Category Archive
The following is a list of all entries from the Opinion category.
friend + enemy ?
Bila kebetulan disini ada yang jadi penggemar serial Sex and The City maka dalam salah satu episodenya adalah Frenemies. Nah lho … istilah apa lagi itu?. Frenemies itu berasal dari dua kata, Friend dan Enemies. Artinya kadang di depan kita dia berlagak seperti sahabat, tapi di luar itu kita belum tentu tau hatinya kepada kita. Dalam situasi yang sangat ekstrem, kadangkala ketika kita membutuhkan sahabat buat berbagi hepi, eh malah dia gak seneng dan kadang malah jadi nyela.
Contoh kasus nih, mungkin cerita saya bisa menjelaskan sedikit.
Awal saya pindah kerja ke perusahaan sekarang, bisa dibilang sedikit mimpi ya. Kalo ditanya jujur sih, saya gak berani ngarep macem-macemlah. Yang ada di pikiran saya waktu itu. Tiap wawancara kerja ya sudah didatengin saja, gimana imej perusahaan kan ntar ketauan juga pas saya wawancara dengan mereka. Kadang awal kita gak sreg di suatu perusahaan, giliran interview kerja eh malah jadi berubah pikiran. Nah kembali ke pekerjaan saya. Thanks God, ternyata mereka menerima saya.
Dengan kebahagiaan menurut cara saya sendiri, saya cerita kepada teman saya soal ini. Emang sih awalnya dia bilang selamat akhirnya saya keterima bekerja di sana, tapi …. *tetep ada tapinya nih ...*
dia ngomong begini ke saya
“eh … tapi setau gue yah di perusahaan itu gak ada namanya software developer lho. Temen saya pernah cerita kalo itu perusahaan selalu outsource kalau kebetulan butuh programmer gitu. Jadi, tanpa mengurangi kebahagiaan elu, mending tanya dulu deh apa elu karyawan di sana bener2 apa cuma jadi pegawai outsource atau bahkan cuma magang beberapa bulan doang. Kan gak seru juga jadinya. Masa sih elu cuma jadi pegawai magang ?”
lain lagi dengan cerita teman saya *yang tentu saja saya tidak akan sebutkan namanya di sini*. Kebetulan dia sudah menikah dan saya bisa bilang mereka pasangan yang berbahagia. Di hari jadi yang kesekian beberapa bulan lalu, hubby nya kasih dia kado sebuah liontin emas berhiaskan berlian kecil-kecil di pinggirannya. Maka sebagai teman, di suatu kesempatan saat kita mengadakan “lady’s day out”. Dia bercerita dengan senangnya soal kado yang diterima dari suaminya. Teman yang lain malah nyeletuk
“Bagus sih kalungnya, tapi apa elu rasa ini kalung kagak kemahalan ? jaman sekarang lagi resesi begini, ditambah lagi elu juga meritnya baru. masa sih elu tega minta kalung beginian ama suami ? sayang duitnya. mending buat dipake nyicil rumah aja”.
Saya kurang mengerti maksudnya bagaimana, murni mo kasih petuah kepada teman-saya-yang-berbahagia-dengan-liontinnya atau mau nyela temen saya karena dianggap memorotin harta suami tanpa aware dengan kondisi finansial orang sekarang yang emang kadang gak jelas gara-gara resesi. Toh setau saya, teman saya ini bukan tipe orang yang manja dan harus selalu diturutin keinginannya atau bahkan memelas dengan sedikit tampang memaksa kepada suaminya untuk membelikan kado yang mahal.
Emang benar, punya sahabat itu anugerah atau beberapa orang menyebutkan punya seribu teman tak akan cukup tapi punya satu musuh sudah terlalu banyak atau pepatah lain mengatakan bahwa sahabat tidak akan menyembunyikan apapun dan selalu berkata jujur kepada kita. Tapi, dengan apa yang pernah saya alami, saya jadi memikirkan bahwa tidak semua sahabat itu adalah baik dan konon katanya mendukung dan menerima kita apa adanya. Sahabat yang baik itu akan memberikan kita nasehat tanpa terkesan menghakimi. Dia akan selalu ada di sana memberikan dukungan saat kita sedang mengalami hari yang tidak menyenangkan. Dia selalu ada saat kita senang dan sedih, karena dia sadar sepenuhnya kalo hidup itu gak seperti lagu india, bernyanyi riang di taman ditemani kupu-kupu dan bunga aneka warna dan diiringi ratusan penari alias hepi trus …
Dating a married man
Lately, women and all their world are in my mind. Can’t enough think that most of us, sometimes and in a very frequent condition, make our life become more complicated. Life is always simple but it’s a human habits to make it complicated. I have a girlfriend who totally in love with a guy. Nothing wrong with that untill I know that she’s been dating a married man. Obviously, I don’t think that she’s brave enough to confess it in front of me. She’s trying hard to hide it. Hope by reading this blog, she’s gonna know what I want from her and she realizes that she’s gone wrong so far.

