pagiku dulu …


family

Ayam jantan itu masi berkokok seperti biasa dengan waktu biasa yang seakan-akan itu adalah rutinitas si ayam dengan umur baru menginjak setahun. Mungkin suara ayam lebih mengena di telinga sang nyonya rumah daripada sebuah weker dengan nada yang variatif. Sulit memang untuk mengubah kebiasaan di umur yang sudah tidak muda lagi.

Bergeliat sebentar dan meluruskan tangan ke arah suami yang masih terlelap tidur, dan mata sedikit mengintip. Ada sebuah kebahagiaan kecil yang terselip di sudut bibir seakan berkata
“Pria ini telah melewatkan malamnya dengan setia di sebelahku. Akankah dia kulihat terus setiap pagi tetap dengan aroma tubuh yang sama ?”
Adegan itu hanya sampai di situ, segera dia sadar ada 2 malaikat kecil yang harus pergi ke sekolah. Sarapan pagi nasi goreng dan telur ceplok serta segelas susu akanlah sempurna menemani pagi mereka sebelum berangkat sekolah.

Kadang terlintas dalam pikiran sang bunda
“inikah surga dan neraka saat kuputuskan diriku dipersunting ?”. Di satu sisi dia harus merelakan beberapa kerjaan yang semasa gadis dia sukai, tetapi di sisi lain dua malaikat dengan kulit berbeda memberikan warna baru, tujuan hidup baru dan tentu saja kebahagiaan baru.

Suara gaduh yang seketika muncul di sebuah dapur sempit tetapi masih tetap setia mengepul menjadi sebuah himne pagi yang jika tidak kedengeran malah akan terdengar aneh.Tak lama kemudian, bau sedap dan asap muncul dari makanan. Dengan senyum dan suara kencang tapi terdengar indah dia memasuki kamar malaikat kecilnya, tetap dengan himne pagi dalam versi lain dia mulai bernyanyi
“hen … ika … bangun, mandi yuk … kan mau sekolah”

Suara sang bunda selalu terdengar indah bahkan sekalipun mereka belum cuci muka atau gosok gigi. Bayangan hukuman akan telat ke sekolah daripada sang ibu akan marah ternyata jadi motivasi besar bagi si anak untuk bangun pagi. Mandi pagi, sarapan pagi dan doa pagi yang selalu dibawain sang bunda menjadi sebuah momen yang akan tidak terlupakan oleh sang anak kelak … berlalu dalam waktu setengah jam lebih.

Saatnya untuk sekolah …
Sang bunda melihat kepergian sang anak dengan tatapan lembut diselipi sedikit khawatir “akankah mereka jajan sembarangan di sekolah atau akankah ada pengemudi gila yang mungkin akan melukai mereka”. Tetapi semua kekhawatiran itu hanya di simpan dalam hati dengan satu keyakinan Maha Kuasa dengan mata langit yang besarnya sulit diungkapkan akan senantiasa menjaga malaikatnya

note: kebiasan pagi saat gw masih duduk di bangku sekolah dasar. I miss my mom …😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s