Product Review: Clarisonic MIA 2

Clarisonic itu udah kayak trend dalam dunia skincare.  Tapi apa iya emang sebagus itu? Sebanding gak hasil yang didapet dengan duit yang dikeluarin?
Percaya atau enggak, butuh dua tahun bagi saya pribadi sebelum mutusin pake alat ini. Kenapa? MAHAL! liat dari website mana pun. Semuanya rata-rata masang harga sama. 150USD! Ya kaliin aja pake kurs yang berlaku sekarang.
Setelah bolak-balik cari review di Internet, bolak-balik mikir. Akhirnya kuatin hati dan terlebih dompet juga buat mesen. Saya mesen alat ini pake sistem pre-order dari salah seorang seller di femaledaily.com. Udah gitu, mesennya emang kayak pucuk dicinta ulam pun tiba. Pas udah kebelet punya, pas sephora lagi bikin promo 20% off untuk semua item. Saya mesen alat ini di bulan Maret 2013, sampe sendiri ke tangan saya lumayan lama. Kira-kira 3 bulanan. Selain masalah shipping dari US yang cukup lama ke seller dari seller ke saya, ternyata pesanan seller saya ini sempat nyaris batal dan kudu back order. Emang kayaknya semesta juga mendukung gua kali ya punya alat ini, back ordernya berhasil dan tetep pake harga diskon (dan yang paling penting, disini kurs USD to IDR masi berkisar di maksimal 10rb-an).
Clarisonic yang saya beli adalah Clarisonic MIA2 edisi ulang tahun sephora 15. jadi selain saya mendapatkan paket clarisonic yang biasa, saya juga mendapatkan pouch clarisonic special edition. Lumayan, dapet tambahan hadiah kira-kira 20USD. Kesan pertama barang ini sampe di tangan saya.
“Kok ini kecil banget ya? Kok bisa mahal sih?”
Pendapat saya ini berubah setelah saya bener-bener megang barangnya. Ternyata itu alat, emang pas di genggaman tangan. Dan pertanyaan saya kenapa bentuknya ala-ala gitar spanyol, kenapa gak lurus aja? Jawabannya adalah karena alat ini digunakan untuk membersihkan wajah secara menyeluruh sampai ke level pori, jadi sering kali tangan penggunanya juga ikutan basah. Lekukan ini mencegah agar produk tidak tergelincir saat digunakaan saat membersihkan wajah. Briliant!
Jika kamu adalah pemula di clarisonic, beberapa hal yang perlu diketahui saat menerima produk ini:
  • Ada 3 bagian utama dari produk ini: Yang pertama adalah head brush (bisa digonta-ganti setelah pemakaian dalam periode tertentu, umumnya 3-4 bulan jika alat nyaris digunakan setiap hari. bisa juga lebih singkat kalo bentuk sikat udah berubah lebih mengembang. ya mirip aja kayak sikat gigi, kalo uda mekar kemana-mana emang udah saatnya kudu beli sikat gigi baru. hal yang sama juga berlaku bagi MIA2 ini). Yang kedua adalah pengaturan kecepatan (normal dan rendah/low) dan yang terakhir adalah plink charger.
  • Untuk pemakaian pertama kali, lakukan pengisian ulang baterai selama sehari penuh (24 jam).  Perhatikan, lampu indikator yang berkedap-kedip itu adalah petunjuk kalau proses isi ulang baterainya berjalan dengan sukses. Kalo lampunya off, then shit happens. Mungkin terjadi masalah di charger-an nya atau di alat utamanya sendiri.
  • Jangan lupa, daftarkan produk ini ke situs resminya di http://www.clarisonic.com (mine is already registered successfully)
  • Sebelum menggunakan MIA2, bersihkan wajah dengan air bersih. Oleskan pembersih wajah di seluruh wajah atau bisa juga dengan mengoleskan facial wash di bulu sikat. Nyalakan Clarisonic sesuai dengan speed/kecepatan yang diinginkan.
  • Clarisonic MIA2 ini adalah versi terbaru dan diclaim lebih baik dari Clarisonic MIA dengan penambahan fitur timer. Timernya sendiri adalah default factory setting dan gak bisa diubah-ubah (20 detik  untuk daerah bagian dahi, 20 detik bagian dagu, 10 detik bagian pipi kiri sampe hidung kiri dan kemudian 10 detik untuk bagian pipi kana sampe dengan hidung sebelah kanan)
  • Bersihkan alat setelah selesai digunakan, tunggu sampe kering sebelum memasukan ke wadahnya kembali.
Setelah pemakaian rutin dalam rentang waktu 3 bulan, maka kesimpulan yang saya dapatkan adalah:
  • Pertama sekali, saya jelaskan jenis kulit saya (normal-berminyak, sensitive dan acne-prone. Yup, sound complicated).  Di post-post saya sebelumnya juga saya jelaskan bahwa saya berjuang mati-matian untuk basmi jerawat di wajah saya. Tak disangka, alat ini gak bikin wajah saya makin berjerawat. Sebaliknya makin lebih baik.
  • Jenis sikat/head brush yang saya gunakan adalah sensitive-brush. Pembersih wajah yang saya gunakan adalah Kose Sekkisei Facial Wash (review soon will be released), SK-II, Kose Junkissui Facial Wash. Ini juga gak bikin break-out. Tapi baca dan diskusi forum lain, ternyata ada facial wash yang lebih murah dan bagus jika dikombinasikan dengan alat ini.
  • Alat ini ternyata emang bener-bener membersihkan wajah! BERSIH-nya berasa banget. Wajah bersih, tanpa kesat.
  • Mengurangi black-head and white-head. Komedo jarang nongol.
  • Struktur kulit makin membaik karena dengan terbuka pori-pori, dengan ilangnya kotoran yang menyumbat. Proses penyerapan skincare dan kandungan di dalamnya oleh kulit jadi lebih gampang.
  • Mengurangi kadar minyak di wajah
  • Walau gak instant, tapi membantu mengurani bekas jerawat.
  • OVERALL, Bagus & Recommended.
Sedikit TIPS bagi yang mau beli:
Jika di antara kalian ada yang mau beli dan mesen alat ini, lakukan di situs online yang bener-bener menjual clarisonic mia2 yang  asli (clarisonic.com, sephora.com, beauty.com, skinstore.com. untuk sementara ini doang yang saya tau entar kalo ada tambahan saya bakalan update). Jangan pernah tergoda beli di online shopping sejenis amazon atau ebay karena godaan harga lebih murah doang (yang konon beda harganya bisa lebih dari 30USD) . Karena saya pernah baca review salah seorang pembeli yang komentar kalau barang yang dia beli adalah palsu. Darimana taunya itu palsu? Pas dicoba di register di clarisonic.com, keluar pesan error bahwa nomor seri tidak terdaftar.
 