A girl, like me, like you (perhaps, who are reading this post), finds that normal thing to date a guy and flirt with them unless they are rude,impolite, do not respect you or a married man. The last one, is a thing that I don’t wanna get involved. It’s such a forbidden relationship. Sure, okay, sometimes people fall out of love, marry the wrong person, are overcome with passion, or make bad choices, all of which can result in an affair. But the fact is quite clear. He’s not in love with you. It’s totally just a temporary happiness. See, if he thinks that you’ll be the only one for him then he finds a way to leave his wife and marry you afterward, not by promising any beatiful bullshit and tell you hundreds time that he loves you. Get a life girl. There’s a plenty good guys out there and you can have one for your own. You can handle this situation for sure: Stop seeing each other, you don’t even have to reply his sms or get his phone call, let him figure out his life. If he ends up staying with his wife, then you would have been the girl who was having an affair with the guy who was never planning on leaving his wife. If he does leave his wife, then you can start a life with him with not based in shame.
Hope you will understand dear
Lowongan “Gatot Kaca”
Di hari-hari yang semakin gak jelas bagi gw … Maka gw mutusin pengen hengkang dari kerjaan gw yang sekarang dan mencari yang baru yang “lebih baik”. Beberapa lowongan kerja itu masuk akal di saya, tapi sayang spesifikasinya gak sesuai dengan ilmu yang gw miliki. Nah di antara beberapa lowongan itu ada juga beberapa yang masuk dalam kategori edan.
Mungkin bisa diperhatikan seperti contoh di bawah ini?

ato gimana pendapat pembaca liat ikaln lowongan yang berikut ?
Udah liat kan lowongannya? Menurut loeorang (apalagi untuk beberapa orang yang melek IT dan mungkin sudah berkecimpung di dalamnya, bahkan tidak jarang sampe mimpi inkeyboard, mouse, ato jeroan komputer lain), berapakah salary yang ditawarkan oleh pekerjaan jenis ini, apalagi tulisan “fresh graduate encouraged to apply”? Menurut logika gw pribadi sebagai orang awam membaca spesifikasi kerja adalah spesifikasi seorang IT profesional yang superman. Jika spesifikasi yang dibutuhkan adalah superman/gatot kaca maka salary yang ditawarkan juga adalah salary superman ato gatot kaca dan bukan salary “niubi”. Jika masing-masing keahlian diberikan salary niubi maka total salary yang “seharusnya” ditawarkan adalah
jumlah keahlian yang diminta * Rp. 1.5 jeti (asumsi salary seorang niubi). Maka total gaji per bulan adalah (kaliin aja dah sendiri).
NB: sangat disayangkan, gw gak boleh ungkapin identitas pemilik perusahaan berskala “nasional” (untuk gambar pertama) atau perusahaan joint-venture yang “konon katanya” berskala “global” yang nulisin lowongan tersebut. Dan fakta yang sering ada di lapang, spesikasi superman gak menjamin kalo salary juga superman …
Fashion Disaster …
Jadi ceritanya begini nih …
Secara gamblang dan terbuka, boleh gw bilang gw itu tipikal orang yang casual dan chic dalam memilih pakaian … dalam artian gw gak terlalu “trend-minded” dan biasanya gw milih pakaian yang nyaman di gw dan nyaman juga diliat orang. Cara pandang orang boleh donk gw jadiin pertimbangan bagi gw dalam berpakaian, mana sanggup gw jalan di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota dengan tatapan mata menyedihkan dari orang-orang tentang keadaan baju gw yang tak kalah menyedihkan juga. Keadaan yang ada sekarang, gaya berpakaian gw tergolong normal dan it doesn’t need a police fashion to fix it up.
Jadi kembali ke akar permasalah dan lupakan sejenak soal menyedihkan dan sebangsanya …
Fellaz, pernah gak ketemu dengan orang yang merasa dirinya setara dengan Gianni Versace kalo dalam taraf global atau Oscar Lawalata dalam tahap nasional ato … *loe boleh sebut deh nama desainer kondang lainnya. Nah … gw lagi ketemu orang yang beginian. Hampir dari ujung kepala ke ujung kaki kena protes dan komplain dari miss “yang merasa” perfek (kalo dia mah merasa dia ntu miss perfect).
