bye-bye


Kematian … layaknya sebuah perpisahan yang begitu memilukan dan selalu dihantarkan dengan deraian air mata. Kita hidup di sebuah planet hijau yang disebut bumi, bukanlah sebuah planet yang memiliki ukuran besar, bentuk yang indah atau faktor lain yang membuatnya unik dalam susunan galaksi dalam sistem tata surya. Dia adalah tetap sebuah planet kecil dengan suatu kenyataan bahwa ada berjuta kehidupan yang datang dan pergi dalam tiap detiknya.

Hidup di dunia hanyalah seperti asap yang mengepul sesaat kemudian lenyap berbaur dengan partikel udara lainnya. Begitu pun halnya dengan kematian, lebih menyerupai kedipan mata yang hanya bisa diukur dalam satuan waktu terkecil, millisecond. Kematian bukanlah sebuah perpisahan yang harus ditangisi dan dikenang dengan perasaan pilu sepanjang kita masih bernama di bumi ini, dia hanyalah berupa simbolitas perpisahan sementara dan kerelahan hati seluruh anggota keluarga dan kerabat untuk membiasakan diri hidup tanpa dan melepas apa yang telah Tuhan titipkan dalam rentang waktu tertentu. Saat kita lahir di dunia ini, ingatkah bagaimana senyuman orang tua dan tangan terbuka yang menyambut anggota keluarga baru mereka? sekarang demikian juga terjadi sebaliknya saat menghadapi kematian. biarlah tangan terbuka juga yang mengikhlaskan dia memasuki liang kubur dan kembali pada sang Pencipta.

Kehilangan orang tua adalah salah satu mimpi terburuk yang sampai hari ini aku bahkan enggan untuk memikirkannya. Setiap pagi(setidaknya sampai saat ini) aku bisa menarik napas lega saat aku tahu, aku hidup di dunia ini dengan 3 orang istimewa yang selalu aku doakan dan menyebut namaku dalam doa mereka. Aku masih memiliki mimpi dan secercah harapan akan datangnya hari dimana aku bisa memberikan sesuatu yang berharga buat mereka sebelum seorang lelaki datang menyuntingku dan menarikku dalam keluarga besar mereka atau Tuhan menghendaki bahwa saatnya orang tuaku pensiun menjadi warga dunia.Tetapi seperti tertulis dalam kitab suci dari keyakinan yang aku miliki bahwa “Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menggenapi”, kadang rencana dan daftar target yang ingin kita perbuat bagi orang tua tidak terulur dengan sempurna, seperti yang mungkin salah satu dari kita pernah alami (*for those of you who already lost parents). Satu hal yang harus kita ingat bahwa segala sesuatu indah pada waktunya, walau kadang kita terlalu buta untuk bisa melihat atau terlalu tuli untuk bisa mendengar. Biarlah saat suatu hari nanti kita menghantarkan orang yang kita sayangi ke peristirahatan terakhir mereka dengan berurai air mata tetapi di jauh di dalam hati kita di sebuah ruang tak bernama di dalam jiwa, kita bisa tersenyum bahwa Sang Khalik telah menemukan rumah baru yang lebih damai dan lebih indah.

PS: For our beloved friends (Suranta) who just lost his Daddy. Here is our great condolance and may you and your entire family are blessed and good. Be strong and faith in GOD always.

3 thoughts on “bye-bye

  1. jhon says:

    Tulisan yg menarik, nurutku…mengikhlaskan kematian (ortu, keluarga, teman, dll) dengan berbagai argument. Tapi, barangkali ada suatu kontradiksi aku liat, yakni pada kalimat “Kehilangan orang tua adalah salah satu mimpi terburuk yang sampai hari ini aku bahkan enggan untuk memikirkannya.” Kamu enggan memikirkannya, berarti kamu sebenarnya belum siap untuk menghadapinya, belum menerima kenyataan, blum mengikhlaskannya. Jika kita memang sudah ikhlas, kita tak perlu lari, malah sebaliknya: merefleksikannya, yang bisa jadi kita akan banyak memperoleh “pelajaran” hidup darinya–bahwa manusia itu terbatas, dibatasi ruang dan waktu; bahwa pada manusia yang kekal itu adalah ketidakabadian, manusia itu fana; bahwa yang membuat kita sedih adalah karena kehilangan; dan mungkin yang lainnya…

  2. jh says:

    Tulisan yg menarik, nurutku…mengikhlaskan kematian (ortu, keluarga, teman, dll) dengan berbagai argument. Tapi, barangkali ada suatu kontradiksi aku liat, yakni pada kalimat “Kehilangan orang tua adalah salah satu mimpi terburuk yang sampai hari ini aku bahkan enggan untuk memikirkannya.” Kamu enggan memikirkannya, berarti kamu sebenarnya belum siap untuk menghadapinya, belum menerima kenyataan, blum mengikhlaskannya. Jika kita memang sudah ikhlas, kita tak perlu lari, malah sebaliknya: merefleksikannya, yang bisa jadi kita akan banyak memperoleh “pelajaran” hidup darinya–bahwa manusia itu terbatas, dibatasi ruang dan waktu; bahwa pada manusia yang kekal itu adalah ketidakabadian, manusia itu fana; bahwa yang membuat kita sedih adalah karena kehilangan; dan mungkin yang lainnya…hanya sebuah pendapat untuk membuka ruang dialog…

  3. mshennie says:

    @jh
    bo emang belum kebayang klo aku harus keilangan ortuku tapi bukan berarti nanti aku gak bisa ikhlas kan?. Sekarang sih aku jalanin aja apa yang ada depanku sekarang tanpa tiap hari aku mikir kapan bonyok-ku koit dan kembali ke Bapa di surga.Get a life bro ! Lagi gak mungkin donk aku bilang dan bergaya sok tegar padahal aku gak pernah ngalaminnya. Ini hanya sekedar penghiburan buat temenku yang baru keilangan bokapnya. Moga dia sedikit terhibur dengan tulisanku inih. I and other friends care himπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s