 
Advertisements

Review: SK-II for acne-prone skin

First of all, i am not beautiful and not even trying to be, soalnya saya bukan artis or model. The next is semua produk yang saya review disini adalah saya beli dengan duit sendiri, sukur-sukur SKII baca dan kasi gua diskon (gak usa ngomong dikasi gratisan dulu ye. hahaha). Tapi karena saya ada tipikal orang dengan wajah sensitif, acne prone and normal-oily gitu saya udah ngerasain gimana capek berganti-ganti skincare sampe bener-bener nemu yang cocok. kebanyakan skincare yang saya coba, pertama-tama diapply ke wajah pasti kelihatan bagus-bagus aja, tapi tunggu beberapa jam kemudian akan jadi kilang minyak. Beberapa di antaranya bahkan lebih buruk, dalam 1-2 jam uda cukup bikin wajah saya jadi wajan penggorengan.

Kalau di dalam dunia kosmetik dan per-lenongan, saya percaya kalau kulit wajah uda bagus, pake makeup apa aja (bahkan gak pake sama sekali) akan keliatan cantik. Jadi, saya lebih memilih investasi di skincare or skin-treatment ketimbang makeup. Beberapa waktu lalu, saya update mengenai kunjungan saya ke dr.kun. Tetapi seperti yang saya udah pernah tulis di beberapa post sebelumnya, saya berusaha untuk gak lama-lama mentok di satu dokter dan pake krimnya terus-terusan. Jika keadaan kulit saya semakin membaik, biasanya saya uda mulai curang sedikit dan perlahan-lahan melepaskan diri dari ketergantungan obat-obat dokter. Menggunakan produk yang ada di pasaran (baca: bisa dibeli tanpa resep).

Setelah coba sana-sini, kecewa sana-sini, setahun lalu saya coba menggunakan (ini masih tetep treatment dr.kun ceritanya) SK-II. Nah, sekarang mau coba review beberapa produknya setelah pemakaian waktu kurang-lebih setahun

1. SK-II Facial Treatment Essence

SK-II FTE

Ini adalah produk yang jadi best-seller SKII. Bahkan mereka gak segan-segan bilang kalau FTE ini adalah “miracle water” dalam marketing campaign mereka. Teskturnya cair banget, warnanya sedikit putih keruh, dan baunya emang rada aneh. Biasanya saya pake ke wajah setelah cuci muka dan sebelum apply moisturizer (daytime) atau sebelum apply krim malam (night). Karena harganya yang gak murah juga, saya ada sedikit tips nih to worth-every-drop dan jangan terbuang percuma ke kapas. Saya biasa masukin ke spray-bottle gitu trus disemprotin ke wajah secara merata. Selain menjamin cairannya gak akan tumpah atau malah nyerap di kapas, cara ini juga bisa menjamin FTE-nya merata ke seluruh wajah dan leher.

2. SK-II Facial Treatment Clear Lotion

SK-II CL

Ini bentuknya sama juga cair cuma gak memiliki aroma apapun dan warnanya lebih jernih dari FTE. Gunanya ini untuk membersihkan residu makeup atau debu yang nempel di wajah. Cuci muka bersih pake facial wash itu ternyata gak jamin kalau wajah udah sepenuhnya bersih, apalagi yang tipe gampang berjerawat kayak gua. Pori-pori kesumbat dikit aja, pasti bakalan jadi jerawat. Clear lotion ini biasanya diapply seabis cuci muka, pokoknya anytime seabis cuci muka.

3. SK-II Facial TreatmentCleanser

SK-II Cleanser

Bentuknya kayak pasta gitu dan warnanya putih. Buihnya gak terlalu banyak, jadi pas diapply kok kesan cuci mukanya kurang berasa. Mungkin di antara semua produk SK-II, gua kurang suka dengan facial washnya ini. Kenapa? Karena menurut gua kurang berbuih (buih-less malah), jadi kesan cuci mukanya kurang berasa dan kayaknya muka kurang bersih gitu deh. Apalagi kalo tinggal di Jakarta, udah seharian di kantor trus balik kantor kok muka berasa kena debu semua gitu. Untuk sekarang, facial wash saya selingkuh merk. I prefer kose sekkisei facial wash.

4. SK-II Stempower

Bentuknya creamy berwarna putih dan gampang diserap kulit. Menurut SA nya sih pemakaiannya bisa daily dan buat krim malam. Personally, saya pakenya cuma malem doang. Urutannya adalah Facial wash – clear lotion – FTE – Steam power. Ribet yah? I know, but beauty needs effort kan ?! Efeknya di kulit saya, bikin kulit wajah jadi lembut, well-hydrated dan gak bikin muka jadi oily. Kalau lagi ada break-out, jerawat lagi heboh-hebohnya ini steam power bisa bantu ngurangin nyeri dan bantu ngempesin. Salah satu hal yang gak suka dari produk ini adalah kemasannya. For the sake of hygiene, saya memilih dalam bentuk botol pump gitu, gak sering-sering kena campur udara luar.

5. SK-II Facial Treatment Clear Solution

Teksturnya gel, tidak berwarna dan berbau dan dalam kemasan botol pump. Ini adalah daily moisturizer yang cocok buat kondisi kulit berminyak kayak saya. Penggunaannya sedikit tricky, dari beberapa review di internet banyak yang kecewa karena gak merasakan efeknya di wajah mereka. Tapi saya sendiri, saya cukup puas (masi cukup puas lho, artinya saya masi tetep cari daily moist yang bener-bener cocok ke kulit saya). Jadi saat apply ke wajah, wajah itu sedikit dipijat dengan pola circular motion, tunggu beberapa saat sebelum mulai menggunakan foundation, BB or CC cream atau make up lanjutan lainnya. Urutannya facial wash – FTE – Clear Solution. Menurut saya, dibandingkan moisturizer sebelumnya yang pernah saya coba (kose junkisui, murad for acne skin), this one is better.

