperbaiki dan menggunakan kembali pabrik GTX lama yang terabaikan, dan berkeyakinan bahwa dengan keberanian dan entusiasme yang tinggi, mereka akan bisa membangun usaha tersebut.

Di dunia lain, Lauren berakhir menjadi seorang janda setelah suaminya, mantan BOD GTX (Phill Woodward) yang mengalami pemecatan memilih untuk bunuh diri karena merasa harga dirinya hancur semenjak resmi menjadi penggangguran.

Moral cerita dari film ini yang saya dapatkan adalah (this is my personal opinion)
- love your job, but not your company because you don’t know when they stop loving you (and finally dump you)
- being fired is not the end of the world as long as you are capable, have faith, courage and enthusiasm.
- a company can stop your path career there but they can’t stop your brain to think and create another brilliant idea (canggih ya bahasa gue …? hahaha ….)

finally, happy watching anyone !

 
2 Comments

Posted by on April 18, 2011 in Movie, Opinion

 

Life, as we know it ! (personal’s view)

Kehidupan ini adalah sebuah siklus. Saya percaya segala sesuatunya akan kembali ke suatu titik akhir. Kelahiran akan diakhiri dengan kematian. Kebahagiaan di hari kelahiran selalu akan ditutup oleh air mata kesedihan di hari kematian. Entah suka atau tidak, begitulah hidup ini adanya. Bahkan jalur yang terbentuk juga memiliki persamaan. Seperti alam yang terbentuk, ada bukit dan lembah, hidup juga demikian adanya. Ada saat dimana kita merasa bahagia, dan merasakan jiwa kita keluar sesaat dan merasakan “hidup ini indah dan aku ingin hidup lebih lama”. Sebaliknya, ada lembah yang kadang mengajak kita jatuh bersamanya hingga ke dasar dan membuat kita mengambil keputusan sesaat “saya lebih baik mati saja”.

 

life !
life in kanji (courtesy of : http://www.halcyonflux.com)

Masalah, telah ada seiring dengan eksitensi manusia. Jenis masalah dan resistensi terhadapnya juga memiliki keragaman tersendiri. Sebagian bertahan dan kebal oleh karenanya, sebagian memilih untuk berhenti sebelum tiba garis finish. Sebagian memilih untuk berbagi cerita dengan orang lain dengan alibi meringankan beban sebagian memilih untuk diam dan menyimpan dalam hati. Beberapa tahun yang lalu, saat saya masih dalam keadaan lugu dengan seragam biru putih saya, teman terdekat saya kehilangan kedua orangtuanya. Jabatan anak sulung membuat posisinya menjadi serba sulit. Cita-cita yang sudah dia rancang di hari depannya menuju ketidakpastian dan bahkan mustahil. Dia memiliki banyak adik yang mau tidak mau menjadi tanggung jawabnya. Walau tidak suka, tapi inilah suratan takdir bahwa dia harus berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi terlebih kepada saudara kandung yang menjadi warisan kematian orangtuanya. Di sisi lain, saya memiliki seorang teman wanita. Perihal uang bukanlah hal yang berat bagi dia seperti teman saya. Dia hanya ingin suaminya menjadi lebih manis, lebih melihatnya sebagai pasangan hidup bukan sebagai aset yang harus dijaga dengan sikap posesif. Terkadang dia merasa, haknya sebagai manusia dipertanyakan. Tetapi kepada siapa menuntutnya? Di lain hari, saya juga memiliki seorang teman dengan orang tua yang sangat suka sekali mendikte. Sepertinya sejak dia lahir, jalur hidupnya sudah ditentukan. Umur 7 tahun akan kemana, beranjak dewasa menginjak belasan akan menjadi apa, dan tiba waktunya menentukan pasangan hidup, hal itu juga tak lepas dari dikte sang orang tua. Hal ini belum lagi ditambah dengan kenyataan hidup bahwa beberapa manusia di belahan dunia ketiga hidup dengan pendapatan di bawah rata-rata dan tidur beratapkan bintang saat cerah dan curahan air di saat hujan.