I don’t mean that I’m a very stubborn girl which I automatically ignore what others say about my style .. itu bukan maksud gw. Kalo dalam kadar itungan jari masih bisa diitung sih mungkin gw masih bisa nerima dan tepa seliro (tiba-tiba inget istilah PMP jaman es de dolo). Tapi yang ini sodara-sodara, kayanya dengan begitu baik dan tanpa tertekan dia udah masukin “hal” tersebut dalam agenda kegiatan rutin nya. Di sisi lain gw merasa terhormat dengan penghargaan ini, tapi di sisi lain gw merasa risih. Lagi juga … klo dari segi kacamata fashionista ini orang bisa masuk itungan sih ya gpp, tapi sayang sekali … the way she puts herself in fashion gak jauh lebih baik dari gw.
Dia kebanyakan harajuku van java (artinya: dia juga sering make baju ala harajuku versi sumedang), tapi untuk kasus ini gw males nanggepin keadaan dia yang hampir masuk dalam taraf “chaos”. Moga-moga ke depannya doi gak sampe dapet predikat “fashion disaster”…
Pernah ada yang dapet kasus kaya gw? boleh deh di-share disini galz ….
NB : gambar di atas (see the jeans …. gak banget kan? dah sedikit kuncup di tambah sendal tali dengan motif ular sangar plus stocking yang baru pertama kali gw liat ….). Ini gambar gw dapet dari hasil googling dengan keyword “fashion disaster” ….
cerita tukang asongan …
Ceritanya ini sih udah seminggu yang lalu dan settingnya di bus mayasari bhakti 507 jurusan pulo gadung – tanah abang (ya udah dech gw jujur ajah, ini bus yang paling gw cintain secara nih bus yang anterin gw pulang – pergi kantor dan kosan). Malem itu gw janjian ama temen gw yang pengen curhat, jadi biar pulangnya gak susah … kita janjian ketemu di atrium. Pas gw mo turun (tau donk tata cara turun di bus di kota jakarta nan sumpek ini, walo lokasi pemberhentian masih 20 m di depan mata, kita udah pada berdiri dolo), di sebelah gw dua orang gelandangan gitu lagi adu argumen .. yang satu pengamen dan yang laennya tukang asongan gitu.
Percakapan mereka yang sebentar itu kira-kira bunyinya begini:
gelandangan I : “Kmaren Pak Amir cerita klo caleg si X (gak boleh sebut nama, karena gw jg gak kenal) itu orangnya baik, kaenya dia bisa bikin kita sejahtera”
gelandangan II : “kata sapa? loe ngomong tuh yang bener “
gelandangan I : ” bener katanya … dia orangnya baek dan suka nyumbang gitu”
gelandangan II : ” eh bro (halah .. ternyata gelandangan pake kata bro juga) loe tuh jangan mao ketipu. Itu mah cuma akal-akalan kampanye dia doank, trus klo dia udah jadi anggota DPR mao gimana? loe kira kita bakalan kaya dan dia inget ama loe. Buktinya selama ini … mo sapa aja anggota DPR tetep aja kita jadi tukang asongan. Udahlah turun .. ngamen lagi .. loe kebanyakan ditipu”
*dalam hati gw pengen ngakak, tapi takut digorok karena nguping pembicaraan orang tanpa ijin. Gw cuma senyum dalam ati dan mikir … tukang asongan ajah bisa jeli liat persaingan caleg yang makin hari makin audjubille mizali gak jelas, apalagi kita yang ngakunya lebih intelek …
(tiba-tiba di kejauhan sontrek pemilu
“pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya … ”
semakin lama terdengar semakin nyaring)
Pria Pelit …
Postingan kali ini gue pengen cerita betapa gokil sekaligus menyedihkannya berkencan dengan seorang cowok pelit. Walau mereka sebenarnya bukan pacar kita. Tapi mungkin slogan yang beberapa tahun lalu menjadi ciri khas ‘AXE’, kesan pertama begitu menggoda … (u know it better than me surely) – Selanjutnya terserah anda. latar belakang kenapa gue pengen share topic ini karena beberapa waktu lalu gue baru aja selesai baca buku Why Men Marry Bitches karangan Sherry Argov. (this book is totally recommended, seenggaknya di buku ini diajarin cewek untuk jadi nice girl tanpa berusaha memakai topeng nice girl).