6. SK-II Cellumination Essence Ex

SK-II Cell Ex

Teskturnya cair dan berwarna broken-white dan berfungsi sebagai serum. Banyak yang nge-review produk ini dan menggunakan daily. Tapi karena harganya emang gak sopan, saya prefer menggunakannya 1-2x dalam seminggu pada malem hari (night cream) setelah mijet-mijet wajah. Urutannya: facial wash – clear lotion – fte – cell ex. Sejujurnya, ini produk SKII trakhir yang saya coba gara-gara racunnya kenceng di dunia review skincare (ditambah lagi saya adalah banci SKII). Ini bikin kulit wajah semakin glowing and trust me, once you have glowing skin you don’t need any expensive make up to make your skin feel better.

7. SK-II Facial Treatment Mask

SK-II FTE Mask

Singkatnya ini bagi saya adalah kayak FTE dalam bentuk masker. Efeknya melembutkan, melembabkan, bikin wajah adem dan kalau yang lagi punya jerawat yang meradang masker ini bisa bantu ngurangin. Lagi-lagi karena masalah harga, I prefer using this for a very special occasion. Paling banter 2x dalam sebulan. Biasanya cuma juga sekali doang. Buy and use this if you have extra cash aja deh.

Overall review, saya cukup puas dengan produk SKII ini dan bagi yang punya kulit wajah seperti saya mungkin bisa cobain juga. Bagi yang mau coba, saya rekomendasiin beli yang tester size (go google yourself)  dan jangan langsung beli yg normal size (kalau cocok sih gapapa, kalau ternyata enggak… well uda beli mahal malah gak kepake).

PS: all the pictures taken from SK-II official site

learned from cockroach (kecoa)

 

Akibat kelalaian saya tadi malem (lupa tutup jendela) sebelum tidur, berkunjunglah seekor kecoa dan hinggap dengan manisnya di televisi. Sejujurnya, saya mending disuruh hadapin client/user di kantor daripada disuruh face-to-face dengan kecoa. Walau saya yakin, kecoa itu juga gak kalah takutnya disuruh hadapin saya.

Karena panik, saya buru-buru keluar dan ambil sapu buat ngusir kecoa tersebut. Saya coba usir pake sapu, eh itu kecoa gak kalah panik dan malah terbang ke atas lemari. Perjuangan belum selesai, saya coba usir lagi dari atas lemari dan kecoanya malah terbang dan masuk ke rak buku. Saya masi tetep berjuang dan ambil pengharum ruangan spray dan nyemprotin itu kecoa (gak punya stok baygon, baunya gak enak). Kecoanya terhuyung-huyung keluar dari rak buku. Saya kirain dia bakalan pingsan, tetapi lagi-lagi saya salah, kecoanya sempat pusing sebentar terus kabur lagi ke atas kulkas dan masuk ke dalam kantung kresek.

(courtesy:http://themetapicture.com/)(courtesy:http://themetapicture.com/)

Perjuangan berakhir, kantung kreseknya buru-buru saya bawa keluar dan buang di tempat semestinya beserta dengan kecoa yang saya yakin pasti lagi kecapean tingkat nasional (cape banget). Proses ini memakan waktu hampir 30 menit. Artinya, dengan suksesnya si kecoa mengurangi jam tidur saya selama 1/2 jam (Sialan… 1/2 jam itu di weekday adalah berkah).

Tapi setelah dipikir-pikir, kecoa itu adalah pejuang tangguh demi hidupnya. Walau bolak-balik dibombardir ama sapu ijuk bahkan cairan pembersih ruangan beracun (Gimana gak beracun, jarak semprotnya cuma 20cm). Mungkin kecoa perlu sesekali berkunjung ke rumah sutradara sinetron stripping Indonesia, jadi mereka bisa belajar. Seekor kecoa yang dianggap cuma sampah aja bisa berjuang demi hidup. Gimana bisa seorang manusia yang dikaruniai akal budi dan pikiran bisa gak punya daya juang buat hidup? Dan salahnya, hal itu dipertontonkan ke sebuah bangsa dengan penduduk 200 juta jiwa.

NB: bagi yang belum tau maksudnya, coba tonton salah satu sinetron stripping di televisi swasta Indonesia dan perhatikan tingkah laku pemeran utamanya (protagonis).

Your love life!

Where your love life really starts – within you !

You simply must TAKE CARE of YOU regularly – because inner happiness is what it takes to get and keep a successful relationship.

When you don’t take care of your own happines, it will take a toll on not just you, but everyone around you – and on your love life too!

One people says, “Happiness attracts. It magnetizes people to you.”

love-love-33115716-500-333

Are you one of those women who goes for days and weeks NOT doing something nice for yourself – such as stopping at your favorite coffee place; taking a long, hot bath; getting your hair or nails looking gorgeous?

What about your body – are you doing things that make it feel and look good, or are you just saving that for later?

There’s so much great FREE information around these days, on the Internet and on TV, and yes, in the library.You can learn so much from the self-help shows on what to wear, how to be more healthy, and how to make your place look great – and so much more.

No time? Then your first job is to simplify your life, right? Sit down and start eliminating everything that is clogging up your time – that doesn’t have to be there. If you don’t make enough time for fun and laughter, and for “treating” yourself, then you’ll soon be a grumpy old hag that no one wants to be around.

When you put yourself first, you’ll be so much better able to help others and enhance their lives and yours too. Everyone in your life will benefit when you take care of YOU.

So control your happiness level by taking good care of yourself and doing things which make you happy – especially when you’re under stress.It’s Sunday – no excuses – make this day a day to rejuvenate YOU – and watch other things start falling into place.

“This world is so hungry and starved for happiness that if you have it, people want to be near you, to let you shine on them.People will feel that you must be special to have a happy life.”

Have a good life, everyone!

catfish

Maksudnya ikan lele gitu? Jawabnya tentu saja bukan.

Jadi berdasarkan hasil google dan wiki Catfish itu adalah sebuah film yang mengisahkan cerita tentang seorang remaja cowo yang menjalin hubungan dengan seorang remaja cewek melalui social media network (Facebook). Lengkapnya mungkin bisa disini

Dalam dunia nyata ternyata hal kayak gini itu banyak terjadi dan beberapa bulan lalu teman saya adalah salah satu korbannya.

