Cerita konyol tentang dukun …


Apakah anda berpikir dukun itu selalu pintar dan tau segalanya?

Lemme tell ya’ a bit story of a shaman

“hen … sapa yang masuk dan mandi di bak mandi. Kok ada jejak kakinya ?”

Suara ibuku dengan nada 1 oktaf dari yang dianjurkan oleh pemusik masa kini menggelegar kencang di seisi rumahku. Mungkin perlu sedikit pengenalan akan sosok ibuku dan ciri khasnya. Dia adalah tipikal orang yang jarang bisa bicara dengan ½ suara.Darah jiwa batak mengalir keras dalam tiap nadinya dan mungkin itulah salah satu alasan yang tidak bisa ditawar mengapa dia memiliki suara yang kencang itu. Bahkan kalo bisa sedikit bersaksi sampai sekarang suara itu tetap menjadi ciri khasnya, tidak jarang aku harus menjauhkan jarak kupingku dengan ponselku jika dia menelepon. Jangan harap aku sering meminta dia untuk mengulangi perkataannya 2 kali dengan alasan tidak jelas kedengaran, yang terjadi malah sebaliknya dia yang sering memintaku untuk mengulang perkataanku di ponsel. Aku bahkan bisa menjamin jika suatu saat ibuku meninggal dan dia mendapatkan tiket di sebuah tempat yang disebut surga, maka Tuhan bisa mengeliminasi suara penabuh genderang surga dan fungsi itu dialihkan kepada ibuku.

Kembali ke kasus bak mandi.

Miss hennie kecil yang saat itu masih berumur 10 tahun tentu saja bergidik. Walau harus kuakui sebenarnya akulah yang melakukan ritual jejak bak mandi. Bak tersebut sudah mulai jorok airnya, dan aku bisa menebak bahwa pasti setelahnya ibuku akan menguras isinya dan mengganti dengan air keran yang baru. Itulah latar belakang mengapa aku niat masuk kesana.Maksudnya aku nyemplung ke dalam bak mandi dan bertingkah seolah-olah aku berada dalam kolam renang. Setelah orang tuaku memutuskan untuk mudik jangka panjang alias pindah dari bandung ke parapat, yaitu sebuah kota kecil di pinggiran danau Toba, maka jangan harap kau akan melihat gambaran indah waterbom yang berada dalam kawasan wisata Ancol lengkap dengan ban pelampung dan selonjoran yang sampai sekarang aku tidak tahu berapa panjangnya (ya namanya udah maen selonjoran … sebodo amat mau tau panjangnya berapa). Ritual bak mandi juga ingin sekali kulakukan karena hidup dalam keluarga sederhana sudah cukup membuat kami sekelurga bahagia, dan hal itu tidak perlu semakin disempurnakan dengan adanya kolam renang. Danau toba yang adem dan indah, cukup luas dan tak berbatas untuk dijadikan kolam massal. Aku sendiri bahkan kadang berpandangan aneh bahwa kenapa ayahku bela-belain bikin kolam bebek yang mungkin dalam jangka setahun ke depan akan berakhir di sebuah piring di meja makan dan sebelum disantap akan didoakan agar menjadi berkat. Setelah sebelumnya kami puas memanen embrio mereka yang setengah jadi alias telur . Nasib seekor ternak akan selalu begitu. Mengerikan.

Akhirnya dengan suara yang tak kalah kencang untuk mengimbangi nada sopran ibuku, aku menjawab “gak tau maaa “ dengan sebuah senyuman puas. Sama seperti seorang anak seusiaku yang sukses melakukan kebohongan besar seakan-akan dalam scene itu Queen menyanyikan tembang anyar mereka “we are the champion … my friends” sebagai sontrek pelengkapnya. Sempurna !.

Akhirnya makan malam tiba dan hal ini selalu kunantikan setiap hari. Di awal narasi aku katakan bahwa ibuku memiliki suara yang lantang, maka ciri khas beliau berikutnya adalah dia sangat pintar sekali memasak. Selain memiliki bakat ini dari mendiang nenekku yang juga jago masak, ibuku menghabiskan masa sekolah menengah kejuruannya di sebuah sekolah tata boga di ibukota kabupaten. Maka sempurna sekali bakat, hobi dan akademik tergabung menjadi satu.

“Aneh juga lho … kalian liat juga gak jejak kaki di bak mandi kamar mandi atas. Kayaknya ada mahkluk jadi-jadian yang mengganggu rumah kita. Hati-hati aja kalian bah”, begitulah ibuku memulai percakapan makan malam kami segera setelah kata AMIN diucapkan serentak.

(akhiran “bah” sudah baku di dalam bahasa Batak, jadi jangan tanyakan artinya itu bahkan kepada orang batak sekalipun. Karena engkau akan mendapatkan jawaban yang sama. Bah = penegasan kalimat berita yang diucapkan oleh subjek. –red).

“Aku gak ada liat ma. Emang banyak ya ?” aku juga buka suara.

Percakapakanku barusan sebenarnya lebih mirip disebut asbun – asal bunyi daripada benar-benar ingin menanyakan. Kalau anda pernah dengar istilah maling teriak maling, maka pertanyaanku barusan adalah wujud nyatanya. Diungkapkan hanya agar keliatan innocence dan tak bersalah sama sekali.

“Iya banyak … mama aja jadi seram liatnya. Merinding mama bah”, ujarnya tetep disambung dengan akhiran bah.

