Malaikat tak selalu bersayap


Di tahun-tahun yang telah berlalu, hari dimana aku hanya mengenal bola bekel dan lompat karet adalah hal terindah di dunia ditambah dengan sebatang coklat dan sebatang lolipop, malaikat itu keliatan selalu tak sempurna tanpa sayap. Yup, baju putih dan sayap serta lingkaran emas di atas kepala mereka adalah paket komplit dari sesosok hibrida yang disebut malaikat. Setidaknya aku pernah begitu sangat mengagumi sosok yang jiplakannya selalu di pentaskan di akhir tahun dalam sebuah pertunjukkan Natal. Pelajaran yang dulu aku pegang saat Natal tiba adalah: bahwa perayaan Natal tidak akan sempurna tanpa lagu Malam Kudus dan Tarian Malaikat, seakan-akan lagu Malam Kudus adalah lagu kebangsaaan Malaikat. Kedengaran polos sekali? aku tahu … tapi jika anda adalah anak berumur 8 tahun maka kita akan sependapat dan mungkin akan mendiskusikan apakah malaikat pernah mencuci seragam mereka sehingga kelihatan selalu putih serta darimana mereka mendapatkan sayap yang dikelilingi oleh bulu-bulu angsa putih raksasa atau kenapa seragam tersebut tidak dibuat saja dalam 2 versi, pria dan wanita dan mengapa mereka memakai baju yang sama yang kadang aku melihatnya sebagai daster yang biasa dipakai oleh ibuku. Aku bahkan ingat, bagaimana aku pernah betah memandangi bando di sebuah toko yang sama dengan penghias kepala seorang malaikat di sebuah kalender bertuliskan November 1995. Maklumlah ibuku dulunya sangat suka sekali membingkai gambar kalender bekas dan menggantungkannya di ruang tamu atau ruang makan.

“ayo pulang hen” ibuku menarik tangan kecilku dan itulah akhir dari binar kagumku di depan etalase sebuah toko dan lamunan akan bando titipan malaikat.

Dunia berputar di porosnya selama 24 jam, berjuta kehidupan bergulir di dalamnya dan perputaran itu juga menyebabkan pergantian waktu dari detik ke menit, jam ke hari, minggu, bulan, tahun bahkan memasuki satu dasawarsa. Tentu saja, aku sendiri juga ikut bertumbuh dan semakin dewasa, dan mulai mengenali hidup dan segala intrik yang terdapat di dalamnya bahkan untuk bertahan hidup sekali pun. Sejak aku duduk di tengah tahun SMA, keluargaku mengalami kesulitan ekonomi yang berat, walau pada akhirnya semuanya bisa teratasi. Dengan ekonomi pas-pasan juga aku mutusin buat kuliah. kedengaran nekat ? mungkin iya, tapi sebenarnya aku optimis. Life is beatiful even for a very simple reason. Keadaan di tahun akhir kuliahku bukanlah hal yang menyenangkan untuk diingat, everything got worse. Sampai suatu saat ada jalur malaikat yang mengenalkanku kepada seorang malaikat. Jalur malaikat ini adalah orang yang sebelumnya sering aku ledek dengan beberapa teman wanitaku di asrama, walaupun sebenarnya jalur malaikat ini adalah seorang yang begitu normal dan di luarnya itu dia adalah seorang manusia biasa yang memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Singkatnya sangat pintar. Pertemuan pribadiku dengan sang malaikat hanyalah sebentar, dia tahu aku dengan segala masalahku dan dia juga tahu bahwa hal itu memiliki potensi besar untuk mengganggu kegiatan akademik ku. Tidak usah ditanya kenapa dia tahu karena malaikat yang tepat beberapa tahun lalu duduk di depanku adalah orang pintar dan hal demikian bukanlah hal yang sulit untuk dianalisa. Akhirnya dengan suara yang lembut dia mengatakan akan selalu ada untuk membantuku dalam kuliahku baik mental dan materiil. Sekelibat bayangan malaikat yang sebenarnya muncul di depanku. Gimana enggak. Kami tidak memiliki hubungan bathin apa-apa selain di awal bumi ini pertama kali diciptakan kami adalah keturunan Adam dan Hawa dan sama-sama tinggal di negeri yang disebut Indonesia. Akhirnya dia menyebutkan nilai nominal bantuannya dan jika bisa digambarkan bagaimana senyumku dan rasa senangku dengan berita itu, maka bibir Joker di dalam film Batman ‘The Dark Knight’ jelas sekali akan kalah lebar (sounds too hype? I know, just wanna tell you I was pretty happy at that time). Sang malaikatku itu benar-benar memegang janjinya sampai aku resmi menjadi wisudawati dan bahkan lebih dari itu, sampai saat ini kami masih berkomunikasi walaupun tidak intens. Tapi Tuhan begitu baik padaku hingga aku bisa melihat bagaimana seorang malaikat datang dalam hidupku selain kedua orangtuaku dan aku tau, dia tidak memiliki sayap dan mengenakan baju putih.

PS: thanks for ‘S’ for being there as a great angel. May someday I can do the same, be an angel for you or somebody else.

5 thoughts on “Malaikat tak selalu bersayap

  1. Nola says:

    Walah jeng … dalem banget ya blognya.
    Jleb dech … emang kadang kita gak sadar kalo Tuhan kasih malaikat dalam hidup kita.

    Moga gw ntar bisa ktemu malaikat kayak lu juga

  2. Nich says:

    daleeem
    ..
    kalimat penutup tuh, janji yang harus ditepati
    untuk membalas kebaikan yang sudah diterima, adalah membagikannya ke orang lainπŸ˜‰

    totally, nice post

  3. mshennie says:

    @nola
    iya jeng … dia ini orang nya baek banget. Gak nyangka bisa pernah ketemu orang kayak dia. Sayang aja doi gak mau identitasnya terkuak …

    @Nich
    berat tuh … janji itu adalah utang
    tapi sih aku usahain untuk bisa kasih itu ke seseorang suatu hari nanti. jadi saluran berkatnya jalan trus …

    @michael siregar ….
    yang diatas udah sepaket … janji pada diri sendiri yang mungkin akan diwujudkan dalam pribadi orang laen

    @juon
    welcome juon !
    mau banget .. gimana? jadi niy?
    *wakakak .. stoy banget gue ya? jawabnya dari blog langsung ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s