Di suatu hari yang cerah di bulan tua belum gajian, tiba-tiba temen saya ini dapet Friend Request dari seorang pria yang ganteng banget. Setidaknya profile picturenya menunjukkan demikian, munafik bagi cewe single buat gak approve. Berawal dari friend request, lanjut ke private message, tuker-tukeran nomer telepon, PIN BB dan sejenisnya. Namanya pedekate intens, day by day hubungan mereka semakin dekat. Pokoknya tiap hari itu can’t live without thinking of you deh.  Iseng cek akun fb nya, eh uda in-relationship. Saya kaget!

Dua bulan setelah jadian, temen saya curhat katanya cowoknya gak seindah yang dibayangkan. Gak terbuka, pelit dan pokoknya segala hal-hal jelek deh yang keluar. Setelah saya korek informasi lebih dalam, kekagetan saya bertambah lagi. Ternyata si cowo yang ngakunya pengusaha ini, dengan rumah yang tersebar di jawa timur dan jakarta ini, serta memiliki tampang ala super junior ini, belum pernah ketemu langsung dengan temen saya. Bahkan untuk sekedar web-cam an juga belum pernah. Tetapi hal paling mengejutkan adalah akun FB yang digunakan buat kenalan dengan temen saya adalah akun palsu !!! Artinya nama, photo, jatidiri semuanya adalah palsu!!

Di jaman sekarang ini, jaman pertukaran informasi terjadi sangat cepat. Orang suka gak filter mana informasi yang bener, mana yang butuh verifikasi. Tapi please, untuk masalah percintaan, romansa dan sebangsanya logika juga kudu jalan. Untuk menghindari si ikan lele berkeliaran cari mangsa, beberapa hal yang perlu diketahui biar gak ketipu.

  • Too good to be true

Ini sih obvious, Gak mungkin orang ganteng/cantik dengan karir dan masa depan yang menjanjikan serta harta berlimpah akan menghabiskan waktu cari jodoh secara online. Yang ada sih orang pada antri kali pengen dijadiin pasangan ama mereka.

  • Please, go google his/her data

Coba cari data orang tersebut di Internet. Kalau hasilnya sangat minim atau bahkan gak ada sama sekali, well… saatnya ambil tindakan pake logika.

Oiya, sekalian woro-woro nih kasi tau. Kalau sekarang kita udah bisa cari data diri seseorang melalui foto. Caranya gampang:

1. Buka sites http://images.google.com

2. Klik pada icon “Camera” dan pilih gambar yang ingin dicari (bisa di-upload atau insert URL doang)

google-image-search

3. Tekan tombol Upload dan Voila, let google finish the job

4. Kalau foto itu nyomot punya orang pasti akan ketahuan.

This works, saya dan temen saya pernah coba.

  • Webcam is a must (in case, kalian gak memungkinkan buat ketemuan)

Hari gini, kalau ada alesan gak bisa webcam an gara-gara gak punya webcamera, duh… aneh banget deh. Rata-rata laptop sekarang dijual uda dilengkapi dengan fasilitas webcam. Okay.. okay, kali aja dia beli laptop jaman batu yang belum dilengkapi dengan webcam, well.. bolehlah bayar 5000/jam buat nebeng webcam di warnet. Kalau tetep gak ada juga, boleh deh minta dia foto diri sendiri sambil megang kertas bertuliskan nama kamu. At least kamu tahu itu orangnya nyata.

At the end, beware of catfish yah! Hidup terlalu singkat buat urusin penipu…

acne treatment: Dr. Kun Jayanata (Moestopo)

Well, hi… uda lama gak menulis sesuatu yang bener-bener berguna bagi pembaca. Ngeliat beberapa halaman ke belakang, kok kebanyakan curhat yah? Padahal saya aslinya gak lebay lho orangnya.

Jadi seperti pemiliki jerawat di seluruh dunia, saya ini orangnya persistent dalam mencoba berbagai alternatif pengobatan jerawat. Mulai dari gonta-ganti skincare sampai dengan ganti dokter juga. Tapi sepertinya penantian saya terjawab di dokter terakhir ini.

Namanya dokter kun djayanata. Buka praktek di daerah moestopo (di seberang kampus Binus Int’l. Deket dengan Senayan City). Awalnya saya mencoba kesini karena ada temen yang rekomendasi setelah ngeliat perubahan yang baik dari temen kantornya.

Well, setelah lelah menghitung jerawat yang semakin merajalela di daerah pipi dan dagu. Akhirnya saya mencoba ke klinik ini. Diantriin jam 5.30 pagi (benar sekali. jam stengah  6 pagi) oleh asisten rumah tangga kosan temen. Saya dapat nomer antrian 29. Jam 12 siang, saya ditelepon oleh pihak dokter kun dan disuruh daftar ulang konsultasi jam 3-4 sore.

Sesampainya disana, langsung daftar ulang dan susternya bakalan ngasih kartu pasien terus disuruh nunggu sampai dokter kun manggil nama kita. Praktek dokter kun ini lebih mirip dengan klinik umum dibandingkan dengan klinik kecantikan. Jadi, jangan ngarep ruangan itu dipenuhi sofa empuk, bunga warna-warni, lukisan indah dan sebangsanya. Benda yang ada di ruang tunggu cuma meja kasir dan penebusan obat (digabung jadi 1), 20 kursi tunggu, 1 buah televisi LCD menggunakan layanan tv kabel berlangganan (tapi selalu bisu. Sepertinya dokter kun ngeset volume tipinya sampe 0), 1 buah dispenser dan beberapa gelas plastik.

Setelah penantian 1 jam lebih, akhirnya saya dapet giliran buat konsultasi. Dokter kun itu orangnya baik dan kita tanya apa aja pasti dijawab ama dia. Di kunjungan pertama saya, dia menyesalkan saya pernah memasuki treatment-ajaran-sesat. Apakah itu? dia menyesalkan ada beberapa bekas jerawat bolong-bolong gitu di daerah pipi. Ternyata, jika jerawat masih dalam keadaan aktif, tidak pernah dianjurkan untuk facial. Facial itu bisa dilakukan untuk wajah bebas jerawat. Untuk kategori wajah saya kmaren, jerawat baru bisa bersih dalam waktu seenggaknya 8 bulan, masalah scars dan sebangsanya akan dikonsultasikan setelah ngeliat progress wajah gua. Bisa jadi disuruh RF, laser atau sebangsanya. Tapi intinya, saya harus telaten dan nurutin ngomongan dokter kun (seperti jangan bolos makan obat, jangan lupa olesin krim dan tetep minum air putih itu wajib hukumnya).

