andai ia tahu

Kembali malam ini kita duduk dalam remang, tertelan temaramnya lampu café. Kamu, duduk di seberang sana dengan baju santai yang masih sanggup membuat tenggorokanku tercekat. Tanganmu terjulur di atas meja, seakan ingin menggapaiku. Ingin kuraih tangan itu dan menempatkannya di hatiku, di tempat dimana dia seharusnya berada. Walau dalam lima detik kemudian, aku menyadari bahwa itu hanya sebuah fantasiku saja. Dengan lunglai kamu berucap

“Dia menolakku. Semua pengorbananku sia-sia. Dia memilih pria lain”

Di sudut hati yang paling dalam aku melonjak kegirangan. Itu artinya aku masih bisa merasakan tawamu, berbagi kecewaan denganmu, memilikimu lebih lama lagi walau semuanya dalam label “sahabat”. Tapi di sudut lain aku juga merasakan rasa sedih, mencoba berempati dengan pria ini yang belakangan ini selalu menghiasi mimpiku. Benar kata orang, mimpi mengurangi kualitas tidur. Tapi seperti mekanisme mesin, kamu selalu datang tanpa diminta di setiap mimpiku. Setiap malam !.

“Kenapa kemaren dia menerima kado yang kuberikan ? kenapa seminggu lalu dia juga mau diajakin nonton ?”

Aku hanya tetap terdiam. Terdiam melihat dia dan segala bentuk kesedihannya. Dentingan piano mengalun sendu. Sembilan puluh detik berlalu dalam diam. Lidahku kelu. Sulit menjadi munafik saat aku dihadapkan antara cinta dan persahabatan.

“Aku capek dan benar-benar merasa bodoh. Dua tahun berjalan percuma !”

Bagimu dua tahun percuma, bagiku dua tahun penuh keindahan dan kenangan. Walau kau terkadang mengingatku saat kau menginginkan semangkuk bakso panas dan sebotol teh dingin. Bukan menginginkan saat hari kasih sayang tiba, bukan wanita yang akan kau hadiahkan sejuta mawar putih.

andai ia tahu ...

Kembali pikiranku dibawa kepada suatu Minggu indah dua tahun lalu. Aku bertemu dengannya di gereja. Dia seorang anak pindahan dari kota lain dan mendaftarkan diri jadi jemaat. Dari pertama aku menatap matanya, perasaanku sudah tidak karuan. Dia seakan-akan menjadi oase di hatiku yang nelangsa. Sayang, dia bukannya balik menatapku seintim aku ingin menatapnya. Dia tidak berkedip sedikit pun dari gadis di sebelahku. Dia menyukai sahabatku. Ada pepatah mengatakan “saat engkau jatuh cinta, engkau bisa menjadi konyol dan mencari seribu satu cara untuk tetap berdekatan dengannya”. Itulah aku, peran mak comblang menjadi mediaku untuk bisa selalu bersama dengannya.

“Jadi kamu sekarang mau bagaimana ?”

Demikianlah ciri khas curhat antara aku dan dirinya. Jangan pernah memberi nasihat panjang lebar saat seorang menderita patah hati. Biarkanlah dia tuangkan semua isi hatinya dan tetaplah setia di sisinya sebagai pendengar. Aku tahu, kamu sudah tahu berbuat apa sebagaimana kamu selalu tahu isi hatimu sendiri, pikiranmu, kebahagiaan dan kesenanganmu. Kamu hanya butuh kalimat tanya untuk memecah keheningan malam.

“Diam dan menata kembali hidupku ! tidak ada lagi usaha macam-macam. Aku tahu akan ada seseorang di luar sana yang sanggup mencintai aku dan menyayangi aku apa adanya”

Pesanan kami diantar oleh pramusaji. Seraya mengatakan terima kasih kepada pramusaji dia menyodorkan minuman kepadaku dan mulai mengangkat gelas

“Untuk cinta lain yang lebih baik lagi, Cheers !”

Sesuatu dalam ucapan itu terlalu menyakitkan hatiku. Entah karena cuaca malam yang semakin dingin, entah karena dentingan piano yang serasa menyayat, entah karena minuman ini mendadak jadi pahit di lidahku, entah karena kamu yang terlalu tuli untuk bisa mendengar atau terlalu buta untuk bisa melihat.