 

life, lonely, sad, happy …

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengalami depresi yang begitu hebat. Saat itu saya merasa bahwa dunia ini tercipta untuk banyak orang, tetapi bukan saya salah satunya. I mean, the world choose someone else but me. Saya hanya menjalani saat-saat yang ada hanya karena sebuah mekanisme otomatis tanpa ada warna di dalamnya. Seperti detik berganti selama 60 kali menjadi menit, dan menit berdetak 60 kali menjadi jam begitu seterusnya sampai menjadi hari, minggu, bulan dan berganti tahun. Tepatnya, saya seperti zombie. Saya kehilangan berat badan beberapa kg dan kelihatan lebih kurus dari pertama sekali saya datang di sana. Saya memutuskan bahwa saya harus melakukan sesuatu, menemukan hobby baru dan orang yang bisa menerima saya apa adanya. Saya percaya bahwa cinta yang sesungguhnya terbukti saat kita bisa menerima orang lain apa adanya, terlepas dari kelemahan yang dia punya. Saya tidak ingin berakhir menjadi seorang zombie.

Saya tidak ingin membandingkan masalah saya dengan mereka yang mungkin kelihatannya saya lebih beruntung dari mereka atau sebaliknya. Penderitaan dan kebahagiaan sudah menjadi paket yang tidak bisa lepas dari manusia semenjak dia diputuskan untuk hadir di planet yang bernama bumi ini. Hanya tidak semua orang bisa membagi porsi yang sama antara tertawa dan airmata. Saat saya memutuskan untuk menemukan hobby baru dan membuka pergaulan saya terhadap orang lain saya tahu bahwa saya berhak bahagia menurut cara saya sendiri. saya hanya perlu membuka diri saya dan mengetahui bahwa sebenarnya saya mempunyai sumber-sumber untuk keluar dari masalah tersebut. Saat saya merasa secara pribadi saya hancur berkeping-keping bahkan saya merasa saya sudah melihat onggokan badan saya yang hancur telah tersebar kemana-mana. saya merasakan kebahagiaan saat saya menemukan hobby baru saya (membaca dan menulis) dan menemukan teman baru yang bisa menerima saya, saya tahu bahwa saya berhak bahagia. Saat saya menyentuh kebahagiaan itu dengan ujung jari saya, saya tahu saya tidak bisa berhenti sampai saya benar-benar menggenggamnya, merengkuhnya, membiarkanya mengalir ke seluruh tubuh saya dan merasakannya. Setiap kita pribadi hidup di bumi memiliki hak dan kewajiban, sudah menjadi tugas kita untuk mencari kebahagiaan di kehidupan yang singkat ini, walau sedang dalam masa kegelapan, dalam bentuk sekecil apapun.

I believe, everyone deserves happiness ! Happy Valentine Days !

 

 
5 Comments

Posted by on February 16, 2011 in 'bout me, Life

 

made of honor

So fellaz, a few days ago in my very boring time, then I picked up an old movie from my DVD Case. Not reallly old movie, it was 2008 and entitled “made of honour”.

made of honor

Jadi, cerita ini berkisah tentang Tom dan Hannah yang memutuskan bersahabat sejak dari jaman kuliah. Persahabatan yang dimulai karena kesalahpahaman Hallowen Night ternyata berlanjut terus sampai keduanya mulai bekerja. Nice friendship relationship I think. Si cowok, buaya darat yang walau buaya tapi tetap dikerubungin begitu banyak wanita (the term of “dikerubungin” here refers to Tom always has different girl to be slept with almost everynight. Cowok lain pasti mikir “what a lucky man !”).

Singkat cerita, temen jadi demen. Karena dari semua cewek yang pernah dia ajak tidur, hannah bukanlah salah satu dari mereka. Cewek yang memiliki prinsip “never slept with a man that she loves”. Di suatu malam yang indah, saat Tom merasa yakin bahwa dia hanya menginginkan Hannah untuk menjadi wanita terakhir dari hidupnya, Hannah mengumumkan pernikahannya dengan Collin dan meminta TOm menjadi pendamping pengantin…

Kadang memang cinta memang tidak saling memiliki, Tapi kalau pada akhirnya tidak saling memiliki, lebih baik diikuti dengan tidak saling memandang dan bertatap muka. Bah ! ini malah mau diminta jadi pendamping pengantin lagi. Dengan sisa ketegaran hati yang dia miliki (namanya juga pelem, segala sesuatu jadi mungkin). Tom membiarkan dirinya menjadi pendamping pengantin, menemani Hannah menghabiskan hari terakhir lajangnya sebelum akhirnya mengakhiri sisa hidup dengan seorang pria, yang tentu saja bukan dirinya.

Ending yang sangat ketebak, Happy Ending ! Pada akhirnya Tom dengan sisa kepercayaan diri dan nyali yang dia miliki jujur dengan perasaannya di hadapan Hannah dan (sekali lagi, namanya pelem) Hannah memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Collin di depan altar dan memilih Tom.

