sampah = my money …


Saya percaya dunia yang hidup dalam harmoni dan dalam damai itu adalah hanya teori, atau janji2 yang diungkapkan calon wakil rakyat dalam masa kampanye atau calon putri sejagat di saat penjurian. Bahkan jika juga Tuhan Yang Maha Kuasa akan memegang tahta di bumi, keadaan tidak akan berubah signifikan. Hal baik dan jahat itu selalu berjalan bersama, seperti dua sisi mata uang. Berdampingan dalam arah yang berbeda. Kejahatan, ketidakadilan itu selalu ada. bahkan Alkitab-Perjanjian Lama sendiri menceritakan bahwa Kain membunuh Habel gara-gara masalah korban persembahan, padahal mereka sendiri adalah saudara sedarah.  Jadi ketidakadilan itu emang udah ada dari sejak dahulu kala banget …

Hari sabtu kemarin, saya iseng jalan ke salah satu pusat perbelanjaan yang dekat dengan kosan saya. Niatnya cuma mau beli DVD doang, buat habisin waktu malam minggu ini dan tentu saja buat persiapan liburan tengah minggu nanti. Setelah cukup lelah memilih, cukup kesal saat akan mencoba (karena ada sepasang kekasih yang nyobain sebuah dvd ajah sampe 10 menit. saya sampai bingung, ini orang niat nyoba atau mo sekalian nonton ?), saya membeli 12 DVD. Saya cukup puas dengan pilihan saya itu. Di saat akan pulang, ternyata hujan turun dengan tiba-tiba. Karena saya  merasa tidak terburu-buru dengan sesuatu, saya memutuskan untuk ngadem dulu di bawah jembatan.Berdiri di sebelah seorang wanita pemulung dengan gerobak sampahnya.

Untuk memecah kesunyian, saya memulai percakapan dengan wanita tersebut yang belakangan kutahu bernama Lia. Seorang janda cerai tanpa anak dan mulai menekuni profesi pemulung sejak tahun 2006 lalu, tepatnya setelah ditinggal-pergi oleh suaminya (alasan klasik cin … suami kepincut ama wanita idaman lain). Dari perkenalan singkat itu, saya mulai mengenal sedikit soal bu Lia dan kesehariaanya. Dia memulung di sekitar daerah Matraman dengan menggunakan gerobaknya yang baru dibelinya dua hari lalu seharga 150rebo. Saya melihat gerobak sederhana yang dia maksud dan jelas sudah, gerobak itu dibuat seadanya dengan menggunakan sisa-sisa pintu rumah atau triplek bekas orang serta ban motor yang udah aus. Tapi bagi dia, gerobak itu adalah harta berharga yang dia miliki. Dulunya dia memiliki gerobak sebelum akhirnya kehilangannya kira-kira seminggu lalu (ternyata yang nyuri itu sesama pemulung kayak dia. Karena barang banyak dan gerobak itu tidak cukup kuat untuk menampung badannya sekaligus. Dia memilih tidur di tanah dan membiarkan barang itu tetap di sana. Pagi hari, saat dia bangun tidur bukan cuma barang-barang hasil dia memulung yang udah raib, ternyata gerobak itu juga sudah tidak di sana).

Dia memulung apa saja yang bisa dijual lagi. Ada botol air mineral, ada kardus, ada kertas koran, pokoknya macem-macem deh. Kalau kita orang normal bilang. Mereka memulung sampah, tapi bagi mereka sampah itu adalah duit. Untuk harga jual botol air mineral itu sendiri, dijual ke penadah seharga Rp.3000/kg (1 kg botol air mineral itu kira-kira satu karung banyaknya). Untuk kardus dijual dengan harga Rp.1500/kg, ember plastik bekas Rp.1500/kg. Untuk sehari-harinya, dia bisa mendapatkan 3-4 kg barang loak. sehari-harinya dia bisa makan 1-2 hari (kisaran harga makanan yang dia beli itu Rp.4000 – Rp.5000 dengan lauk seadanya. Dia berseloroh kalau dia hanya mengenal lauk tempe dan telor ceplok). makan 2 kali sehari kalau rejeki lagi bagus (hasil memulungnya banyak), dan makan cuma sekali doang kalau hasil memulung sangat sedikit dan belum bisa dijual. Miris dengarnya ….