“Kamu sakit ?”

“Oh tidak, aku baik-baik saja. Mungkin karena baru pertama kali aja aku coba minuman seperti ini”

Kembali dia tersenyum dan asik dengan makanannya…

Kembali kutatap dia dengan kekuatan hati yang kumiliki

Kembali sudut di ruang hatiku berujar

“Seorang malaikat ada di depanmu, kamu tak pernah tahu. Kamu hanya terus menanti manusia biasa yang seakan turun dari surga…”

Advertisements

curahan hati PSK

Ada beberapa hal yang sulit untuk dilupakan bahkan saat kau mencoba untuk terlelap. Mencoba menutup mata dan menghempaskan dari angan barang sejenak. Orang bisa berkata dan mencoba menghibur dengan segala macam teori aneh. Life must go on, itu kata mereka. Mudah dikatakan tapi tidak mudah untuk dilaksanakan.

Pernahkah kau terpikir, keluar dari ragamu barang sejenak. Mencoba melakukan napak tilas dari seluruh rangkaian dalam hidupmu. Mencoba mengambil pelajaran dan semakin kuat darinya ? tapi sayang roh emang penurut tetapi daging lemah. Walo anganku ingin melupakannya tetapi sebagian dari diriku memeluknya sangat erat, enggan untuk melepas.

“jangan pernah jatuh cinta”,

Itulah pesan yang aku dapatkan saat memulai profesi ini. Tuntutan perut lebih besar dari akal sehat, maka dengan sangat gampang aku menundukkan kepalaku menandakan bahwa hal itu sangat mudah dilakukan. Aku hanya datang, mencoba menggoda sedikit, dengan gampang seorang pria akan menghampiriku, negosiasi dan we’re on the skin on skin. Tidak ada pagi, tidak ada malam, tidak ada kesedihan. Hanya aku dan dia dalam sebuah kamar sempit berukuran 4 x 4 m. semuanya indah dalam waktu sejam. Dalam sejam aku hanya berpura-pura mencintainya, menjadi seorang pencinta hebat dan terengah-engah. Fake orgasm dibutuhkan untuk profesi ini. Sedikit sulit di awal, tetapi saat semakin sering dilakukan. Maka hal itu akan mudah, semudah engkau membalikkan tanganmu.

Pernahkah engkau mendengar istilah ini

“seorang pria akan merasa sangat hebat jika mampu menaklukan seorang psk dalam hal bercinta ?”. demi menjaga harga diri dan ego setiap pelangganku, aku selalu bisa membuat diriku benar-benar takluk. Membuat mereka menjadi pemenang. Walau dalam diri aku merasa perih. Percayalah teman, melakukan hubungan sex tanpa cinta itu sangat menyakitkan. Percayalah !.

Setelah 4 bulan aku bekerja di club ini, aku sudah memiliki 3 pelanggan tetap. 1 orang yang selalu datang di malam rabu dengan alasan weekly meeting di depan sang istri, 2 diantaranya adalah pria yang bekerja di luar kota dan datang ke kota ini dengan tujuan bersenang-senang. Aku tidak pernah menaruh hatiku kepada satu diantara tiga pria ini atau kepada pelanggan lain yang pernah kencan sekali denganku. Walau aku tahu, banyak dari mereka yang menaruh hati padaku. Tetapi dengan cara paling halus aku menolaknya. Aku selalu mengatasnamakan profesionalitas kerja. Aku memilih kata kencan karena kedengaran lebih sopan walau fakta di belakangnya semuanya adalah hitam dan tidak mengenal norma.

Terkadang, dengan mereka aku tidak tidur or do some ‘fucking things’, tidak jarang mereka hanyalah seorang pria, seorang suami, seorang ayah yang membutuhkan teman untuk mendengarkan keluhan mereka tanpa mengintrupsi, menyela atau bahkan menghakimi. Mereka hanya membayar telingaku untuk mendengar keluh kesah mereka.

