baby vs buddy


Mungkin ini bukan kasus langka lagi di dunia percintaan dan persahabatan yang kadang harus memilih. Sering kali persahabatan jadi rusak gara-gara hubungan percintaan atau bahkan sebaliknya, percintaan yang rusak gara-gara persahabatan. Untuk opsi kedua, saya yakin kasusnya gak sebanyak opsi pertama. Tapi saya bukan bilang gak pernah lho, Cuma ya jarang aja. Perbandingannya bukan 1:1.

Sebenarnya, bukan hal yang mustahil kalo keduanya bisa jalan berdampingan. Bagi saya pribadi, tidak ada prioritas utama. Apa mau sahabat dulu baru percintaan atau percintaan dulu baru sahabat. Hidup itu harus seimbang.  Menurut saya pribadi, ada beberapa hal yang mungkin perlu dilakukan dan jangan dilakukan agar kedua hal ini gak jadi beban bagi kita.

Kondisi 1 :

Kita dengan pasangan jalan dengan sahabat sendiri. Jadi ceritanya ada 3 orang yang jalan. Ini Cuma kondisi doang ya, walau sebenarnya saya pribadi ogah harus jalan bertiga dengan sahabat saya dan kekasihnya. Usahakan tetep ajak temen dalam pembicaraan kita, jadi dia gak merasa seperti “obat-nyamuk” doing. Diajakin Cuma buat usir nyamuk saat kita memadu kasih dengan sang pacar. Simpen dulu rapat-rapat kata-kata mesra yang mungkin bisa kita lontarkan buat pasangan. Misalnya nih

“Sayang, kamu tampan sekali hari ini. Saya sampe pangling gitu. Kalo kamu gini tiap hari, aku makin cinta deh jadinya”

Belum lagi hal itu diungkapkan dengan pose bergelayut mesra dengan pasangan. Ayolah, kita ajakin sahabat kita karena kita pengen dia ikut dan bener-bener dianggap ada bukan mau jadi penonton premier yang melihat aksi mesra kalian berdua yang mirip Jack and Rose di film “Titanic”. Bayangkan, kalo kita ada di posisi sebaliknya. Kalo saya sih sorry doddy ya … saya memilih hengkang dari situ dan cari temen lain yang bisa diajak nongkrong.

Kondisi 2:

Dengan berniat baik siapa tau bisa ajakin sahabat double–date, maka kita coba jadi mak comblang dengan mencoba memperkenalkan sahabat wanita kita dengan sahabat pria sang pacar yang kebetulan masih “melajang” (inget lho, saya lebih suka menggunakan kata melajang daripada jomblo. Hahaha …). Jadilah kita berempat makan bareng. Jangan coba-coba memperkenalkan temen kita dengan memberitahukan informasi pribadi yang sebenarnya belum begitu penting di perkenalan pertama. Biar aja kita coba kasih jalan and let ‘em do the rest. Misalnya nih begini :

“eh David, temen gue ini suka hiking lho, baru 2 minggu lalu balik dari bromo dengan temen-temen clubnya. Elu kan suka juga? Kenapa gak coba pergi bareng ?”

Biar aja soal bromo dan sebangsanya temen kita yang cerita. Ada cara lain yang lebih sopan dan gak bikin keki temen. Misalnya nih “eh lin, elu suka hiking juga bukan ?”. abis itu, lina deh yang cerita soal hobi dia.

Kondisi 3:

Jangan pernah kita bagi rahasia pribadi sahabat kita dengan pacar kita. Saya rasa jauh sebelum pacaran, mungkin kita udah berkomitmen buat saling jaga rahasia dan tidak akan membaginya kepada orang lain sekalipun mereka dekat dengan kita? Kenapa justru kita harus bagi dengan pacar yang mungkin baru kenal sebulan lalu. Trus, klo entar udah putus ternyata sahabat kita ini punya rahasia dan dibocorin ama sang mantan gimana ? bukan Cuma kita yang sakit hati putus ama pacar, bisa jadi mulut sang mantan ini sejenis “ember” trus rahasia itu jadi info umum, kita juga bakalan kehilangan sahabat kita. Di awal kita udah berkomitmen buat bisa saling jaga rahasia, maka jagalah rahasia itu. Buat dapetin kepercayaan dari orang lain sih gak susah, yang susah itu justru ngejaga mereka biar tetep percaya ama kita.

Atau mungkin kasih taunya dengan cara lain. Misalnya nih:

Bilang saja namanya Amanda, sahabat dari jaman TK dan udah kompak banget. Udah kaya sodaraan deh. Temen-temen lain mungkin pada bilang kita sepaket. Nah Amanda ini tiba-tiba punya masalah dan curhat di telepon. Dengan tanpa beban kita ngomong ke dia

“wah … gue sih gak yakin nih dengan solusi gue. Bentar ya say, gue tanya Andy dulu, sapa tau doi punya solusi jitu”

Tanya ke Andy dengan niat minta solusi, pasti harus cerita duduk perkara donk. Ya sama aja kita bocorin rahasia sahabat kita ke sahabat. Udah biarin aja, kalo dia niat solusi pacar kita biar niat itu dateng dari sahabat, bukan dari kita. Saya pernah kena kasus begini, besok-besoknya saya males kalo harus cerita masalah saya ke sahabat saya ini. Kadang kala, solusi yang dia kasih juga ternyata solusi pacar dia.

Kondisi 4:

Mungkin ini kasus paling baheula. Masalah time management. Sadar atau tidak, kadang kita menempatkan pacar sebagai prioritas utama melampaui segala hal yang ada di dunia ini. Saat sahabat kita sedang punya masalah dan membutuhkan kita buat mendengarkan (sebatas mendengarkan curhatan doang, gak sampe membantu materi), kita dengan gampangnya mengatakan

“gue gak bisa nih, lagi nemenin Andy ke mall cari kado buat ultah temennya”.

Ini hal yang paling bikin keki dan saya yakin lebih dari setengah masalah persahabatan yang hancur akibat kita punya pacar itu ada di poin ini. Seperti saya bilang, masalah beginian itu gak ada nuntut prioritas utama. Yang kita butuhin Cuma keseimbangan doang. Sekali kita bisa bikin baby vs buddy itu bisa jalan seimbang. Semuanya merasa seneng. Kita bisa jadi sahabat dan pacar yang baik.

One thought on “baby vs buddy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s