Gue punya pengalaman jelek tapi belakangan kalo gue pikir-pikir itu adalah pengalaman yang lucu dan seenggak-enggaknya nambah kamus hidup gue tentang karakter orang terlebih tentang ‘your opposite sex’.Gue pernah berkencan dengan seorang pria yang pelit (moga-moga gak sampai kikir). Dari awal niat gue baik dan mengeluarkan duit 30rebo untuk membeli 2 tiket nonton yang baru release bukanlah hal besar. Gue masih bisa hidup layak di jakarta ini. Keanehan pertama muncul sejak dia batalin pengen makan malam sebelum nonton. Gue gak ambil pusing dan memilih masuk ke sebuah supermarket untuk beli roti dan minuman (dia juga nitip di sini). Keanehan kedua muncul setelah gue liat dengan keadaan yang mulut baru saja makan. Dari situ perasaan gue gak enak dan sampe akhir nonton dia tidak bahas soal tiket dan minuman buat dia yang tentunya gue beli dengan duit gue sendiri. Itu adalah pengalaman pertama dan terakhir gue dengan dia. Sebuah tiket dan sekaleng minuman emang bukan sebuah nilai yang gede jika diliat dari nilai nominalnya. It’s about the way he treats the lady. Dan itu cukup ngajarin gue untuk gak akan nonton dengan dia lagi.
Gue baca buku ini itu dan gue liat ada beberapa wanita di belahan bumi lain yang ternyata mengalami nasib yang sama dengan gue.
Samantha …
Cerita Samantha yang berkencan dengan seorang lelaki yang sangat pelit. Kami menjuluki lelaki itu Squeaky (saking kikirnya). Sebelum makan malam, lelaki itu berhenti di sebuah ATM dan membiarkan Samantha menunggu di dalam mobil ketika dia mengambil 20 dollar. setelahnya, lelaki itu kembali ke dalam mobil dan meletakkan uang 20 dollar yang diambilnya tadi di atas dashboard seolah-olah memberi tahu Samanth bahwa “hanya segini nih budget kencan kita”. lalu dia mengajak Samantha makan di tempat murahan dan mengusulkan mereka berbagi makanan appetizer yang sangat berminyak itu. mereka pergi dari tempat itu dengan tagihan 20 dollar termasuk tip dan kamu melihat betapa jelas hal itu mengesalkannya. lelaki itu betul-betul butuh minyak 3-in-1 yang ampuh untuk membuka dompetnya.
Cerita lain dari seorang pramugari dan dia bercerita pada saya tentang suatu ketika dia pergi berkencan dengan seorang lelaki ke bioskop. Lelaki itu bertemu dengannya disitu untuk kencan pertama mereka. Ketika dia membeli tiketnya, lelaki itu mengeluarkan tiket 2 for 1 yang artinya si pramugari itu bisa nonton gratis. mereka enggak makan malam dulu karena lelaki itu bilang ‘aku enggak lapar”. Padahal pramugari itu lapar berat, jadi ketika pramugari itu bilang dia pengen hotdog, lelaki itu berkata “kita duduk dulu deh, baru nanti beli makanan”. Setelah mereka duduk di kursi mereka, ternyata laki-laki itu tetap duduk di kursinya. Akhirnya pramugari itu berdiri dan berkata,” aku mau beli hotdog. Loe mau sesuatu gak?”. Lelaki itu menjawab “Oke, aku mau large coke, tunggu dulu …”. Lelaki itu membuka dompetnya sang pramugari mengira bahwa lelaki itu akan memberikan uang pecahan 20 dollar-a n dan eng ing eng … GUBRAK banget !!! karena ternyata pria itu mengeluarkan kupon ONE FREE 32-ounce dan memberikannya kepada wanita itu.