Untuk penggunaan kamar-mandi umum, dia membayar 1000 kalau hanya mandi dan buang air besar. Tapi jika paketnya diupgrade (+  nyuci kain), maka harganya menjadi Rp.2000. Di waktu kami bertemu itu, ternyata dia belum makan malam karena hasil memulungnya gak banyak, jadi masih dalam ukuran nanggung kalau mau dijual ke penadah. Saya tawarin dia makan malam dengan saya yang traktir tentunya. Dia menolak ajakan saya, bukan karena sok-sok nolak pake gaya rendahin diri buat ninggiin mutu, tapi dia hanya takut saat kami makan dan gerobaknya ditinggal di luar. gerobak itu akan hilang dan dia harus membeli lagi dengan harga Rp.150.000. saya gak bisa memaksa dia, dan sebagai antinya saya memberikan sedikit uang saya kepadanya sebagai ganti makan malam (hayulah ! 20ribu rupiah gak akan bikin saya bangkrut dan mengemis di jalan).

Golongan pemulung itu bukan hal baru lagi di jakarta. Di setiap sisi jalan, di setiap kampung mereka selalu ada. Mengais-ngais di tempat sampah orang, tak jarang mereka bahkan harus ribut dengan kucing tetangga yang ternyata mengharapkan makanan dari kavling yang sama. Mereka ini tidak peduli dengan pendapat orang, dengan perilaku orang yang tak jarang menutup hidung saat mereka melintas, tatapan jijik dan bahkan beberapa dari mereka kadang makan dan minum dari sisa makanan orang di tempat sampah (Seriously, i’ve ever seen this).

So, what’s the point of this story? saya bukan mo ajakin orang-orang jadi tiap ketemu mereka jadi kasih uang dan membelikan mereka kasur biar mereka bisa tidur layak. saya rasa mereka juga gak senang dikasi kasur. Seandainya mereka dikasih kasur, mereka mau bikin dimana? wong tidurnya cuma di gerobak? masa iya gara2 kasur jadi ngontrak kamar ? makin mahal donk biaya hidup. Tapi mungkin kita bisa bantu dengan cara lain. Hey remember, ada pepatah orang yang  bilang kalau seseorang lapar, jangan berikan dia makanan. Tapi berikan pancing dan mata kailnya. Mungkin kita bisa membantu dengan memberikan barang-barang bekas di rumah yang sebenernya hanya menjadi sarang nyamuk dan tikus buat arisan. Koran-koran lama yang akhirnya jadi lapuk di gudang. Trus kalau kita liat mereka itu tiba-tiba jaga jarak dan tutup hidung atau ngusir mereka saat mereka mengais-ngais tempat sampah kita (bukan rahasia juga, kalau mereka kadang suka ngoprek-ngoprek tempat sampah kita tapi lupa buat beresinnya lagi …). Toh pada akhirnya, kalau dipikir-pikir … ada juga sisi positif adanya mereka … kita jadi jarang nemuin sampah botol mineral bekas berserakan di jalan🙂. Saya juga percaya lho, segala sesuatu yang kita berikan ke orang lain (mau jahat atau baik), suatu saat nanti dengan caranya sendiri, akan kembali kepada kita.

PS : the image attached in this post is taken from another website. If you (the owner of the pic) feels that this is inappropriate, please let me know and I’m gonna remove the picture. Thanks🙂

One thought on “sampah = my money …

  1. Teffy Taufikh says:

    Aduh mulainya gimana ya , tapi aq salah seorang pemulung juga. tidur di emperan gedung atau makan makanan bekas ato basi dah ga aneh, cuman ga kebayangan waktu kecil dah gede jadi pemulung ^_^.Tolong ke orang2 klo ketemu dengan pemulung jgn terlalu memperlihatkan jijik sakit hati kami , hidup kami tuh dah susah .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s