rumput tetangga kelihatan lebih hijau


You can’t be fuelled up by bitterness. it can eat you up but it cannot drive you – benazir bhutto-

Pada hakikatnya manusia itu memiliki sifat pembosan. Kalau kita udah kerja beberapa lama, ada saat pekerjaan kita melewati “rough period”, “masa jenuh” dan sebagainya. Di titik ini, beberapa cari pelampiasan, ada yang inisiatif ambil cuti, pindah divisi, dan kadang ada yang malah jadi pindah kerja.

rumput bo ~

Di masa kayak gini, mulai deh kita berfantasi macem-macem soal kerjaan kita. Mulai membanding-bandingkan pekerjaan kita dan pekerjaan orang lain. Kadang diakhiri dengan menarik napas panjang “seandainya gue bisa kayak gitu ya”. Lalu mulailah kita menghitung hal-hal yang menjadi cacat perusahaan dan segala kejelekan mereka yang tentunya menurut versi kita. Di  sini baru keliatan kalo rumput tetangga lebih hijau yang kalo kata orang Solo “the grass is greener on the other side“. Tapi pernah gak kepikir kenapa rumput tetangga lebih hijau ? Jawabannya simpel, ya karena tetangga yang menanam, memberi pupuk, menyiram dan merawatnya.

A big thing starts from the little thing, once you make then it all will come to you. Sadar ato enggak, kadang kita tidak memperhatikan pekerjaan kecil dalam pekerjaan karena kita anggap “itu kan gak penting. Gak akan dicek ama si boss”. Padahal aslinya, kita bisa melakukan hal-hal kecil, dengan sendirinya hal besar akan datang kepada kita. Kalo dikasi pekerjaan kecil aja kita udah gak berhasil, ya gimana bisa boss percaya kalo dikasi pekerjaan yang gede kita bisa lakuin ?. Kalo anda di posisi boss, pasti setuju deh dengan pendapat saya. Beberapa hari yang lalu, saya messenger-an dengan salah seorang teman saya. Dia cerita kalo dia punya proyek, trus dia tanya apa saya mau join sebagai seorang developernya. Dengan keadaan pekerjaan saya yang sekarang ini, saya tentu saja tidak mengiyakan. Alesannya takut keteteran. Sebagai sahabat yang baik, saya rekomendasiin temen kita yang lain buat jadi partner dia. Tapi olala, ternyata udah ditawarin duluan ama temen saya ini. Dan dia harus kecewa karena si sahabat saya ini juga gak mao. Alesannya “Proyeknya kecil, gue ogah maen di proyek yang kecil-kecil”. Padahal menurut saya lingkup proyek itu lumayan gede lho. Hello ! tipikal manusia tidak sadar diri. Karena setau saya, sekalipun ini orang emang gak pernah terlibat dalam proyek menengah (apalagi yang gede). Padahal jika dia mau coba dan hasilnya memuaskan, saya yakin the bigger project will come easily. It takes effort honey. Seseorang bisa mencapai posisi tertinggi dalam perusahaan, pasti dia udah melakukan sesuatu yang berarti dan menggebrak bagi perusahaan tersebut (beda kasus, kalo dia itu Ardie Bakrie – jelas donk itu namanya jatah keluarga).  Kalo mau yang ekstrim, mungkin bisa dicontoh tuh Mark Zuckerberg (co-founder Facebook).

Membandingkan rumput tetangga tipe lain adalah saat melihat seseorang di perusahaan lain dikasih gaji yang jauh lebih gede dari posisi sekarang. Tapi pernah gak sih mikir, yang dia bisa lakukan untuk perusahaannya apa sebanding dengan apa yang juga udah kita kasih ke perusahaan kita ? Kalo dicontohin ke kehidupan saya sebagai seorang IT Consultant itu gini nih