Seperti perawatan di klinik kecantikan lain, saya disuruh cuci muka dan foto. Gunanya untuk dokumentasi dokter dan kita sendiri. Dengan demikian, bisa dilihat perubahan wajah ke arah yang semakin baik. Setelah tanya macem-macem dan dimarahin macem-macem juga. Dokter kun menuliskan beberapa resep.

Tidak seperti di e**a, pengambilan obat gak harus pake ambil nomer antri lagi. Gak beberapa lama kemudian, nama saya dipanggil. Untuk kunjungan pertama, saya diharuskan beli antibiotik (untuk 2 minggu pertama), obat minum (30 butir), krim malam III, krim pagi I. Untuk facial wash, dokter kun gak maksa harus pake produknya dia. Selama kita masih pake facial yang non-scrub, masi bisa diterusin.

Kunjungan kedua saya dijadwalkan 4 bulan setelah kunjungan pertama. Ini bikin saya sedikit shock. Karena setelah coba 3 klinik sebelum dr kun, semua pasti bilang saya harus konsultasi tiap bulan. Which is bikin kere. Untuk kunjungan pertama ini, biayanya kena 600rb an. Untuk beli obat di bulan berikutnya sampai ke jadwal konsultasi selanjutnya, bisa dilakukan secara online. Tinggal telepon dokter kun, trus transfer duitnya udah deh… obat dianterin sampe ke rumah.

Overall testimonial dari saya, dari semua dokter kulit yang pernah saya coba. Saya paling puas dan seneng dengan dokter kun. Dari awal dia bilang gak akan kasil hasil instant (*lirik-klinik-sebelah* yang dalam waktu 1 bulan bikin jerawat ilang tapi setelahnya bikin kulit wajah makin tipis dan sensitif. Belum lagi anjuran facial dan sebangsanya). Obatnya juga tergolong gak mahal (bukan berarti murah juga yah).

Finally, bagi yang mau cobain dokter kun. Ini beberapa tips dari saya:

  1. Jangan pede dateng konsultasi tanpa antri. Bakalan sia-sia dan gak dilayani. Antriannya juga kudu dateng ke sana dan daftar di pos satpam (please, don’t do phone-registration. You just waste your time and your money)
  2. Jangan makeup-an! Plus come there with bare-face. Biar dokter kun nya bisa ngeliat tingkat keparahan jerawatnya kita.
  3. Obat minum (berupa pil) dari dokter kun ini bikin bibir cepat kering dan terkelupas. Jadi, butuh minum air putih yang banyak dan jangan lupa olesin lipbalm (don’t use your saliva, it will get worse)
  4. Dari pengalaman gua disana, hasil treatmentnya keliatan setelah bulan ke-3. Di bulan 1-2 bahkan bikin purging dan kulit saya makin menghitam. But that’s it. Setelah memasuki bulan ke-3, Voila! berangsur-angsur komedo berkurang, jerawat ilang, kadar minyak berkurang.
  5. Ikutin aja nasehat dokter kun.
  6. Wait for the next update yah! Lagi bikin appointment buat RF nih buat ngeratain scars di pipi.

Sedikit update-an nih soal antri-mengantri. Sekarang untuk antri itu harus dilakukan sendiri (nitip ke orang terdekat boleh juga) disertai dengan KTP/SIM. Jadi, untuk beberapa informasi di Internet yang bilang kalo untuk antri bisa pake calo, sekarang udah gak bisa lagi. I know, sedikit nyebelin dan nyusahin, tapi beauty needs effort lho ladies.

Untuk yang penasaran skincare routines after dokter kun, mungkin bisa cek postingan saya yang ini:

1. Clarisonic MIA2 Review

2. SK-II for Acne Prone Skin

Hi Ladies,

Untuk yang ikutin blog ini dan penasaran gimana sekarang keadaan di praktek dokter kun, ada update-annya lho. Please visit yah:

Updated: Review Dokter Kun

Good luck, ladies!

dompet gue ilang !

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan pengalaman berharga dari kisah “kembalinya dompet saya yang hilang”.

Setelah makan siang yang cukup menarik di salah satu restaurant franchise di seputaran serpong dengan seorang rekan sekantor, kita memutuskan parkir di daerah benton junction.Nah, dengan langkah mantap dan pede, saya bawa semua perlengkapan saya dari mobilnya doi. Ada dompet, hp, botol minuman, dan beberapa pretelan kecil lainnya. Beberapa langkah menuju pintu utama kantor, tiba-tiba saya sadar
“Oh Gosh! dompet gue ilang!”

dompetnya mirip begini, cuma beda warna dan motif doang

Dengan gaya panik level dewa, saya otomatis berjalan balik menyusuri jalan yang saya sudah lewati sebelumnya. Menunduk untuk ngeliat bagian bawah mobil di parkiran dengan asumsi siapa tau dompet saya ketendang orang malah masuk kolong mobil. Bertanya ke setiap orang yang ada di sana apakah ada melihat dompet kececer dan sebagainya. Sebenernya pertanyaan basa-basi banget sih, hidup di Jakarta itu susah nemuin orang jujur yang bakalan mau balikin barang yang tercecer. apalagi sebuah dompet dengan beberapa helai uang di dalamnya.

Setelah menghabiskan waktu 1/2 jam lebih akhirnya saya menyerah dan gak ada yang bisa saya lakukan selain blokir semua kartu kredit yang saya miliki, menyesal dan merutuk di dalam hati serta berjanji pada diri sendiri bahwa ini gak akan terulang lagi. Ikhlas mungkin adalah pilihan terbaik saat itu. Terbayang sudah rasa capek yang bakalan saya jalanin, urus KTP, antri di bank buat bikin ATM baru dan segala jenis tetek bengek akibat kehilangan dompet. Tapi sebenernya yang paling saya sayangkan adalah dompet itu sendiri. Yup, saya sangat menyukai dompet warna taupe dengan corak croco hasil berburu sale di sebuah mall beberapa bulan yang lalu.

Beberapa jam setelahnya…
Saya pulang kantor seperti waktu biasa, dengan meminjam duit dari teman. Saya akan terus minjem sampai kartu ATM saya kembali dan rekening saya normal lagi. Tiba-tiba dari luar pintu mobil (saya nebeng sodara, belum punya mobil), petugas parkir menghampiri saya dan menanyakan apakah saya ada kehilangan sesuatu. Benar saja! dompet itu ada di dia tanpa kurang suatu apapun. Persis seperti terakhir saya menjatuhkannya!. Dengan ekspresi senang yang tak dibuat-buat, saya mengucapkan terimakasih dan memberikan sedikit rejeki buat si bapak yang luar biasa jujur itu.