Hal yang berikut malah lebih GUBRAK kuadrat lagi …
(sumbernya tetap juga dari buku yang sama) …
Chloe diajak kencan ke sebuah pertandingan baseball untuk kencan pertama dengan seorang lelaki bernama Joe. Setelah pertandingan usai dan mereka dalam perjalanan pulang, Joe menagih Chloe untuk tiketnya. Chloe bilang dia gak bawa duit pada saat itu dan akan mengirimkan cek untuk Joe. “Tiket kamu harganya 36 dollar.Kamu kasih aku saja 40 dollar karena termasuk biaya bensin. Biar nachos dan hot dogs aku yang bayar”. Chloe membalas
“Uhmm … kamu kan mengundang aku ke pertandingan ini, jadi aku gak siap bawa uang sama sekali nih”. Joe menjawab “Aw, nggak masalah kok. Bayar aja aku minggu depan juga enggak masalah kok”
Minggu berikutnya Joe menelepon Chloe, dan meninggalkan alamatnya di mesin penerima telepon Chloe. Chloe membalas teleponnya dengan berkata “aku sudah mengirim ceknya. Tapi ini aku mengurangi 1.42 dollar untuk biaya telepon ini, 39 sen untuk biaya perangko, dan 25 sen untuk amplop. Karena kamu sangat kikit, aku enggak akan menagihmu untuk biaya tinta, asal kamu janji jangan pernah menelepon ke sini lagi”.
Ini bukan mo jelasin bahwa betapa semua cewek itu adalah matre dan menjadi generalisasi buat semua mahkluk bergender wanita, but GOD creates you as a man so think and act like a real man esp. in your first date. Kencan/Date gak harus mahal tetapi yang penting bagaimana memperlakukan wanita sebagaimana layaknya wanita. Lagian ada hukum alam, high class woman with high demand … ini bukan penjelasan secara fisik tetapi bagaimana seorang cowok bisa keliatan punya POWER di hadapan lawan jenisnya (*maap om “D”, gue pinjem istilah loe … masalah royalty kita omongin di belakang ya) dan tentu saja tidak harus membagi sama rata biaya kencan yang GUBRAK banget -_-”.Cuma kesan pertama udah bikin gak enak …. dan gw kapok harus coba lagi.
Be happier on 2009
The year 2009 was already comin and I think people, who are like me also have made or even planning in progress to make a better resolution for this year. It must be better than last year. But wait a minute how about if we talked about happiness …
Have you ever caught yourself thinkin’ :
“I’ll never be in shape in shape like those people are”
“I know I’ll never gonna make it”
“I’ll always have a problem that will be the primary thing on my mind everyday”
“I’ll be depressed for the rest of my life”
“bla…bla…bla…” all the things which shows a very deep down sorrow …
I think some of us think this in a very deep down manner than willing to admit it.
Sometimes, especially in very hard condition, we don’t believe that miracles can happen in our life.
Success breed success, happiness breeds happiness …
When you see miracles that can happen in one area, it encourages you to take more areas in your life
and get them handled too.Stop thinking the limiting beliefs, because it’s untrue.
Do you think it’s a hype? I don’t think so, it’s very real …
The next point is stop thinking negative about your ownself.It can be a bad habit which is really hard to change.It only hurts us if we accept the fact and think that we’re never gonna make it.
I got fed up and I try to refuse to ever think anything negative about myself. I refuse to talk to myself in a harsh way that I would not address a friend. Instead,I will be kind and understanding of myself. If I think about something I regret, I will recognize that my actions were based on my wisdom/ability to love others at that time.
Life is short and negative beliefs limit us so much. Once you put yourself on the road to change, you will find out that you’re gonna make it.When you make the effort, at some point, the change becomes a part of you. Letting go of self-criticism -it will make you so much happier.
Happy New Year …
Why to move ….
Tulisan berikut ini bukan buah pikiran gue dalam artian gue comot dari salah seorang temen yang forward ke millis gue dan sumber otentiknya juga gue udah sertain di dalam tulisan ini. Boleh jadi renungan buat kita yang niat mo resign atau mengundurkan diri atau mungkin dari pembaca sekalian ada yang berprofesi sebagai atasan.
Tulisan ini sedikit banyak lagi gambarin kondisi gue di perusahaan tempat gue sekarang bekerja … Ladies and gentlemen, please take a look
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, “Bill Gates” dari India (terbitan Mizania 2007).
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India . Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. “Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru”, katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First B reak All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus – dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu men gontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti – biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?
Have a blessed weeding …
Hidup itu adalah sebuah siklus. Bayi – balita – anak-anak – remaja – dewasa – orang tua – tua. Sebuah lingkaran kehidupan yang indah, jika semua tahap dilalui dengan sempurna dan bahagia. Memutuskan sebuah jalan hidup baru dengan orang baru bukanlah perkara mudah seperti layaknya membeli mainan. Digunakan saat lagi ingin dan saat rusak, dia hanya akan teronggok dengan sampah-sampah lain di sudut ruangan yang gelap dan tidak terlihat. Mengikrarkan janji suci di altar dan disaksikan oleh pemuka agama tidaklah semudah mengungkapkan kata “saya bersedia”, suaranya nyaring dan memenuhi gereja dan disambut dengan senyum malu-malu oleh sang mempelai lain. Indahnya hidup pernikahan tidak sebatas menjadi raja dan ratu pesta sehari, diikuti oleh malam-malam hangat yang akan dilalui sesudahnya.
