Life, as we know it ! (personal’s view)


Kehidupan ini adalah sebuah siklus. Saya percaya segala sesuatunya akan kembali ke suatu titik akhir. Kelahiran akan diakhiri dengan kematian. Kebahagiaan di hari kelahiran selalu akan ditutup oleh air mata kesedihan di hari kematian. Entah suka atau tidak, begitulah hidup ini adanya. Bahkan jalur yang terbentuk juga memiliki persamaan. Seperti alam yang terbentuk, ada bukit dan lembah, hidup juga demikian adanya. Ada saat dimana kita merasa bahagia, dan merasakan jiwa kita keluar sesaat dan merasakan “hidup ini indah dan aku ingin hidup lebih lama”. Sebaliknya, ada lembah yang kadang mengajak kita jatuh bersamanya hingga ke dasar dan membuat kita mengambil keputusan sesaat “saya lebih baik mati saja”.

 

life !
life in kanji (courtesy of : http://www.halcyonflux.com)

Masalah, telah ada seiring dengan eksitensi manusia. Jenis masalah dan resistensi terhadapnya juga memiliki keragaman tersendiri. Sebagian bertahan dan kebal oleh karenanya, sebagian memilih untuk berhenti sebelum tiba garis finish. Sebagian memilih untuk berbagi cerita dengan orang lain dengan alibi meringankan beban sebagian memilih untuk diam dan menyimpan dalam hati. Beberapa tahun yang lalu, saat saya masih dalam keadaan lugu dengan seragam biru putih saya, teman terdekat saya kehilangan kedua orangtuanya. Jabatan anak sulung membuat posisinya menjadi serba sulit. Cita-cita yang sudah dia rancang di hari depannya menuju ketidakpastian dan bahkan mustahil. Dia memiliki banyak adik yang mau tidak mau menjadi tanggung jawabnya. Walau tidak suka, tapi inilah suratan takdir bahwa dia harus berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi terlebih kepada saudara kandung yang menjadi warisan kematian orangtuanya. Di sisi lain, saya memiliki seorang teman wanita. Perihal uang bukanlah hal yang berat bagi dia seperti teman saya. Dia hanya ingin suaminya menjadi lebih manis, lebih melihatnya sebagai pasangan hidup bukan sebagai aset yang harus dijaga dengan sikap posesif. Terkadang dia merasa, haknya sebagai manusia dipertanyakan. Tetapi kepada siapa menuntutnya? Di lain hari, saya juga memiliki seorang teman dengan orang tua yang sangat suka sekali mendikte. Sepertinya sejak dia lahir, jalur hidupnya sudah ditentukan. Umur 7 tahun akan kemana, beranjak dewasa menginjak belasan akan menjadi apa, dan tiba waktunya menentukan pasangan hidup, hal itu juga tak lepas dari dikte sang orang tua. Hal ini belum lagi ditambah dengan kenyataan hidup bahwa beberapa manusia di belahan dunia ketiga hidup dengan pendapatan di bawah rata-rata dan tidur beratapkan bintang saat cerah dan curahan air di saat hujan.

 

life, lonely, sad, happy …

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengalami depresi yang begitu hebat. Saat itu saya merasa bahwa dunia ini tercipta untuk banyak orang, tetapi bukan saya salah satunya. I mean, the world choose someone else but me. Saya hanya menjalani saat-saat yang ada hanya karena sebuah mekanisme otomatis tanpa ada warna di dalamnya. Seperti detik berganti selama 60 kali menjadi menit, dan menit berdetak 60 kali menjadi jam begitu seterusnya sampai menjadi hari, minggu, bulan dan berganti tahun. Tepatnya, saya seperti zombie. Saya kehilangan berat badan beberapa kg dan kelihatan lebih kurus dari pertama sekali saya datang di sana. Saya memutuskan bahwa saya harus melakukan sesuatu, menemukan hobby baru dan orang yang bisa menerima saya apa adanya. Saya percaya bahwa cinta yang sesungguhnya terbukti saat kita bisa menerima orang lain apa adanya, terlepas dari kelemahan yang dia punya. Saya tidak ingin berakhir menjadi seorang zombie.

Saya tidak ingin membandingkan masalah saya dengan mereka yang mungkin kelihatannya saya lebih beruntung dari mereka atau sebaliknya. Penderitaan dan kebahagiaan sudah menjadi paket yang tidak bisa lepas dari manusia semenjak dia diputuskan untuk hadir di planet yang bernama bumi ini. Hanya tidak semua orang bisa membagi porsi yang sama antara tertawa dan airmata. Saat saya memutuskan untuk menemukan hobby baru dan membuka pergaulan saya terhadap orang lain saya tahu bahwa saya berhak bahagia menurut cara saya sendiri. saya hanya perlu membuka diri saya dan mengetahui bahwa sebenarnya saya mempunyai sumber-sumber untuk keluar dari masalah tersebut. Saat saya merasa secara pribadi saya hancur berkeping-keping bahkan saya merasa saya sudah melihat onggokan badan saya yang hancur telah tersebar kemana-mana. saya merasakan kebahagiaan saat saya menemukan hobby baru saya (membaca dan menulis) dan menemukan teman baru yang bisa menerima saya, saya tahu bahwa saya berhak bahagia. Saat saya menyentuh kebahagiaan itu dengan ujung jari saya, saya tahu saya tidak bisa berhenti sampai saya benar-benar menggenggamnya, merengkuhnya, membiarkanya mengalir ke seluruh tubuh saya dan merasakannya. Setiap kita pribadi hidup di bumi memiliki hak dan kewajiban, sudah menjadi tugas kita untuk mencari kebahagiaan di kehidupan yang singkat ini, walau sedang dalam masa kegelapan, dalam bentuk sekecil apapun.

I believe, everyone deserves happiness ! Happy Valentine Days !

 

5 thoughts on “Life, as we know it ! (personal’s view)

  1. boru jait says:

    wow, keren!
    satu yg saya salutkan, kk sudah menemukan apa yg kk suka, n itulah hal dasar dlm menemukan jati diri!
    Be yourself!
    live your life kak!!!!
    daku setuju kalo kk buat buku ajaaπŸ˜€

  2. 3w9 says:

    Setiap kita pribadi hidup di bumi memiliki hak dan kewajiban, sudah menjadi tugas kita untuk mencari kebahagiaan di kehidupan yang singkat ini, walau sedang dalam masa kegelapan, dalam bentuk sekecil apapun.
    Sepakat banget ….. ya kudu demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s