Dari cerita hari itu, selain bahwa saya harus lebih hati-hati dalam menjaga dompet dan segala isinya. Saya juga belajar, sesuatu akan kembali kepada kita dengan caranya sendiri jika memang belum saatnya dia lepas dari kita. Walaupun saya udah menyerah, saya udah ikhlas, dan bahkan saya udah memasuki tahap melupakan, tetapi pada akhirnya dia kembali juga karena takdir dan semesta menghendaki demikian.

Have a good day everyone!

curhat : odontectomy (operasi geraham bungsu)

Apa itu? well, kalau dari hasil googling. Odontectomy adalah

Removal of teeth by the bending back of a mucoperiosteal flap and excision of bone from around the root before the application of force to remove the tooth (source)

Kalo bagi saya pribadi: sakit tak terkatakan dan diet super cepet !

Nah, ceritanya ini berawal dari beberapa minggu lalu dimana saya merasakan sakit yang teramat sangat di geraham kanan bawah dan efeknya sampai ke telinga dan leher. Bahkan untuk menelan saja terkadang susah. Karena saya tipe yang malas berurusan dengan dokter, maka saya hanya mengkonsumsi painkiller saja (saya memilih cataflam 50). Tapi, namanya painkiller, ya efeknya cuma temporary doang. Saat dikonsumsi dan setelah beberapa jam, sakitnya hilang. Kemudian, balik lagi nyut-nyutan.

Akhirnya saya menyerah juga dan memilih mengunjungi dokter gigi. Waktu itu, saya coba konsultasi ke drg.Indah di RS. Mitra Kemayoran. Setelah dicek sekilas, dia merekomendasikan saya untuk melakukan foto panoramik. Di RS. Mitra Kemayoran sendiri, foto panoramik ini sendiri dikenai biaya Rp.140.000. Karena saya datangnya cukup pagi, proses ini sendiri hanya memakan waktu 20 menit, dari registrasi – menerima hasil foto.

Dari sana, saya kembali lagi ke poli gigi. Dokternya lihat hasil fotonya dan akhirnya rekomendasi pengobatan yang dia berikan di luar dugaan saya : “Ehm, bener ini giginya. Kamu harus dioperasi nih. Kalau enggak bakalan sakit terus”. Kalau mau dijelaskan dengan gambar yang nyata, maka kira-kira beginilah keadaan gigi saya sebelum operasi (gigi geraham bungsu mendorong gusi dari dalam, pada akhirnya menyebabkan gusi meradang).

bagian gigi yang terkena impaksi (courtesy: klikdokter.com)

sedangkan gambar berikut adalah hasil foto panoramik dari lab:

bagian gigi yang terkena impaksi (bawah: operasi, atas: cabut)

Kemudian dia menuliskan surat pengantar operasi dan meminta saya untuk melakukan appointment sendiri. Saya sempat konsultasi dengan doi tentang kondisi gigi saya tersebut. Kesimpulannya, penyebab gigi saya sakit adalah akibat tumbuhnya geraham bungsu di bawah gusi yang mengakibatkan gusi meradang. Berhubung ini geraham bungsu, tidak seperti gigi susu, belum tentu gigi tersebut akan tumbuh menembus gusi. Jadi, kemungkinan dia tetap di bawah gusi dan menimbulkan rasa sakit itu sangatlah mungkin. Kalau istilah kerennya di dunia kedokteran, gigi saya mengalami impaksi bony vertical impaction (impaksi karena desain rahang dan syaraf sehingga ada gigi yang separuh atau bahkan seluruhnya tertahan dalam gusi). Kira-kira begini gambarannya:

bony vertical impaction (courtesy: animated-teeth.com)

Di luar impaksi, gigi geraham bungsu bisa tumbuh normal apa adanya walaupun ternyata tidak berguna juga (selain hanya menambah jumlah gigi doang) karena informasi dari dokter gigi yang saya dapatkan, makanan yang kita kunyah itu tidak selalu melibatkan geraham bungsu. Efek yang ada, hanya menambah kotoran di gigi doang, sedangkan kebanyakan sikat gigi yang beredar akan sulit mencapai titik tersebut (belum lagi kalau orangnya tipikal manusia yang tidak menikmati saat-saat menggosok gigi).

Pada akhirnya, saya mengalah dan mengikuti pesan dokter untuk melakukan odontectomy.
Operasi sendiri saya lakukan di RS.St.Carolus. Pertimbangannya adalah biaya. Di sana lebih murah dibandingkan dengan RS. Mitra Kemayoran. Untuk biaya odontectomy ini sendiri, kisarannya beragam. Dari 3 juta lebih, tergantung rumah sakit dan tingkat keparahan gigi (karena pasti ngaruh juga ke effort sang dokter bedah). Untuk biaya operasi yang saya lakukan ini, total biaya yang saya keluarkan adalah 4.3 juta. Termasuk operasi gigi geraham bungsu kanan bawah, cabut gigi atas (dengan komplikasi berat), biaya anestesi dan obat.

Drg yang melakukan operasinya adalah Drg. Thomas SpBM. Saya membawa hasil foto panoramik gigi saya dan surat pengantar dari drg. Indah. Saya melakukan appointment di sabtu pagi & dapat jadwal operasi senin pagi. Senin pagi, sesampainya disana … basa-basi sedikit dan akhirnya saya disuruh mangap. Dicek sebentar dan dibandingin dengan hasilfoto panoramiknya dan ternyata … gigi yang dicabut harus sepasang (geraham bungsu kanan atas dan bawah).

Kenapa ?
Karena ternyata kalau cuma gigi bawah yang dioperasi tanpa disertai gigi atas, maka gigi tersebut akan melukai dan tidak menutup kemungkinan menyebabkan gigi di seberangnya menjadi infeksi dan hal itu kelihatan nyata di gigi saya. Gusi geraham kanan bawah sudah meradang. Makanya tidak heran kalau efeknya terasa banget di saraf leher dan telinga.