Sampai suatu hari, jumat malam … dibalik remang-remang night club ini, aku menyesap minumanku. Aku memilih untuk meminum red-wine, tidak lebih kuat dari itu dan tidak merokok. Ini juga kupelajari dari seorang klienku, pria perancis yang sangat tampan dan lucu. Dia mengatakan bahwa red-wine ini adalah minuman wanita sejati. Entah teori apa itu, tetapi aku mengamini dalam hati dan demi menjaga kesejatian ini, aku hampir selalu meminum jenis yang sama. Jika aku beruntung, maka seorang klienku akan membelikanku wine yang diproduksi di awal tahun 1900-an.

Aku tahu, dia mengamatiku dari jauh. Hanya melempar tatapan ingin tahu tanpa berusaha menyapa. Hingar bingar night club ini sangat bertolak belakang dengan kesendirian dan jarak yang tercipta diantara kami. Seakan dua kutub magnet yang saling tarik-menarik, kami bertatapan tanpa mengucapkan kata. Itu awal dia tersenyum, berjalan ke arahku dan menyapa.

Andy”, katanya sambil menjulurkan tangannya.

“Sendirian?”, dia balik bertanya tanpa sempat aku perkenalkan diriku.

“Icha. Aku seorang PSK, dan kebetulan aku biasa mangkal di night club ini”.

Aku menjawab jujur dan tanpa beban. Tidak perlu ada yang ditutupi, seluruh penghuni night club yang biasa ke sini sudah tahu reputasiku. Tenanglah sobat ! tidak perlu mencibir. Menemukan seorang PSK di sebuah night club bukanlah suatu keajaiban.

Sejak itu, kami sering ketemu. Sekedar bicara, nonton atau melakukan pelayanan seperti yang biasa aku tahu. Semakin dia cerita, semakin aku mengenalnya. Dia benar-benar membuka diri kepadaku, dan tanpa diduga, aku juga membuka diriku kepadanya. Suka atau tidak, inilah aku. Aku menyadari bahwa diriku sudah jatuh cinta kepadanya. Sulit untuk menelan ludah dan kembali menarik kata-kataku bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta dalam dunia kelam ini.

Dia adalah seorang kepala bagian di sebuah perusahaan yang sangat berkembang pesat. Beban pekerjaannya bertambah. Keadaan di rumah bukanlah hal yang baik baginya untuk melepas lelah. Perjodohan demi menjaga nama baik keluarga dan mempererat silahturahmi ternyata bukanlah pilihan tepat dan pasti akan disesalinya seumur hidup. Usia perkawinannya dengan istrinya yang telah berumur 5 tahun dan pada akhirnya kutahu adalah wangsit bundanya yang menjadi ide dari rumah tangga mereka dan ini benar-benar salah.

Bahkan dalam rentang waktu itu, mereka tidak cukup saling mengenal pribadi masing-masing. Aku sempat bertanya dalam hati bagaimana mereka dapat bercinta dan memiliki seorang anak ?. buru-buru kutepis pertanyaan itu. Sepertinya itu hanya akan menjadi boomerang bagiku. Toh selama ini juga aku bisa dan biasa melakukan sex tanpa cinta. Kenapa tiba-tiba aku harus menjadi munafik ?

Suatu malam, dalam kamar kosku. Ada aku dan dia, berpelukan, telanjang dan saling berbicara.

“Kita akan terus begini ? Ketemu diam-diam ? masih alasan kerja lagi ?”, tanyaku sedikit menuntut.

“Tapi lebih baik bukan, ketimbang kita gak ketemu sama sekali ?”

“Tapi sampai kapan Dy ?”, masih tetap dengan sedikit mendesak.

“Tunggu sebentar “, percakapan kami terhenti seiring dengan dering ringtone di ponselnya.

Diriku menatap jam dinding yang masih tetap berjalan ke arah kanan, menatap foto di pinggiran ranjangku. Senyum gadis ibuku masih tetap sama. Melihat gelas yang setengah kosong berdiri di atas sebuah rak di sudut kamar. Semuanya masih tetap sama. Tetapi bukan aku. Diriku menunggu sampai ia menyudahi pembicaraan dengan manusia di ujung sana yang aku yakin adalah istrinya.

