all about STEVE


Mungkin pada mengernyitkan dahi. Menebak-nebak dalam hati apakah sang prince charming itu bernama “Steve”. Jawabannya adalah TIDAK.

gokil gak sih ?

Tulisan ini diinspirasi oleh salah satu film komedi romantis yang tidak berakhir romantis dan happy ending, layaknya sinetron produksi negeri sendiri. Film yang dibintangi sekaligus diproduseri oleh Sandra Bullock ini mengetengahkan realita romansa yang manis tapi berakhir pedih. Tidak seperti film drama korea  yang di akhir cerita pasti sang pemain utama akan menjadi sepasang kekasih dan hidup bahagia selamanya.

Cerita ini menjelaskan soal Mary yang bekerja sebagai crossword-puzzle constructor pada sebuah tabloid harian “Sacramento Herald”. Tipikal wanita single yang sudah berumur, sedikit ‘tidak-normal’ menurut versi manusia sekarang, masih tinggal dengan orang tuanya (FYI : mungkin di negeri kita ini biasa, tapi bagi orang Amerika, saat seseorang sudah mencapai umur tertentu sudah selayaknya dia hidup sendiri di apartemen ato rumah lain, terlepas dari orang tua). Melalui sebuah blind-date, dia berkencan dengan seorang kameraman tampan bernama Steve.

The ‘stalking’ story begins …

Sejak pertama bertemu, Mary yakin sekali kalau Steve adalah ‘the-one’ yang telah ditunggunya selama hidupnya. Ia yakin, steve memiliki rasa cinta yang besar terhadap dirinya sebesar cinta yang ia miliki untuk Steve. Dia berusaha selalu ada di sisi Steve, mengikuti Steve kemana saja. What an insane girl I think … Singkat cerita Mary menjadi sosok yang over-lebay dengan obsesi cinta yang mematikan kepada Steve. Dia mempercayai suatu teori bahwa Mary and Steve are meant to be together. Padahal Steve, tidak pernah menjanjikan apapun kepada Mary bahkan sekedar ucapan cinta yang sederhana juga tidak.

Kadangkala menjadi baik dan bodoh itu bedanya cuma seutas benang tipis. Dengan segala toleransi, dia menerima kesibukan Steve, dia yakin saat Steve memiliki waktu senggang, maka dia akan datang menemui Mary dengan cara paling romantis yang sudah ia pikirkan. Kebodohan ini ditambah dengan provokasi rekan kerja Steve, Hughes yang menjamin bahwa Mary tidak bertepuk sebelah tangan. Dengan gagahnya, dia mengatakan kalau Steve juga sangat mencintai Mary dan tidak bisa berhenti memikirkannya.

Realita sebenarnya muncul, dengan mobil yang ditumpangi Mary rusak kena tiupan Tornado, dengan jatuhnya dia ke sebuah ‘earth-hole’ dan tanpa Steve yang berusaha menolongnya. Dia sadar, bahwa dia sudah cukup buta selama ini. Dia sadar sepenuhnya bahwa ternyata Steve tidak mencintainya. Steve bahkan tidak berpura-pura, yang berpura-pura adalah Mary. Mary berpura-pura bahwa dia dicintai oleh Steve, Mary berpura-pura bahwa Steve akan segera melamarnya dan berpura-pura bahwa suatu saat mereka akan hidup bahagia dengan keluarga kecil mereka.

Ternyata kisah Mary ini bukan sekedar fiksi lho, banyak kenyataan yang ada seperti ini. Cerita ini mengingatkan kepada seorang teman wanita saya yang berusaha keras seperti Mary untuk dicintai oleh sang prince charming. Padahal jelas-jelas, pacarnya adalah seorang buaya-kelas-kakap. Tidak pernah betul-betul menginginkan dia menjadi seorang pacar. Teman wanita saya ini kurang dihargai sebagai pacar. Pacaran saja sudah tidak dihargai, saya berusaha tutup mata membayangkan bagaimana jika hubungan mereka dipaksa terus sampai masuk dalam tahap suami-istri. Teman saya ini cukup buta untuk melihat kenyataan yang ada. Mungkin pernah dengar istilah berikut

“seorang pria memilih terjebak di lift dalam waktu satu jam, daripada mengatakan kepada wanita yang sudah dikencani nya bahwa dia tidak cukup menyukai wanita itu”

Mereka memiliki cara tersendiri melalui perilaku mereka untuk mengatakannya. Tidak menjawab telepon, tidak membalas sms, menghindari kencan dan kadang kala dalam tingkat emosi yang lebih tinggi mereka mengungkapkan kata yang menyakitkan.  Sibuk menjadi senjata pamungkas mereka yang sulit untuk dibantah. Jadi jangan salahkan mereka jika begitu. Jangan pernah harapkan seseorang berubah, jika kita sendiri tidak yakin kalau kita berubah. Berubahlah bukan untuk membuat dia semakin mencintai kita, tapi berubahlah untuk kita sendiri agar dapat kehidupan layak. We, as a girl/woman deserve better in everything and love is in that list.

Pria itu tidak bisa dilatih. Mereka sangat simple. Saat mereka menyukai seorang wanita, mereka akan melakukan apa saja dan bahkan tidak ada kata sibuk dalam kamus mereka. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, kucing mereka yang kejepit pintu dan butuh diinfus pun akan kelihatan begitu penting dibandingkan kekasihnya. Lagi saya yakin, tiap wanita memiliki cita-cita untuk menikah dengan pria yang mencintai dia dan bisa nerima apa adanya, daripada dicintai oleh rasa iba dan terpaksa.

Wahai sahabatku ! buka aja kacamata kepura-puraan yang sudah elu bangun selama ini. Wake up girl, you’re still hot and young and absolutely deserve better. Hope, no more tears in further rocking days and years.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s