Apa moral dari cerita ini?
Film yang bernuansa komedi romantis ini diinspirasi oleh hal yang menurut saya sangat umum dan sering terjadi dalam kehidupan kita. saat kita bersahabat dengan seorang lawan jenis dan ternyata perasaan yang timbul semakin berkembang dari sayang seorang sahabat menjadi rasa sayang kepada seorang kekasih, adalah hal yang wajar. Ada beberapa yang beruntung menyadarinya sebelum sahabat diembat orang, tapi ada juga yang kurang beruntung hanya bisa gigit jari saat sahabat memilih orang lain dan bukan kita. Bukan karena kita enggan mencoba, tapi terkadang kita hanya membawa asumsi sendiri “dengan selalu jalan bareng dengan dia, sering sms gue yakin dia udah tau kalau gue tulus sayang ama dia”. Seperti cerita ini, Hannah tahu dan menyadari sepenuhnya kalau Tom itu sahabat yang baik dan selalu ada buat Hannah. Ditelpon tengah malem juga, Tom gak pernah marah. Diminta tolongin ini itu juga, Tom tetap membantu. Begitu pulak sebaliknya. But ! pengakuan berupa perkataan itu penting. Not all the people can read our mind perfectly, so better speak up before get losing !

 

Movie Quote:

“Nobody in the world makes me laugh the way you do. You’re my best friend. I just wanna be with you.”

 
1 Comment

Posted by on February 9, 2011 in iseng2, Life, Movie

 

facebook : the social network

It’s been long time that I did not made any movie review. Bukan  berarti saya udah berhenti dari hobby saya ini lho. Menonton bagi saya udah kayak candu, setelah membaca. Nah, film terakhir yang saya tonton adalah “The Social Network”. Asal muasal facebook (apa itu facebook ? hareee geneee gak tau dan gak punya facebook. Orang boleh gak punya duit, gak punya pacar, gak punya kerja, tapi haram jadah kalau sampe gak punya facebook). Begitulah pendapat teman saya beberapa belas bulan silam, setelah saya rada terbelakang memiliki account di jaringan pertemanan raksasa ini.

Saya bekerja di bidang IT selama lima tahun belakangan ini. Selama itu pula saya masih terkagum-kagum dengan jutawan-jutawan IT yang memulai bisnis raksasa mereka dengan mengetik bahasa-super-aneh yang setelah kuliah saya tahu bahwa itu adalah sintaks-program. Kekaguman itu termasuk juga kepada Mark Zuckerberg, yang kebetulan memilik persamaan dengan saya yaitu usia dan bidang pekerjaan. Kecuali kenyataan pahit, bahwa dia sekarang sudah menjadi CEO dengan penghasilan ratusan juta dollar (camkan ! ratusan juta US dollar setiap tahun) sedangkan saya masih tertatih-tatih dan untuk sementara waktu harus cukup puas bekerja sebagai seorang consultant di perusahaan Yahudi.

 

this is facebook buddy !

Dari segi jalan cerita, film ini memiliki jalan cerita standart. tipikal pahlawan gitu. Kebenaran akan selalu terkuak di akhirnya dan tentu saja sang jagoan akan muncul sebagai pemenang, walau dalam film ini pemeran antagonis tidak merenggang nyawa di ujung pistol sang jagoan. Cerita yang diawali pertengkaran mark dengan teman kencannya dan diakhiri kenyataan pahit bahwa he was dumped by a girl (saya gak tau apakah erica itu  bener-bener ada, dan kalau dia bener ada saya yakin sejuta kali yakin kalau dia menyesal pernah membuang seorang Mark). Untuk membalasa sakit hati karena udah dicampakkan, dia kembali ke asrama dan berniat balas dendam. He started to revenge by ranking the university girls over the states (yang jaringannya lemah, sehinngga dengan gampang dibobol oleh mark).

Respon terhadap website tersebut ternyata di luar dugaan dan diakses oleh ribuan mahasiswa dalam semalam. (Hal ini juga sangat hebat. Mark bisa bikin web yang bisa diakses ribuan user dalam satu waktu tanpa membuat aplikasi tersebut crash – i thought that they coded it on perl under linux, please CMIIW -. Aplikasinya gak bermasalah.. yang bermasalah adalah jaringan Harvard). Barang sejenis facebook ini bukanlah hal baru, sebelumnya telah ada aplikasi yang duluan ngetop di pasaran. Ada friendster dan myspace ( I have got account in both sites), jadi ketika si kembar Winklevoss menawarkan ide ini Mark tentu saja kepikiran pada kedua web tersebut dan sejujurnya dia sedikit pesimis. But he loves to code and loves the idea, akhirnya mark menyetujui ide tersebut. I don’t think and don’t see either, dimana mereka mulai diskusi, bikin blue-print atau tahap-tahap lainnya, tapi karena emang dasarnya udah seneng coding, theFacebook ini pada akhirnya diselesaikan oleh Mark sendiri dan investasi awal serta sosialisasi ke orang-orang dibantu oleh Eduardo Savirin.