“Maap cha, aku harus pulang. Anakku sakit. Sepertinya demamnya sangat tinggi. Maafkan aku”

Terburu-buru dia mengenakan kembali pakaiannya dan dengan sedikit terburu-buru dia mengecup keningku tanpa melihat tatapan memelas di mataku. Selalu diakhiri seperti ini. Susah menjadi orang kedua dalam suatu hubungan. Apalagi dengan mereka yang sudah berumah tangga. Aku harus menelan pil pahit saat harus menjadi nomor dua seperti ini. Belum lagi ditambah kenyataan aku harus bertemu diam-diam dengannya. Sebulan lalu bahkan aku harus berpura-pura mengirimkan sms putus kepadanya. Walaupun itu hanya bagian dari scenario, tapi tetap saja jemariku enggan untuk mengetik karakter per karakter sampai membentuk suatu kalimat putus yang sadis kedengarannya.

Di tengah kesendirianku, kembali kulihat kembali hidupku, hidup pria dan wanita di dunia ini. Kitab suci mengatakan bahwa manusia, pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Tetapi sepertinya aku tercipta bukan sebagai Hawa. salahkah aku, seorang PSK jatuh cinta ? Salahkah aku memiliki seseorang dalam hidupku hanya untuk sendiri ? memeluknya dan menciumnya tanpa tatapan dan cibiran manusia-manusia sok suci lainnya ? semuanya hilang tak terjawab dalam pekatnya malam.

NB : just another fantasy story. kepikiran setelah teringat hari AIDS sedunia yang jatuh 1 desember kmaren. dan emang fakta yang ada PSK ini adalah golongan yang paling rentan terkena AIDS.

you belong to me

Dengan setengah keberanian yang kuciptakan sejak seminggu lalu, akhirnya tibalah hari ini. Saat aku merasa logikaku jauh menggungguli perasaanku. Kekuatan yang terbesar dalam diriku. Dengan suara yang pelan dan nyaris ditelan angin aku berkata

“Saya sudah lelah, Don. Kita sampai di sini saja”

Pria di ujung sana, dengan format yang sama setiap kedapetan selingkuh selalu memandangku dengan tatapan iba dan bersalah. Inilah alasan kenapa aku tidak ingin menangis malam ini. Aku sudah lelah memanfaatkan airmataku untuk tetap mendekapnya untuk tidak beranjak. Aku sudah muak dicintai oleh karena rasa iba. Aku sudah capek untuk tetap berpura-pura bahwa ini cuma mimpi semata. Aku sudah jijik dengan segala bentuk kemunafikan ini. Saatnya aku berpikir dengan logika, bukan cuma hati dan perasaan. Lagi-lagi kuingatkan diriku.

“Ehm, kita tidak boleh begini sayang. Lima tahun kita sudah jalani. Aku tahu kamu masih sayang amaku, dan jujur aku juga masih sayang ama kamu.”

Jika dulu aku masih bergetar dengan kata sayang itu, sekarang kata itu terdengar seperti sampah yang saatnya untuk dibuang dan dilebur sampai benar-benar hancur. Dia seperti kehilangan makna. Sebelumnya aku melihat kata itu begitu indah dan sakral, tetapi sekarang ingin sekali aku menyuruh manusia – yang dulunya aku sayang, sampai sekarang juga perasaan itu tidak berubah – untuk berhenti berkata-kata dan menerima kenyataan bahwa inilah yang terindah yang dapat kami lakukan.

“OK, aku akuin. Aku itu kemaren salah. Aku jalan dengan dia dan sampai berapa kali sms dan teleponan. Tapi udah … Cuma itu doang. Gak lebih kok sayang”

Sekali lagi pembelaan itu keluar dari bibirnya. Bahkan kata sayang terakhir di kalimat itu seakan mengambang di awan, tidak mampu membuka pintu hatiku seperti yang terjadi selama ini. Gantian aku yang menatap pedih ke arahnya. Sedetik saja aku melupakan pengkhianatan itu, bisa dipastikan aku akan mendatangi dia dan menyentuh rambutnya, mengatakan

“Happy April Mop, sayang. Ini Cuma bercanda”