Sejujurnya saya takut dan gak santai, bahkan saking takutnya saya baru bisa tidur jam 2 subuh (operasinya sendiri adalah jam 9 pagi di hari yang sama).
Saya disuruh rileks di kursi dokter gigi, disuruh rileks dan doa kemudian mulailah hal-hal mengerikan berdatangan. Berhubungan saya penakut, saya minta wajah saya ditutup kain saja, saya gak mau melihat benda-benda apa saja yang akan dimasukkan ke dalam mulut saya atau berapa jumlah darah yang sudah terbuang. Operasi odontectomy ini adalah operasi lokal (bagian mulut dan gigi doang), maka biusnya pun dilakukan secara lokal. Tapi tetep aja ya cin, bagian mulut dan gigi itu sensitif jadi masih dibius saja udah cukup membuat saya ketar-ketir.Ada beberapa lokasi yang dibius, tapi yang paling menyakitkan adalah bius di langit-langit mulut. Waktu saya operasi kemarin, ada 4 kali suntikan bius. Setelah kira-kira 10 menit saya dibius, mulailah saya merasakan pisau bedah, pingset gigi, sampai bor menari-nari di dalam gigi saya. Operasi diakhiri dengan menjahit bekas gusi yang dibedah, saya cuma sempat ngintip sedikit bagian ini doang, abis itu merem lagi. Kan gigi saya ada di bawah gusinya, jadi gusinya harus dirobek sedikit dulu untuk bisa mengeluarkan giginya. sakit ? gak donk … kan udah dibius (jangan ngebayangin dalam keadaan gak bisa dibius, bisa ngilu seluruh tubuh).

Setelah gigi bawah dioperasi, giliran yang bagian atas, Karena gigi tersebut sudah numbuh maka tidak perlu dilakukan operasi, hanya cabut gigi biasa saja. Kira-kira 40-60 menit operasinya selesai dan saya diberikan casa gigi untuk ditempelkan di daerah bekas operasi dan cabut gigi. Saya senang operasi ini berjalan sukses, semoga saya gak menderita sakit gigi yang mengenai syaraf lagi. Pesan saya bagi yang ingin melakukan odontectomy adalah:

  • Percayalah kepada dokter gigi dan bedah mulut. Mereka pasti merekomendasikan yang terbaik buat kita.
  • Kalau boleh dapatkan appointment di antrian pertama. Jadi gak perlu denger-denger jeritan mengerikan di antrian sebelumnya (ini bisa makin bikin takut lagi).
  • Setelah selesai operasi, jangan lupa mengkonsumsi obat antibiotik dan painkiller yang biasa sudah diresepkan dokter setelah selesai operasi (jadi jangan terlena di operasinya, sampai lupa untuk menukar resep dokter).
  • Istirahat yang cukup
  • Kurangi aktifitas yang melibatkan mulut dan gigi (beberapa hari setelah operasi, saya mengkonsumsi makanan cair)
  • Jangan kumur-kumur dan meludah (seenggaknya sampai minggu pertama dan bekas jahitan dibuka)
  • Di beberapa kasus (termasuk saya), mungkin di hari pertama setelah operasi darah masih mengucur (tenang aja, sedikit kok) dari daerah bekas pembedahan. Untuk menguranginya, kita bisa minta cadangan casa gigi atau mengompres daerah pipi (atau daerah lain di sekitarnya) dengan es batu. Lakukan maksimal 10 menit. Hal ini cukup membantu proses pembekuan darah.
  • Akhir kata, emang operasi ini sakit. bikin pipi bengkak berhari-hari, susah mangap (apalagi makan), bagi saya sendiri sampai susah nelan. Tapi bukan jadi akhir segalanya..

PS: post ini semata-mata saya tulis dari pengalaman seorang awam yang melakukan odontectomy. Sekedar berbagi buat siapa saja yang berniat melakukan odontectomy. Jadi, jangan lakukan konsultasi gigi dengan saya. Finally, thanks for reading..

skincare review : kose junkisui

Still hard to think after changing some of my make stuff and spend much money on it (my version), i don’t get the result as I expected. A few months ago, after giving up on one of skincare product (i already gave you the review). I started to use a KOSE – junkisui series. I was confused in the beginning to choose between biotherm or kose, but as one of my friends told me that biotherm will make my face skin peeled off then I choose the KOSE. Consider that it is made in Japan (located in Asia continent, the same continent as Indonesia. It makes me think that “okay, i think we do have some climate and weather and the Japanese skin structure is similar with Indonesian people”. Don’t ask me from where I can get the theory. it is pure my personal assumption.)

junkisui series (courtesy: tensukemarket.com)

So, here the story goes …

I went to a make up store, consulted with the expertise there to choose the best product for me and then the conclusion comes to “kose-junkisui”. another “famous” series from kose is “sekisei”. But sekies series is dedicated for them who wanna get skin englightment. I pick all the product series. There are four of them and all of them cost more than USD 100. I just love the face lotion one and the others are rubbish. There’s no significant difference I got thru that products. Let me make the review of this product

1. Kose Junkisui – Facial Wash

I think, this is good (since you don’t know the price). it cost US$ 23. the products promise you to make your face shiny with the oil controlling power. After one month usage, i found my face is still in oily condition. Unfortunately, eventhough some said that this product is good but it doesn’t work for me.

2. Kose Junkisui – Mosturizer

I think this is the best from this series. Compared to my previous skincare, this product can reduce the oil in your face but still does not give you any guarantee to vanish them all. It cost US$35 for 120 ml.

3. Kose Junkisui – Refreshing Toner

First impression of this product is it smeels good, it is so herbal. It cost US$ 35. You apply this unto your face after washing it first. Put a little of this toner into your cotton face and apply it on your face smoothly. Some said this is good product, but still i found my self feel dissapointed that this product does not work for me.Actually it will clean your face (as every toner does), but does not give you any result to reduce the oil on your face.

4. Kose Junkisui – Refreshing Spots Serum

It costs US$30 and it doesn’t even dry your acne. Still, I feel dissapointed with this product. I never recommend this product to anyone anytime. Better use your money for something useful, but big no for this products.

From 5 scale, this product only gets 2.5 (middle)

sotoy

Karena menikah, bukanlah sebuah prestasi keren …. ~ Tiga Venus by Clara Ng

Well, walau saya tidak menyukai ini tapi terkadang saya menyerah dan menyetujui bahwa terkadang beberapa wanita adalah mahkluk paling lebay di dunia ini. Bukan tidak beralasan juga saya mengungkapkannya. Cerita ini diawali, beberapa hari lalu seorang teman (teman lho, bukan sahabat … artinya teman = hanya kenal seperlunya dan tidak mengetahui detail kehidupan saya. singkat kata, hanya kenal saya sedikit tapi memiliki level sotoy yang luar biasa).