Marriage, Pernikahan atau istilah lain yang mungkin dikenal di seluruh peradaban manusia adalah bagaimana kesediaan kita menerima orang lain dengan segala kelemahan dan kekurangan mereka dalam segala kondisi. Suatu pelajaran hidup baru yang tidak akan usai dan usang dimakan oleh jaman. Pembelajaran bagaimana menerima orang lain untuk disayangi, dimengerti, dan bersikap sabar dan mencoba berbagi segalanya dengan dia yang telah Tuhan berikan. Mencoba menjaga sikap dengan baik, karena saat suatu hari terjadi kesalahan … kita tidak sendiri lagi yang akan terseret ke dalamnya. Ada jiwa lain yang turut menjadi korbannya. Beberapa tahun sesudahnya … kesempurnaan hidup akan semakin lengkap dengan adanya malaikat kecil yang berwajah polos dan memanggilmu “Papa” atau “Mama”, seorang manusia kecil dengan hanya senyumannya yang tak berdosa membuatmu sanggup melupakan keletihan dan penatnya segala bentuk rutinitas, yang membuat duniamu indah tanpa perlu surga.
I’m not gonna be there in your big-day, but believe me one thing that I pray for your happiness, not only in your big-day but in your further day after the weeding party. May you live happily ever-after with your new best friend ever, with your new family member (gonna be) till you hair turns to gray and till you’ve got your children children.
*buat temenku ERWIN SIANIPAR, who just married
Selamat Menempuh Hidup Baru, moga pernikahannya langgeng sampe jadi oppung-oppung
LoVe !
Cinta dan Mencintai …
Ada kalanya kita mencintai layaknya seperti embun.
Dia cantik dan indah saat dilihat di ujung daun yang basah, tetapi saat kau pegang maka punahlah sudah keindahan itu seiring dengan jatuhnya titik air ke tanah.
Cinta itu halnya terjadi saat kau lihat awan, terlihat penuh, empuk dan indah di luar tetapi saat kau pegang dia tak lain hanya sekumpulan air yang memilih untuk tetap di atas sana.
Ada kalanya cinta seperti patung pajangan di etalase toko
Dia cantik hanya karena ada di dalam etalase tetapi konyol saat kau coba bersanding dengannya.
Terkadang, cinta itu seperti Pelangi
Indah saat hujan dengan nuansa mejikuhibiu-nya, tetapi tidak saat dia semakin lama semakin pudar diganti dengan beringasnya sinar mentari
Terkadang kau coba mencintai orang seperti Macromedia Flash
Melakukan aksi dibalik setumpuk action script yang ada di imajinasimu.
Saat kau lepaskan tanganmu dari mouse dan keyboard, kau menyadari cinta tak akan seperti itu
Terprogram dengan baik di balik kode aneh yang disebut ’script’.
Di lain sisi, terkadang cinta itu seperti salju di kutub utara
Panas matahari, hujan badai tidak akan cukup kuat untuk membuatnya mencair dan mengalir ke samudera Atlantik.
Kadang kala kau menjadikan cinta itu seperti handphone
Kau akan menggantinya seturut dengan perkembangan jaman. Upgrade yang tiada henti.
Ada juga yang melihat cinta itu seperti tikus rumah.
Semakin kau coba mengejarnya, semakin keras juga dia coba berlari.
Sebagian lagi merasa cinta seperti tanah liat pembentuk guci
Dia bisa dibentuk seturut dengan kehendak kita, tanpa ocehan dan tanpa keluhan.
Ada yang melihat cinta seperti tas mono-pettit Louis Vitton atau clutch terbaru keluaran Channel.
Butuh duit banyak untuk bisa memilikinya.
Cintapuccino kadang datang dan bersemayam di sebagian insan
butuh waktu bertahun-tahun dan obsesi gila yang memunculkan bahwa dia masih tetap betah tinggal di sana.
Tetapi di atas semuanya ada yang mencintai itu seperti lilin
Berkorban tanpa pamrih, hanya memberikan penerangan kepada seisi penghuni rumah.
Everybody can see and symbolize love with what they think with the right sign but whatever it is. Love is something which you and I and other people have since we see this planet.