Tapi kami tahu, ini adalah September, bukan April. Semilir angin yang semakin dingin menandakan akan berakhirnya keganasan musim panas dan digantikan dengan musim hujan. Mungkin akan menjadi musim hujan pertamaku yang akan kulewatkan sendiri dalam lima tahun terakhir.  Tidak akan ada film lucu yang akan kami tonton bersama dengan segelas penuh susu coklat panas dan kaki saling selonjoran dan bertaut untuk coba saling menghangatkan. Tidak akan ada dia, yang akan memperbaiki letak syalku saat kucoba kutautkan seadanya di leherku dan tentu saja tidak akan ada Natal dan pertukaran kado yang menjadi agenda rutin. Dadaku tercekat membayangkan kenyataan yang akan terjadi.

“Ngomong donk sayang. Kita baikan lagi ya”

Kembali dia memohon, mencoba mencairkan kebekuan yang terjadi di antara kami. Kembali aku menatap dia lurus setelah sebelumnya aku membuang pandanganku kemana-mana. Di tengah temaramnya lampu kafe, aku coba melihat sosok dia mungkin untuk terakhir kalinya dengan kadar intim – walau pun menyakitkan seperti ini. Diam-diam aku mengakui ketampanan, postur tubuh dan suaranya. Yah … dia memang selalu tampan dan mempesona.

“Keputusanku sudah bulat. Aku bukan mau menghukummu dengan ini. Aku hanya melepaskanmu sesuai dengan yang kamu mau. Setelah ini, kamu bisa mendekati cewe mana pun tanpa merasa takut akan tertangkap basah olehku”

Kata-kata itu mengalir, mencoba mencairkan kebekuan dalam beberapa menit terakhir. Aku harus meyakinkan hatiku sendiri sehingga kata-kata yang keluar juga akan sama meyakinkannya. Aku ingin terlihat tegas dan tanpa air mata. Aku merasakan kemenangan dalam jiwaku sendiri. Akhirnya kata-kata terakhir itu mengalir lancar dari tenggorokanku dan bersama dorongan udara sampai juga kepada pria di seberang meja.

Dengan sisa-sisa nyali yang masih aku punyai, aku berjalan menghampirinya. Memeluknya untuk terakhir kali dan merasakan kehangatan serta detak jantungnya. Setelah menit ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi.

“Aku pulang dulu. Jangan coba antar aku, hari ini aku ingin pulang naik taxy saja. Jaga dirimu baik-baik”.

Dia hanya terpaku di sana, tidak bergeming atau bahkan berusaha memelukku balik. Mungkin itu lebih baik, untuk tetap menjaga malam ini tetap begini dan tidak kehilangan makna.

“See the pyramids along the nile
Watch the sunrise on a tropic isle
Just remember, darling, all the while
You belong to me”

Aku tersenyum dan ikut menyanyi dalam hati. Entah itu disengaja atau kebetulan, para penyanyi kafe mendendangkan lagu tersebut. Mungkin itu akan menjadi terakhir kalinya aku mendengarnya, lagu yang dengan semena-mena aku dan Donni klaim sebagai lagu kebangsaan cinta kami.

“Lebih baik memiliki cinta dan kehilangan …”,

pepatah itu melintas cepat melewati pelupukku. Aku tidak pernah menyesali pertemuan dan kenangan yang ada di antaranya. Pun aku tidak menyesali perpisahan ini juga, mungkin ada saatnya aku melepasmu untuk membuktikan bahwa sebenarnya aku sangat mencintaimu.

pagiku dulu …

family

Ayam jantan itu masi berkokok seperti biasa dengan waktu biasa yang seakan-akan itu adalah rutinitas si ayam dengan umur baru menginjak setahun. Mungkin suara ayam lebih mengena di telinga sang nyonya rumah daripada sebuah weker dengan nada yang variatif. Sulit memang untuk mengubah kebiasaan di umur yang sudah tidak muda lagi.

Bergeliat sebentar dan meluruskan tangan ke arah suami yang masih terlelap tidur, dan mata sedikit mengintip. Ada sebuah kebahagiaan kecil yang terselip di sudut bibir seakan berkata
“Pria ini telah melewatkan malamnya dengan setia di sebelahku. Akankah dia kulihat terus setiap pagi tetap dengan aroma tubuh yang sama ?”
Adegan itu hanya sampai di situ, segera dia sadar ada 2 malaikat kecil yang harus pergi ke sekolah. Sarapan pagi nasi goreng dan telur ceplok serta segelas susu akanlah sempurna menemani pagi mereka sebelum berangkat sekolah.