Karena responnya bagus, maka Mark dan temannya mulai menawarkan web yang awalnya diberi nama “TheFacebook”  kepada kampus-kampus yang ada di negara bagian lain di US. Ibarat kata pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata web itu diterima dengan baik di beberapa kampus dan seperti yang udah bisa ditebak, theFacebook menjadi candu baru bagi mahasiswa-mahasiswa di sana. Jadi efek candu facebook yang ada saat ini ternyata udah bawaan lahir. Bahkan ada salah satu dialog yang saya anggap lucu di film tersebut :

Marylin Delpy: What are you doing?
Mark Zuckerberg: Checking in to see how it’s going in Bosnia.
Marylin Delpy: Bosnia. They don’t have roads, but they have Facebook.
[Mark says nothing]
Marylin Delpy: You must really hate the Winklevosses.
Mark Zuckerberg: I don’t hate anybody. The “Winklevii” aren’t suing me for intellectual property theft. They’re suing me because for the first time in their lives, things didn’t go exactly the way they were supposed to for them.

Dalam perkembangannya sampai seperti sekarang ini, Mark dan Eduardo dibantun oleh Sean Parker (a man who invented Napster) yang memperkenalkan web ini pada seorang pemegang saham. Walau pada akhirnya, mereka ini menjadi musuh Mark. Eduardo keluar dari Facebook karena porsi kepemilikan sahamnya berkurang dari 30% menjadi 0.3% sedangkan Sean tersandung masalah kokain. (if you don’t have time to watch this movie, you can find the whole story by accessing wikipedia. It will tell you more).

Saya merasa film ini masuk dalam kategori “must be watched !”. Kenapa ? :
1. Mark is inspiring. Gimana dia dengan umur semuda itu, dengan kreatifitas dan kerja keras bisa menghasilkan (says money) dan kesuksesannya sendiri. Hari gini masih ngarep warisan bokap/nyokap ?. I think you can put him as your role model.

2. Skenarionya keren. Most of them are reasonable scenario. Dialog favorit saya adalah :
“Gage: Mr. Zuckerberg, do I have your full attention?
Mark Zuckerberg: [stares out the window] No.
Gage: Do you think I deserve it?
Mark Zuckerberg: [looks at the lawyer] What?
Gage: Do you think I deserve your full attention?
Mark Zuckerberg: I had to swear an oath before we began this deposition, and I don’t want to perjure myself, so I have a legal obligation to say no.
Gage: Okay – no. You don’t think I deserve your attention.
Mark Zuckerberg: I think if your clients want to sit on my shoulders and call themselves tall, they have the right to give it a try – but there’s no requirement that I enjoy sitting here listening to people lie. You have part of my attention – you have the minimum amount. The rest of my attention is back at the offices of Facebook, where my colleagues and I are doing things that no one in this room, including and especially your clients, are intellectually or creatively capable of doing.
[pauses]
Mark Zuckerberg: Did I adequately answer your condescending question?

3. I love the wardrobe dan tentu saja sangat mudah dan murah untuk ditiru (anyway, you’ll only hear words “prada” but you won’t find it here. Intinya : pakaian and all the clingy things itu faktor yang gak penting banget. You won’t find people who had breakfast with a sun glasses like racing car).

4. International rating buat film ini juga bagus (last time i saw, 8.5 out of 10 – IMDB.com).

5. Film ini menggugah selera saya tentang facebook dan “software” canggih di belakangnya. Dan tentu saja om google memberikan semuanya.

PS : ini hanya berupa review sekilas doang. kalo mau tau komplitnya boleh dateng ke link ini !

 
1 Comment

Posted by on December 9, 2010 in Movie

 

Thanks-giving 2010

Baiklah, perayaan thanksgiving udah lewat beberapa hari yang lalu, tapi gak ada salahnya donk saya berbagi what i really thankfull for the this year :

1. To My Great and Mighty God
Seperti yang udah pernah saya posting di post sebelumnya. I believe in a Great God. Thanks a lot for makes me being me.