Topik jejak kaki dalam bak hanya berakhir sampai disitu karena semua orang sibuk dengan makan malam mereka. Ikan teri + kacang dan sayur daun ubi tumbuk menjadi magnet yang menyerap setiap kami untuk tetap konsentrasi pada makan malam bukan pada cerita ibuku dan mahkluk bak mandi. Selain itu, aku juga tau kalo dalam sesi sebelumnya ibuku udah duluan curhat dengan ayahku, jadi mungkin juga ayah rada males nanggepinnya.

Besok sorenya, ibuku mandi sore lebih cepat dari aku. Suatu keanehan karena hari itu masih jam 4 sore dan biasanya ibuku akan mandi setelah jam 5 sore. Setelah diusut, ternyata dia baru saja mandi kembang 7 rupa yang didapet dari orang yang memiliki profesi dukun dan si dukun mewajibkan kami semua mandi dengan kembang 7 rupa itu sebagai syarat agar mahkluk yang menjejakkan kakinya di bak tidak pernah datang lagi (kedengaran seperti hantu cabul ya? Masuk ke kamar mandi). Bahkan informasi dari adekku menyebut bahwa sebelum memulai mandi keramat itu, ibuku mengucapkan mantera seperti yang dijelaskan oleh si dukun dalam terapi untuk mendapatkan kembang tersebut.

Aku hanya manggut-manggut dan pesan sang bunda untuk ikutan mandi bersama kembang tujuh rupa yang mana salah satu kembangnya aku lihat seperti bunga kembang sepatu yang ditanam di sekolah. Walau rada cabul untuk mengungkapkan akitivitas dalam kamar mandi, tapi aku putuskan sekali ini untuk membeberkannya. Aku tidak mandi dengan kembang tujuh rupa. Kembang itu kupakai untuk membersihkan kamar mandi dan sebagian bunganya aku buang keluar melalui saluran pembuangan. Aku tahu dan sadari aku bukan mahkluk beragama yang tidak pernah jatuh ke dalam dosa, jika mungkin bukan aku pelakunya dan ternyata jejak kaki itu ada maka mungkin aku akan ikutan mandi kembang 7 rupa. Tapi dengan jelas dan tanpa adanya tekanan, jejak dalam bak mandi itu adalah jejakku yang saat itu sedang mabuk mandi kolam renang.

Aneh sekali kenyataan barusan, ibuku menyatakan bahwa dukun itu hebat dan berpengalaman. Mungkin kalau untuk ukuran kecamatan, maka dukun itu bisa disetarakan dengan Mama Loren yang memiliki kemampuan cenayang melintasi dimensi ruang dan waktu. Orang bule bilang ‘sixth sense’. Kenyataan yang terjadi membuatku tersenyum puas, dukun professional jelas kalah telak dengan miss hennie kecil. Kenapa dia tidak bisa menebakku yang notabene adalah normal dan tidak memiliki indra keenam ? Mungkin juga dia tidak bisa menebak bagaimana mahkluk kasat mata?

Hal ini bukan berarti aku merendahkan orang-orang yang berprosefi sebagai dukun, tapi mungkin saja dia adalah mahasiswa DO di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Alam Gaib, tetapi tetap bernapsu untuk berkarir di jalur dukun. Maklum sering kali sosok dukun dianggap maha tahu dan bijaksana di masyarakat. Walaupun berbohong tapi mereka tetap dibayar dengan kebohongan mereka tersebut.

Akhir wisudaku kmaren aku ceritakan kepada ibuku tentang kejadian ini. Awalnya ibuku marah tetapi akhirnya dia tertawa dan menyesalkan kenapa aku tidak akui saja kesalahan itu di awal-awal aku baru menjejakkan kaki di bak, maka dengan terpaksa dia harus merelakan beberapa rupiahnya ke tangan dukun. Tapi aku masi bisa berkelit dan mengatakan seharusnya dia tidak usah mengingat itu lagi toh waktu itu kan belum ada inflasi dan krismon. Jadi harga nilai tukar dolar masih tetap berada di angka 2400-2500. Coba bandingkan jika dibayar sekarang.

Pengalaman ini adalah salah satu hal terlucu dan terkonyol yang pernah aku dapatkan. Dukun adalah manusia, jadi jangan terlalu percaya ama dukun. LOL !!!!

5 thoughts on “Cerita konyol tentang dukun …

  1. Silitonga, Ronald says:

    numpang lewat dulu ya Hen,

    cerita yang menarik dan cukup menyeramkan
    sampai-sampai mandi kembang 7 rupa
    tapi terus terang itulah salah satu sisi positif buat Henni dan pembaca, punya pengalaman nyata dalam hal spiritual diri agar lebih matang,

  2. Noque says:

    Hahaha…lucu jg ceritanya😀, jd inget waktu kecil sering gt jg, masuk bak mandi, bak serasa mandi di Kolam renang hehehe….
    Tapi emg sayangnya orang tua dulu mudah percaya dengan dukun😀.
    Say “No” to dukun😀

  3. mshennie says:

    @silitonga, ronald
    ini dia namanya cerita serem dalam kemasan lucu ….🙂

    @joicehelena
    huahahha … setidaknya itulah salah satu hal yang kusyukuri sampai saat ini, kepleset kena bunga 7 rupa? doh … apes banget.

    @blogger insyaf
    nama ente lucu juga ya ? huehehe … mo dipake ke pelem indie, loe mau jadi peran dukunnya?

    @noque
    berarti kita punya hobi masa kecil yang sama
    berenang di bak *sotoy mode:ON

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s