Kadang terlintas dalam pikiran sang bunda
“inikah surga dan neraka saat kuputuskan diriku dipersunting ?”. Di satu sisi dia harus merelakan beberapa kerjaan yang semasa gadis dia sukai, tetapi di sisi lain dua malaikat dengan kulit berbeda memberikan warna baru, tujuan hidup baru dan tentu saja kebahagiaan baru.

Suara gaduh yang seketika muncul di sebuah dapur sempit tetapi masih tetap setia mengepul menjadi sebuah himne pagi yang jika tidak kedengeran malah akan terdengar aneh.Tak lama kemudian, bau sedap dan asap muncul dari makanan. Dengan senyum dan suara kencang tapi terdengar indah dia memasuki kamar malaikat kecilnya, tetap dengan himne pagi dalam versi lain dia mulai bernyanyi
“hen … ika … bangun, mandi yuk … kan mau sekolah”

Suara sang bunda selalu terdengar indah bahkan sekalipun mereka belum cuci muka atau gosok gigi. Bayangan hukuman akan telat ke sekolah daripada sang ibu akan marah ternyata jadi motivasi besar bagi si anak untuk bangun pagi. Mandi pagi, sarapan pagi dan doa pagi yang selalu dibawain sang bunda menjadi sebuah momen yang akan tidak terlupakan oleh sang anak kelak … berlalu dalam waktu setengah jam lebih.

Saatnya untuk sekolah …
Sang bunda melihat kepergian sang anak dengan tatapan lembut diselipi sedikit khawatir “akankah mereka jajan sembarangan di sekolah atau akankah ada pengemudi gila yang mungkin akan melukai mereka”. Tetapi semua kekhawatiran itu hanya di simpan dalam hati dengan satu keyakinan Maha Kuasa dengan mata langit yang besarnya sulit diungkapkan akan senantiasa menjaga malaikatnya

note: kebiasan pagi saat gw masih duduk di bangku sekolah dasar. I miss my mom … 😀

Malaikat tak selalu bersayap

Di tahun-tahun yang telah berlalu, hari dimana aku hanya mengenal bola bekel dan lompat karet adalah hal terindah di dunia ditambah dengan sebatang coklat dan sebatang lolipop, malaikat itu keliatan selalu tak sempurna tanpa sayap. Yup, baju putih dan sayap serta lingkaran emas di atas kepala mereka adalah paket komplit dari sesosok hibrida yang disebut malaikat. Setidaknya aku pernah begitu sangat mengagumi sosok yang jiplakannya selalu di pentaskan di akhir tahun dalam sebuah pertunjukkan Natal. Pelajaran yang dulu aku pegang saat Natal tiba adalah: bahwa perayaan Natal tidak akan sempurna tanpa lagu Malam Kudus dan Tarian Malaikat, seakan-akan lagu Malam Kudus adalah lagu kebangsaaan Malaikat. Kedengaran polos sekali? aku tahu … tapi jika anda adalah anak berumur 8 tahun maka kita akan sependapat dan mungkin akan mendiskusikan apakah malaikat pernah mencuci seragam mereka sehingga kelihatan selalu putih serta darimana mereka mendapatkan sayap yang dikelilingi oleh bulu-bulu angsa putih raksasa atau kenapa seragam tersebut tidak dibuat saja dalam 2 versi, pria dan wanita dan mengapa mereka memakai baju yang sama yang kadang aku melihatnya sebagai daster yang biasa dipakai oleh ibuku. Aku bahkan ingat, bagaimana aku pernah betah memandangi bando di sebuah toko yang sama dengan penghias kepala seorang malaikat di sebuah kalender bertuliskan November 1995. Maklumlah ibuku dulunya sangat suka sekali membingkai gambar kalender bekas dan menggantungkannya di ruang tamu atau ruang makan.

“ayo pulang hen” ibuku menarik tangan kecilku dan itulah akhir dari binar kagumku di depan etalase sebuah toko dan lamunan akan bando titipan malaikat.