Ok, saya sekarang menyandang status single dan so far, i enjoy my life. It means, kalau saya merasa nyaman dengan hidup saya, saya tidak menuntut terlalu banyak dari orang lain selain hargai saya saja. Nah, kembali ke si teman ini … akhirnya mulailah dia dengan maksud “perjodohan” antara saya dengan seorang kenalan dia (sotoy nomor 1. karena saya tidak pernah meminta dia untuk mengenalkan saya ke seorang pria). Awalnya saya menanggapi dengan baik dan sopan serta tidak menjanjikan apapun kepada dirinya. Bagi saya jika berkenalan dengan orang baru, saya selalu bersikap terbuka dan positif. Jika memang pada akhirnya cocok, maka persahabatan atau masa pacaran terjalin tetapi jika juga pada akhirnya menemui jalan buntu, berteman juga bukanlah pilihan yang buruk.

Entah setan apa yang merasuki teman saya ini, pada akhirnya saya mendapati diri saya terlalu direcoki terlalu dalam karena dia seakan keberatan dengan ide saya tersebut. Inti di otaknya itu cuma satu “kami harus jadian”, tentu saja saya tidak menyukai ide ini. Saya mikir “siapa lo bisa nge-push gue?”. Mulailah dia mengeluarkan jurus sotoy nomor 3 dengan menyebut saya orangnya susah diajak berteman, terlalu tertutup, terlalu mandiri dan merasa bahwa hidup sendiri itu adalah hal terbaik yang bisa saya dapatkan.

Dengan emosi tertahan saya mengatakan kepada dia untuk tidak terlalu mencampuri urusan saya dan mengeluarkan jurus sotoy berikutnya. Jika dia merasa saya begitu dan susah untuk berkenalan dengan orang lain, harusnya masalahnya simple donk? tinggalkan saja saya dan cari wanita lain yang mungkin mulai memasuki tahap “kebelet nikah”. Kenapa dia harus membuang waktu, tenaga (dan juga pulsa) untuk membujuk saya yang konon katanya “berkepala batu dan berhati baja” ?.

Dia mulai bercerita bagaimana dia merasa terbantu setelah memiliki pacar (red: cowok membacanya: dimanfaatkan). Saat dia sedang lembur, maka cowoknya akan menjemputnya, saat dia ingin jalan-jalan, tentu saja sang pria akan datang untuk mengantar dan menjemputnya. Belum lagi, betapa bahagianya saat cowoknya kadang mentraktirnya atau membelikan sepasang sepatu, dan yang terakhir sepertinya cowoknya benar-benar serius dengannya karena beberapa bulan yang lalu pria tersebut mulai mencicil sebuah apartemen di daerah pinggiran kota.

Setelah merasa cukup lelah dengan caranya, dia mulai mengeluarkan jurus sotoy berikutnya yang mengatakan bahwa “semua temannya (bukan teman gue) yang menikah dan memiliki anak adalah manusia paling bahagia di muka bumi ini”. Sehingga, setiap kali dia menerima undangan pernikahan dia selalu membayangkan alangkah bahagia tak terbatas jika dia segera dilamar, menikah, memiliki anak dan tinggal di sebuah rumah yang asri serta dikelilingi tetangga yang menyenangkan dan ramah luar biasa. Kalau diteruskan mungkin cerita itu akan menjadi begini “kami memiliki villa di puncak dan setiap minggu anak-anak kami akan berlari di taman beserta anjing pudel kesayangan keluarga. dari arah belakang rumah akan tercium bau kambing guling yang menggugah selera serta bla-bla…bla .. !”

Saya tidak ingin memuntahkan teori dan angan-angan dia. Bagi saya hidup adalah apa yang kita rasakan, kita hadapi dan bagaimana respon kita terhadap rangkaian kejadian dalam hidup kita. Menjadi seorang lajang di tengah ibukota jakarta ini bukan menjadi nilai mati bahwa saya tidak pernah bahagia dan menikmati hidup saya. Sebaliknya menjadi seorang istri/suami/ayah/ibu juga bukanlah menjadi nilai mati bahwa mereka selalu bahagia dan tersenyum seakan semesta ini tercipta buat mereka saja. Kita hidup di dunia dengan segala macam permasalahan, rejeki dan komponen-komponen kehidupan lain dalam rentang waktu 1×24 jam, serta siklus 365 hari dan seterusnya. Hal yang baik yang bisa kita lakukan adalah bagaimana setiap hari itu, dengan berbagai cerita dan kemelut di dalamnya, membuat kita menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi dari hari kemarin dan mengajarkan kepada kita hal-hal baik, tanpa memandang apa status sosial dan jenis peran yang kita jalani dalam suatu komunitas.

Terkadang saya tidak habis pikir beberapa orang yang mengaminkan formula seperti ini, SINGLE = VIRUS = MEMATIKAN. Seakan-akan hidup menjadi lajang itu harus segera diakhiri sebelum mulai berkembang dan mewabah. Selama single itu masih mengikuti norma yang berlaku di masyarakat/agama, tidak mengganggu pasangan orang lain maka harusnya dipandang sebagai mana seharusnya dia dipandang.

Bukan berarti tulisan ini saya mengatakan bahwa saya begitu memuja dan mengagungkan hidup melajang, i don’t mean that. Saya masih percaya bahwa suatu hari nanti, dengan caranya sendiri saya akan menemukan seseorang yang disebut “jodoh”. Saya hanya tetap perlu tetap mencari dan membuka hati saya. Dan satu lagi, masalah jodoh seseorang adalah termasuk masalah pribadi seseorang, antara pribadi dia dan pasangannya. Bukan menjadi konsumsi publik. Terkadang ada saatnya juga kita bisa menghargai keputusan seseorang yang enggan membagi cerita romansanya. Terlihat sendiri juga bukan berarti tidak ada pasangan bukan ?

Kembali saya comot kata-kata favorit saya (see my last two posts)
“Setiap kita pribadi hidup di bumi memiliki hak dan kewajiban, sudah menjadi tugas kita untuk mencari kebahagiaan di kehidupan yang singkat ini walau dalam bentuk sekecil apapun”