2. Thanks buat pekerjaan yang saya miliki walau saya masih bekerja bagi orang Yahudi, tapi terima kasih banyak buat nominal yang masih bertambah ke rekening saya di tiap bulannya.

3. Thanks buat orang tua yang masih dalam keadaan sehat dan selalu merindukanku dan menyebutku dalam doa mereka. Walau kita hanya bertemu seminggu penuh dalam setahun penuh. Thanks for my little family (Purba fams … for receiving me with smile and an opened-hand)

4. Thanks for all the people who related to my job. Ada mentor, pm dan orang-orang yang senantiasa memberikan telinga untuk mendengarkan curhatku dan memberikan wejangan saat dibutuhkan. Buat klienku (yang kadang suka marah-marah tanpa memiliki alasan yang cukup kuat. Tapi it’s reasonable dan membuktikan bahwa saya masih bekerja dengan spesies yang disebut manusia. Jika kalian tidak pernah marah, pasti saya udah berpikir bahwa saya bekerja dengan malaikat dan itu berarti bahwa saya udah mati. Remember ! every job has its own risk !)

5. Thanks buat marketing-marketing kartu kredit dan asuransi yang sering memberikan tawaran-tawaran “menarik” dari telepon. Walau kadang mengganggu saat saya sedang konsentrasi dari program yang saya kerjakan. Walau sedikit  menyebalkan, tapi hal tersebut mengijinkan mata saya berkedip lebih banyak dari sebelumnya. dan hei ! tidak ada manusia yang berbicara selembut dan sehalus para marketing kartu kredit dan asuransi. Thanks for that soft and tender voice !

6. Thanks buat antrian busway yang sepanjang anakonda di sungai amazon. Bermacam-macam aroma dan bau keringat yang saya temui membuktikan kepada saya betapa ajaibnya benda yang bernama cologne dan parfum, serta menunjukkan kepada saya bahwa mp3 player adalah benda yang paling menghibur untuk menghindari rasa bosen.

7. Thanks juga buat copet-copet di jakarta. Dengan adanya kalian, saya belajar “self-defence” dan menjaga setiap barang-barang yang saya beli pakai duit saya (hey fuckin’ thieves ! don’t ever play a game with me…)

8. Thanks internet dan google
Dengan adanya benda ajaib ini, maka saya tahu banyak (termasuk lelucon jorok yang sering dilontarkan oleh teman-teman pria saya. Sumpah !history search engine saya diisi oleh beberapa kata tidak senonoh, porn-star dan yang lain-lain. Udah rahasia umum, saat mereka melontarkan lelucon hanya 1 dari 10 pria yang akan menjelaskan ulang tentang lelucon mereka kepada wanita dalam bahasa yang bisa dimengerti sedangkan selebihnya hanya cengengesan atau bahkan ketawa nyablak !)

9. Finally, thanks for all the readers yang masih setia baca blog saya … (sounds narcism ? i know .. tapi ya namanya blog gue .. suka-suka gue donk !)

kali ini benar-benar terakhir … Happy Thanksgiving Day folks !

 
5 Comments

Posted by on December 2, 2010 in iseng2

 

Tuhan yang Luar Biasa

Akhirnya, apa yang saya percayai mengenai Tuhan sangat sederhana. Seperti ini – saya pernah mempunyai seekor anjing yang luar biasa. Dia datang dari tempat penampungan binatang-binatang yang tidak memiliki majikan. Dia merupakan perpaduan dari kira-kira sepuluh macam garis keturunan yang berbeda, tetapi sepertinya mewarisi semua hal baik dari garis keturunan tersebut. Anjing saya berwarna coklat. Ketika orang menanyakan pada saya “Jenis anjing apa dia ?”, Saya selalu memberikan jawaban yang sama. “Dia seekor anjing coklat”. Begitu juga, ketika pertanyaan diajukan, “Tuhan seperti apa yang kamu imani ?” Jawaban saya mudah saja : “Saya mengimani Tuhan yang luar biasa”

Elizabeth Gilbert – Eat, Pray, Love ~

P.S: nice quote to respect other’s belief. “Luar biasa” versi masing-masing orang itu adalah hal yang relatif. Kunci agar semua berjalan dengan baik adalah menghargai keyakinan/iman orang lain seperti kita menghargai keyakinan/iman kita sendiri. This post was already posted on my facebook note, but still I love it and decided to post it here too :)

 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2010 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.