Dunia berputar di porosnya selama 24 jam, berjuta kehidupan bergulir di dalamnya dan perputaran itu juga menyebabkan pergantian waktu dari detik ke menit, jam ke hari, minggu, bulan, tahun bahkan memasuki satu dasawarsa. Tentu saja, aku sendiri juga ikut bertumbuh dan semakin dewasa, dan mulai mengenali hidup dan segala intrik yang terdapat di dalamnya bahkan untuk bertahan hidup sekali pun. Sejak aku duduk di tengah tahun SMA, keluargaku mengalami kesulitan ekonomi yang berat, walau pada akhirnya semuanya bisa teratasi. Dengan ekonomi pas-pasan juga aku mutusin buat kuliah. kedengaran nekat ? mungkin iya, tapi sebenarnya aku optimis. Life is beatiful even for a very simple reason. Keadaan di tahun akhir kuliahku bukanlah hal yang menyenangkan untuk diingat, everything got worse. Sampai suatu saat ada jalur malaikat yang mengenalkanku kepada seorang malaikat. Jalur malaikat ini adalah orang yang sebelumnya sering aku ledek dengan beberapa teman wanitaku di asrama, walaupun sebenarnya jalur malaikat ini adalah seorang yang begitu normal dan di luarnya itu dia adalah seorang manusia biasa yang memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Singkatnya sangat pintar. Pertemuan pribadiku dengan sang malaikat hanyalah sebentar, dia tahu aku dengan segala masalahku dan dia juga tahu bahwa hal itu memiliki potensi besar untuk mengganggu kegiatan akademik ku. Tidak usah ditanya kenapa dia tahu karena malaikat yang tepat beberapa tahun lalu duduk di depanku adalah orang pintar dan hal demikian bukanlah hal yang sulit untuk dianalisa. Akhirnya dengan suara yang lembut dia mengatakan akan selalu ada untuk membantuku dalam kuliahku baik mental dan materiil. Sekelibat bayangan malaikat yang sebenarnya muncul di depanku. Gimana enggak. Kami tidak memiliki hubungan bathin apa-apa selain di awal bumi ini pertama kali diciptakan kami adalah keturunan Adam dan Hawa dan sama-sama tinggal di negeri yang disebut Indonesia. Akhirnya dia menyebutkan nilai nominal bantuannya dan jika bisa digambarkan bagaimana senyumku dan rasa senangku dengan berita itu, maka bibir Joker di dalam film Batman ‘The Dark Knight’ jelas sekali akan kalah lebar (sounds too hype? I know, just wanna tell you I was pretty happy at that time). Sang malaikatku itu benar-benar memegang janjinya sampai aku resmi menjadi wisudawati dan bahkan lebih dari itu, sampai saat ini kami masih berkomunikasi walaupun tidak intens. Tapi Tuhan begitu baik padaku hingga aku bisa melihat bagaimana seorang malaikat datang dalam hidupku selain kedua orangtuaku dan aku tau, dia tidak memiliki sayap dan mengenakan baju putih.

PS: thanks for ‘S’ for being there as a great angel. May someday I can do the same, be an angel for you or somebody else.

Have a blessed weeding …

Hidup itu adalah sebuah siklus. Bayi – balita – anak-anak – remaja – dewasa – orang tua – tua. Sebuah lingkaran kehidupan yang indah, jika semua tahap dilalui dengan sempurna dan bahagia. Memutuskan sebuah jalan hidup baru dengan orang baru bukanlah perkara mudah seperti layaknya membeli mainan. Digunakan saat lagi ingin dan saat rusak, dia hanya akan teronggok dengan sampah-sampah lain di sudut ruangan yang gelap dan tidak terlihat. Mengikrarkan janji suci di altar dan disaksikan oleh pemuka agama tidaklah semudah mengungkapkan kata “saya bersedia”, suaranya nyaring dan memenuhi gereja dan disambut dengan senyum malu-malu oleh sang mempelai lain. Indahnya hidup pernikahan tidak sebatas menjadi raja dan ratu pesta sehari, diikuti oleh malam-malam hangat yang akan dilalui sesudahnya.