“Gue jadi programmer .net tapi cuma dikasih duit segini. Kok dia temen gue yang lulus sama ama gue, gajinya dobel dari gue ?”. Pernah coba mikir gak, si temen-gaji-dobel ini udah pernah get involved dalam proyek apa aja, dia ngerti .net ini udah sampai level mana, belajarnya gimana ? Gak mungkinlah seorang tau .net sekedar simpel-db-programming disamain dengan orang yang ngerti BI di .netnya. Coba dipikir kalo kita seorang boss, punya 2 pegawai dengan tipikal : satu orang kerjanya cuma sebatas job-desk yang dikasih ama boss, pulang teng-go, buka internet buat hal-hal gak penting dan paling gak suka kalo lembur. yang satunya lagi, walo gak disuruh boss ngerjain begitu, tapi diliat perlu ama dia, dia bakalan inisiatif bikin sendiri, lembur juga dijabanin dengan suka cita. Again, it takes effort to be paid higher. Kalau ceritanya kita cuma pengen segala sesuatu tapi gak pake usaha, ujungnya semuanya akan diakhiri label ‘M’. Pekerjaan Mimpi, Gaji mimpi, kedudukan mimpi … dan segala mimpi-mimpi lainnya yang gak bakalan terealisasi.

Kebiasaan selalu melihat rumput tetangga yang konon katanya lebih hijau ini gak jarang membuat orang jadi kerja ogah-ogahan di kantor dan cari celah buat membenarkan diri akan niatnya buat pindah kantor dengan motif pengen lebih baik dari segala sisi.Syukur kalo kantornya emang kurang ajar dan gak menghargain karyawan. Pembenaran diri akan didukung oleh pembenaran dari orang lain. Tapi klo nyatanya pindah ke kantor lain *dengan gaji yang lebih gede* tapi kerjaan bak superman dan boss kerjanya suka marah-marah.

Pengen balik ke kantor lama, udah tengsin duluan. Walo ada beberapa yang memberanikan diri buat balik lagi ke kantor lama *ada tuh kasus kayak gini yang pernah saya dengar dari seorang kenalan saya di perusahaan sekarang*. Maksud saya, jangan secepat itu menjudge perusahaan. Baru sebulan kerja udah bilang “nih perusahaan jelek banget, saya harus pindah secepatnya”. Saya punya satu kebiasaan jika sedang melalui tahap wawancara pekerjaan. Biasanya sih, abis interviewernya nanya calon karyawan pasti dia tanya balik ke kita “ada pertanyaan ?”. Nah disitu baru saya tanya ke dia seperti “perusahaan ini udah berapa lama ?”, “karyawannya banyak gak ?”,”fasilitas apa yang saya dapatkan jika seandainya saya keterima ?”, dan macem-macem lagi deh selama pertanyaan itu masih normal buat ditanyakan. Tujuannya biar saya kenal perusahaan itu gimana dan nentuin apa saya merasa sreg di perusahaan ini atau enggak. Toh walo akhirnya kita keterima di sana, tetep hak kita mau ambil pekerjaan itu atau enggak. Kalau tengsin mo tanya, kan ada internet tuh … Tinggal googling ajah deh, pasti ditampilin identitas dari perusahaan itu.

Tapi tulisan ini bukan berarti lho, dengan gitu anda kerja sekeras-kerasnya tapi ternyata atasan tetep gak peduli atau udah ada penjilat duluan yang ambil jatah (penjilat ini sih udah jadi kutu umum di setiap perusahaan. Walo gak semuanya terlihat blak-blakan, ada juga yang cerdik dengan pakai cara halus). Kita juga punya limit donk. Kalau kita merasa kita kerja udah maksimal tapi kok berasa kayaknya karir kita cuma jalan di tempat, then it’s a good choice to move on. Say goodbye to it with grace and dignity. Ada banyak perusahaan di luar sana yang saya yakin bisa menghargai karyawan yang bekerja keras dan bukan menjilat keras.

3 thoughts on “rumput tetangga kelihatan lebih hijau

  1. nich says:

    wekekeke.. kita udah cabut rumput di kebun belakang, mau nanam jagung aja
    kalau semua tanam rumput, harga rumput jadi murah (kelangkaan tidak terjadi)

    #iniorangnggakngertipribahasa

  2. yunteq says:

    aku suka sekali dengan postingan mu yang satu ini,bu..
    thumbs up! klo mnurt aku sih, lakukan aja yang terbaik yang bisa kita buat ke perusahaan kita, dan yakin lah pasti semuanya itu akan membuahkan hasil yang tidak sia2…🙂

    • miss hennie says:

      pastinja bu ! kalau kita gak dibales baik ama perusahaan yang sekarang, di perusahaan lain sih pasti dihargain … bener katamu bu ….”akan membuahkan hasil yang tidak sia-sia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s