Marriage, Pernikahan atau istilah lain yang mungkin dikenal di seluruh peradaban manusia adalah bagaimana kesediaan kita menerima orang lain dengan segala kelemahan dan kekurangan mereka dalam segala kondisi. Suatu pelajaran hidup baru yang tidak akan usai dan usang dimakan oleh jaman. Pembelajaran bagaimana menerima orang lain untuk disayangi, dimengerti, dan bersikap sabar dan mencoba berbagi segalanya dengan dia yang telah Tuhan berikan. Mencoba menjaga sikap dengan baik, karena saat suatu hari terjadi kesalahan … kita tidak sendiri lagi yang akan terseret ke dalamnya. Ada jiwa lain yang turut menjadi korbannya. Beberapa tahun sesudahnya … kesempurnaan hidup akan semakin lengkap dengan adanya malaikat kecil yang berwajah polos dan memanggilmu “Papa” atau “Mama”, seorang manusia kecil dengan hanya senyumannya yang tak berdosa membuatmu sanggup melupakan keletihan dan penatnya segala bentuk rutinitas, yang membuat duniamu indah tanpa perlu surga.

I’m not gonna be there in your big-day, but believe me one thing that I pray for your happiness, not only in your big-day but in your further day after the weeding party. May you live happily ever-after with your new best friend ever, with your new family member (gonna be) till you hair turns to gray and till you’ve got your children children.

*buat temenku ERWIN SIANIPAR, who just married
Selamat Menempuh Hidup Baru, moga pernikahannya langgeng sampe jadi oppung-oppung 😀

LoVe !

Cinta dan Mencintai …

Ada kalanya kita mencintai layaknya seperti embun.
Dia cantik dan indah saat dilihat di ujung daun yang basah, tetapi saat kau pegang maka punahlah sudah keindahan itu seiring dengan jatuhnya titik air ke tanah.

Cinta itu halnya terjadi saat kau lihat awan, terlihat penuh, empuk dan indah di luar tetapi saat kau pegang dia tak lain hanya sekumpulan air yang memilih untuk tetap di atas sana.

Ada kalanya cinta seperti patung pajangan di etalase toko
Dia cantik hanya karena ada di dalam etalase tetapi konyol saat kau coba bersanding dengannya.

Terkadang, cinta itu seperti Pelangi
Indah saat hujan dengan nuansa mejikuhibiu-nya, tetapi tidak saat dia semakin lama semakin pudar diganti dengan beringasnya sinar mentari

Terkadang kau coba mencintai orang seperti Macromedia Flash
Melakukan aksi dibalik setumpuk action script yang ada di imajinasimu.
Saat kau lepaskan tanganmu dari mouse dan keyboard, kau menyadari cinta tak akan seperti itu
Terprogram dengan baik di balik kode aneh yang disebut ‘script’.

Di lain sisi, terkadang cinta itu seperti salju di kutub utara
Panas matahari, hujan badai tidak akan cukup kuat untuk membuatnya mencair dan mengalir ke samudera Atlantik.

Kadang kala kau menjadikan cinta itu seperti handphone
Kau akan menggantinya seturut dengan perkembangan jaman. Upgrade yang tiada henti.

Ada juga yang melihat cinta itu seperti tikus rumah.
Semakin kau coba mengejarnya, semakin keras juga dia coba berlari.

Sebagian lagi merasa cinta seperti tanah liat pembentuk guci
Dia bisa dibentuk seturut dengan kehendak kita, tanpa ocehan dan tanpa keluhan.

Ada yang melihat cinta seperti tas mono-pettit Louis Vitton atau clutch terbaru keluaran Channel.
Butuh duit banyak untuk bisa memilikinya.

Cintapuccino kadang datang dan bersemayam di sebagian insan
butuh waktu bertahun-tahun dan obsesi gila yang memunculkan bahwa dia masih tetap betah tinggal di sana.

Tetapi di atas semuanya ada yang mencintai itu seperti lilin
Berkorban tanpa pamrih, hanya memberikan penerangan kepada seisi penghuni rumah.

Everybody can see and symbolize love with what they think with the right sign but whatever it is. Love is something which you and I and other people have since we see this planet.